When I’m Stop Ignoring You 3

when-im-stop-ignoring-you-by-naifahmp-from-nana

Cast: Park Chanyeol

          Jung Seun Mi / Sarah Jung

          Others

Genre: AU, Romance

Leght: Chaptered

Author : naifahmp

Inspired by

A Walk To Remember – Nicholas Sparks

FanFiction ini tercipta dari imajinasi saya. Jadi saya akan sangat menghargai orang-orang yang tidak meng-copas karya saya ini.

It’s just a story so enjoy it^^

***

Park Chanyeol POV

“Jadi.. bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Sarah?”

“Hubungan? Memangnya apa hubunganku dengan Seun Mi?”

“Seun Mi?” Baekhyun menngerutkan kedua alisnya. Oush aku salah bicara

“Uhm.. Maksudku Sarah. Ya Sarah, hehehe” ucapku sambil menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal

“Bilang saja hubunganmu dengan Sarah memang sudah dekat. Jadi kapan jadiannya?” Tanya Kris

Aku menarik napas sebentar “Siapa yang dekat dengan Sarah? Jangan ngaco deh kalian berdua”

“Idih dia marah, hahaha. Kris lihat mukanya merah begitu hahaha”

“Kalian berdua kenapa sih? Siapa coba yang mukanya merah? Jangan bercanda!”

Aku menelan suapan terakhir nasi gorengku lalu mendorongnya ketengah meja. Bokongku sudah terangkat setengah saat aku menurunkannya kembali karna melihat Seun Mi berjalan kearahku, atau setidaknya berjalan kemeja yang ada didepanku.

Hidungnya masih terlihat merah walaupun tidak semerah tadi pagi. Mata sendunya seperti biasa selalu terfokus pada layar handphonenya.

“Jangan dilihat saja Chanyeol-i sapa dong!”

Aku mendelik kearah Baekhyun apa sih maunya anak ini?

“Kau bakalan menyesal loh kalau keduluan sama namja lain” ucap Kris

“Ayolah, aku tidak ada apa-apa dengannya. Jadi berhenti berkata seperti itu” ucapku lalu beranjak keluar dari kantin.

Kenapa aku bisa menyukai yeoja itu sih?

***

Sarah Jung POV

Kalau dia sendiri yang memintaku untuk melakukan hal itu, aku bisa berbuat apa? Mungkin memang saatnya aku untuk move on. Lagian, untuk apa juga aku menyiksa diriku sendiri untuk seseorang yang sama sekali tidak pernah memandangmu?

Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah bertemu dengannya dan itu adalah hal bagus karna itu berarti aku tidak pernah memikirkannya. Oke, aku memikirkannya tapi hanya ‘sedikit’ dan itu sudah suatu kemajuan yang sangat baik.

Aku memejamkan mataku sebentar sambil terus tetap berjalan. Sepagi ini aku sudah merasa mengantuk? Padahal waktu tidurku lumayan cukup, sekitar 5 jam. Serius, 5 jam itu sebenarnya sudah ‘cukup’ bagiku meskipun pada siang hari aku merasakan kepalaku akan terasa sangat pusing tapi itu sama sekali tdak masalah.

Aku membuka mataku dan mendapati sosok jangkung yang mengenakan jaket biru tua berjalan tidak jauh didepanku. Ayolah, kenapa sepagi ini aku harus bertemu dengannya? Kenapa aku harus bertemu dengan Chanyeol? Dan kenapa hanya dengan melihat punggungnya saja aku sudah tahu kalau itu dia? Mengenaskan.

Waktu istirahat, aku, Jinri dan Nari menghabiskan waktu dikantin dengan memakan nasi goreng kimchi. Dan kenapa saat pulang aku harus melihat Chanyeol sedang membeli minuman bersama Kris? Jinri mulai tersenyum tidak jelas padaku sepertinya dia juga melihat Chanyeol.

Pelajaran fisika dan aku mulai tidak terlalu fokus karna rasa kantuk yang kurasakan semakin membuatku ingin tertidur. Bodoh sekali , harusnya sewaktu dikantin tadi aku membeli sekaleng latte bukannya membeli softdrink.

Tanpa sadar tanganku sudah membuka galeri foto dihandphoneku dan mendapati foto Chanyeol yang berlatar pantai yang ada di Jeju dilayar handphoneku. Aku hanya sempat melihatnya sekilas lalu kembali fokus pada rumus-rumus yang sudah terukir indah diwhiteboard kelasku.

“Sarah” bisik suara disampingku

“Hmm?” tanyaku tanpa memandanginya

“Pinjam handphonemu sebentar untuk meng-sms Jongin, aku lupa bawa handphone” bisiknya lagi

Dengan malas kukeluarkan handphoneku dari saku seragamku lalu memasukkan kata kuncinya. Tanganku sudah setengah melayang untuk memberikan handphoneku pada Jinri saat aku menatap apa yang terpampang dilayar handphoenku. foto Park Chanyeol!

Sebelum tangan Jinri mengambil handphoneku aku kembali menarik tanganku yang sudah setengah melayang lalu keluar dari galeri foto secepat yang aku bisa.

“Tidak usah malu seperti itu Sarah, hal seperti itu wajar kok” ucap Jinri sambil mengambil Handphoneku

Sialan!

“Annyeong Sarah-ssi”

“Annyeong Baekhyun-ssi Kris-ssi”

Aku bertemu Baekhyun, Kris dan tentu saja Chanyeol walaupun hanya dia yang tidak menyapaku. Ia terlalu sibuk mengobrol dengan Chen tentang. . entahlah One Piece mungkin.

“Sarah-ssi pulang sendirian?” tanya Baekhyun

Ne,” aku melirik kearah Chanyeol dan sesuai dugaanku ia sama sekali tidak melihatku dan masih sibuk mengobrol dengan Chen. “Aku duluan Baekhyun-ssi Kris-ssi. Sampai jumpa”

“Ne, sampai jumpa Sarah-ssi”

Aku berjalan dengan cepat melewati mereka. Bodoh! Kenapa rasanya sakit sekali saat Chanyeol tidak memandangiku walaupun sebenarnya aku sudah tahu dia akan begitu? Sepertinya wajahnya itu akan kembali terus muncul dalam kepalaku. Dan itu berati usahaku untuk move on akan semakin sulit.

***

Park Chanyeol POV

Sudah seminggu lebih. . . kenapa aku merasa sangat gelisah? Semua ini karna Jung Seun Mi. Tiba-tiba saja aku merindukan sms darinya. Meskipun itu di forward ke yang lainnya dan bukan hanya untukku. Tiba-tiba saja aku merindukan wajahnya yang rasanya tidak akan pernah membuat orang bosan jika memandanginya terus menerus.

Aku membuka akun twitterku dan membuka profile Seun Mi. Jadi aku hanya bisa memandanginya avatarnya sampai puas? Pose sederhana, hanya tersenyum dan sedikit memiringkan kepalanya kearah kamera.

Harus sekarang, kalau tidak aku pasti akan gila. Baru kali ini aku merindukan seseorang sampai aku tidak bisa fokus melakukan sesuatu karna terus memikirkannya. Bel pulang baru saja berbunyi dan aku harus segera kekelas Seun Mi, kumohon semoga dia belum pulang dan masih ada dikelasnya.

“Aku duluan Baekhyun-ah Kris” ucapku lalu dengan cepat berjalan keluar dari kelas tanpa berbalik lagi. dua kelas lagi dan aku sudah akan sampai dikelas Seun Mi, tapi aku sama sekali tidak melihatnya.

Itu dia! Hari ini ia mengikat ekor kuda rambut hitam legamnya dan mengenakan headphone tentu saja. Ia mulai berjalan sambil matanya terfokus pada sebuah novel yang sedang dipegangnya.

“Seun Mi-ssi!” ucapku sambil berlari menyusulnya. Langkahnya lebar juga.

Ia sama sekali tidak mendengarku memanggilnya dan masih terus berjalan. Aku jadi heran, cara jalannya begitu tenang dan terlihat santai namun bisa melangkah secepat itu.

“Ya! Seun Mi-ssi” sekerang jadi giliranku yang memanggil-manggil namanya.

Ia berhenti melangkah lalu menoleh kekiri dan kekanan. Ia memiringkan kepalanya untuk berpikir mungkin dan mengangkat kedua bahunya lalu kembali berjalan. Ia langsung berhenti saat aku menepuk bahunya dari belakang. Dan kalian harus lihat bagaimana mata bulatnya itu melebar saat mengetahui akulah yang menepuk bahunya.

Ia melepaskan headphone biru yang dikenakannya dari telinganya “Ne?” tanyanya

“Kau sendirian?” tanyaku

“Seperti yang kau lihat” jawabnya

“Errr…” kenapa jadi susah ngomong begini?

“Bagaimana kalau kita pulang bersama?” tanyaku

“Kita? Kau dan aku?” tanyanya dengan wajah terkejut sambil menunjuk diriku lalu dirinya

Ne, Kau dan aku. kau mau?”

Ia hanya terdiam dan menatapku sambil tersenyum. Ayolah bicara, senyummu itu malah membuatku merasa kan hal aneh. “Kau masih punya waktu untuk pergi dari hadapanku.”

Mwo?”

“Aku bilang kau masih punya waktu untuk lari sebelum aku menjawab tawaranmu”

Apa yeoja ini sedang kerasukan sesuatu? Biasanya dia yang selalu minta diantar pulang, kenapa sekarang malah menyuruhku untuk lari.

“Ayolah Seun Mi-ssi, aku serius”

Jinjja?”

“Apakah aku terlihat sedang berbohong?” tanyaku dengan gusar

 Sekali lagi ia hanya tersenyum menatapku. “Kau kehilangan kesempatan terakhirmu”

Kesempatan terakhir? Kesempatan pertama saja aku belum menggunakannya dan lagian kesempatan apa yang dimaksudnya? Aku rasa dia memang sedikit sinting. Daripada dia berbicara semakin tidak jelas akhirnya aku mulai berjalan sambil menarik tangan kanannya dengan perlahan

Aku tidak tahu apakah dia marah atau tidak karna sekarang aku menggenggam tangannya, tapi karna ia tidak melepaskan tangannya dari genggamanku mungkin saja ia tidak marah.

“Aku bisa jalan sendiri kau tidak perlu menuntunku”

Aku menatapnya yang juga sedang menatapku dengan wajah datar dan pipinya yang terlihat merona merah. Kali ini aku yang hanya diam dan menatapnya sambil tersenyum. Dan karna merasa belum puas, aku semakin mengeratkan genggamanku padanya.

“Ish” desisnya

Hahaha, kena kau!

Kami sudah dekat dengan parkiran motor namun sedari tadi dia hanya diam. Padahal biasanya ia sangat cerewet saat bersama dengan teman-temannya. Aku tersenyum sendiri, apa dia malu? Atau marah?

“Kau sakit jiwa ya? Dari tadi senyum-senyum sendiri sekarang malah pasang muka bingung”

Aku menoleh kearahnya yang sedang menatapku dengan pandangan herannya “Kau marah?”

“Marah? Tidak, kenapa kau bertanya begitu?” jawabnya sambil menggelengkan kepalanya

 Aku hanya tersenyum dan mengacak-ngacak poninya “Tidak apa-apa”

“Kau membuat poniku berantakan tau!” ucapnya sambil memperbaiki poninya yang memang sedikit acak-acakan sekarang. Mungkin aku salah lihat, tapi wajahnya yang tadi hanya dihiasi semburat merah tipis sekarang berwarna merah seperti apel.

“Chanyeol-i, Sarah-ssi”

“Oh Baekhyun-ssi” sapa Seun Mi sambil melambaikan tangannya pada Baekhyun yang berjalan kearah kami. Segera saja kusembunyikan tanganku yang menggenggam tangan Seun Mi dibelakang tubuhku.

“Pantas saja kau buru-buru, ternyata. . .“ ucapnya saat sudah berada didepan kami. Untung saja kris tidak ada.

“Siapa yang buru-buru? Chanyeol?”

Ne, mungkin karna ingin segera menjemputmu. Ah, aku tidak enak menganggu. Hati-hati dijalan sampai jumpa” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya padaku lalu melambaikan tangannya pada Seun Mi dan berlari-lari kecil mendahului kami menuju parkiran.

“Lepaskan saja tanganmu, untung tadi Baekhyun tidak melihatnya.”

“Ti-Tidak apa-apa, kau tidak suka ya kalau tanganmu kupegang?”

Ia menggeleng “Karna itu kau, tidak masalah. Tapi bagaimana kalau… yeojachingumu melihatnya? Aku tidak mau dibilang perusak hubungan orang loh”

Aku tidak salah dengarkan? Seun Mi bilang karna itu aku? Aku?

“Ditanya kok malah senyum-senyum. Ya?!” aku mengedipkan mataku beberapa kali dan mendapati tangannya yang melambai-lambai didepan wajahku.

“Kau menghayal ya?”

“Tidak” ucapku sambil menggelengkan kepalaku

“Lalu?” aku hanya menggelengkan kepalaku lagi lalu berjalan kembali menuju parkiran dengan tanganku yang masih menggenggam tangannya.

“Kau mau langsung pulang atau kau mau kesuatu tempat dulu?” tanyaku saat Seun Mi sudah duduk dibelakangku

“Langsung pulang saja,” ucapnya sambil memasukkan headphone dan novel kedalam tasnya. Setelah meresleting tasnya ia mendongak dan menatapku “Tapi kalau kau ingin kesuatu tempat dulu tidak apa-apa,” ia melirik jam tangan Calvin Klein-nya “Yang jelas jangan sampai kemalaman”

“Bagus. Tenang saja, kau akan pulang tepat waktu,” aku sudah siap melajukan motorku tapi tidak jadi karna teringat akan sesuatu “Kalau kau tidak ingin kejadian seperti waktu itu terulang lagi lebih baik kau memelukku sekarang juga daripada kau hanya memegang ujung jaketku”

Aku memejamkan mataku sebentar saat merasakan sensasi aneh ketika ia memelukku dari belakang. Astaga.. untung saja aku harum kalau tidak aku yakin ia tidak akan mau memelukku seperti ini.

Aigoo, aku kenyang sekali” Seun Mi menepuk-nepuk perutnya lalu kembali meminum pepsi-nya yang tinggal seperempat. “Pas sekali kau mengajakku makan kesini, kebetulan aku lagi ingin sekali makan ayam goreng. Gomawoyo

Cheonma, tapi-” aku tersenyum sebentar “Memangnya kau ngidam sampai-sampai kau ingin sekali makan ayam goreng?”

Ia menatapku tajam “Aku sedang tidak ngidam, catat itu!”

“Hihihi aku tahu, hey aku kan hanya bercanda. Hihihi”

“Hehehe, iya aku tahu. Tapi kau tidak perlu menyebut-nyebut ngidam kan?”

“Baiklah baiklah” aku meminum pepsi ku sampai tandas. Aku mengajak Seun Mi ke KFC. Tidak tahu kenapa, tapi aku juga sedang ingin makan ayam goreng. Kami sudah lebih dari dua jam disini karna keasikan ngobrol.

Kajja” ucapku sambil berdiri dari kursiku dan mengenakan kembali jaket biru tuaku yang tadi kuletakkan dikursi kosong yang ada disampingku.

“Pulang sekarang?”

Ne sekarang, ada apa memangnya?”

Ia terlihat berpikir sebentar “Tidak apa-apa,” ia lalu berdiri setelah menghabiskan pepsi-nya sampai tandas “Ayo”

Seorang wanita tua dengan wajah yang tidak seperti orang Korea dan rambut yang sudah mulai memutih membuka sedikit celah pagar dari rumah bercat kuning gading yang baru saja kupencet bel nya. Wanita itu memperhatikan wajahku sebentar lalu melirik kearah seragam yang kukenakan dibalik jaket biru tuaku.

 Ia tersenyum “Teman sekolahnya Sarah Agassi?”

Ne” ucapku sambil balas tersenyum

“Silahkan masuk” ucapnya sambil membuka lebar pintu pagar

“Tidak usah bi, saya menunggu Se.. Sarah disini saja” aku heran, kenapa semua orang memanggilnya Sarah sementara aku memanggilnya Seun Mi.

“Annyeong Chanyeol-ssi” aku melihatnya berlari kecil kearahku dengan rambut hitam legamnya yang setengah basah.

“Sudah siap?” tanyaku saat ia sudah berdiri disamping bibi tadi yang kemungkinan besar adalah pembantu dirumahnya.

“Siap dong,” ucapnya  “Aku pergi dulu ya bi” ucapnya pada bibi itu dalam bahasa yang tidak kutahu apa artinya.

“Hati-hati dijalan ya non”

Ia mennggulung rambutnya lalu melambaikan tangannya sekali lagi pada bibi itu saat sudah duduk dibelakangku “Dah bibi”

 “Tunggu aku dikelasmu, jangan langsung pulang” ucapku

Ne ne ne. kau sudah memberi tahuku dari tadi”

“Hanya mengingatkan, siapa tahu kau lupa”

“Tidak akan”

Aku hanya diam dan sedikit memainkan ujung-ujung rambutnya yang sepunggung.

“Kau tidak berniat melakukan sesuatu pada rambutku kan?”

Aku berhenti memainkan rambutnya. Kukira ia marah, tapi sepertinya pertanyaan tadi hanya bercandaan saja jadi aku kembali memainkan rambutnya.

“Aku tidak berniat melakukan apa-apa pada rambutmu yang halus ini, tenang saja.”

“Apakah itu pujian?”

“Itu kenyataan”

Ia hanya diam dan memandang kesegala arah “Kau mencari seseorang?”

Ia hanya menganggukkan kepalanya. “Siapa?”

Yeojachingumu. Jangan sampai dia mendengarnya dan melemparimu dengan sisirnya.”

“Memangnya siapa yang punya yeojachingu?”

“Kau tidak dengar aku bilang apa ya? Aku bilang yeojachingumu! Jangan sampai dia mendengar ucapanmu tadi”

“Aku masih single!”

“Ohh” ucapnya sambil menggigiti bibir bawahnya yang saat ini berarti ia sedang menahan senyumnya. “Kenapa senyum-senyum sendiri? Kau senang ya aku tidak punya pacar?” tanyaku. Ia hanya menatapku dengan pandangan memangnya-kau-siapa-sampai-aku-harus-senang-karna-tahu-kau-itu-single!

Aku kembali memainkan rambutnya, untung saja aku masih bisa menahan diriku untuk tidak mendekatkan rambutnya kehidungku agar aku bisa menciumi aroma rambutnya yang dengan berdiri disampingnya saja sudah bisa membuatmu mencium aroma mint-nya.

“Aku benar-benar tidak punya yeojachingu Seun Mi-ssi, baru akan menjadi yeojachinguku mungkin lebih tepat” bersyukurlah sekarang sekolahku masih sunyi, jadi aku bisa bebas berjalan berdampingan bersama Seun Mi tanpa dilihat oleh siswa yang lain.

Oh yah? Nuguseyo”  tanyanya dengan nada err cemburu? Mungkin

Secret” bisikku tepat ditelinganya, dan dengan begitu aku bisa menciumi aroma mint-nya. Ia hanya mengangguk dan mempercepat langkahnya mendahuluiku. “Ya! Seun Mi-ssi!” aku berjalan cepat mengejarnya namun ia sama sekali tidak berbalik dan melangkahkan kakinya semakin lebar. Apa dia robot? Kenapa jalannya cepat sekali.

“Apa sih?” tanyanya saat aku berhasil mensejajarkan langkahku dengannya dan langsung menahannya dengan menggenggam tangan kirinya.

“Kau cemburu ya?” tanyaku

Mwo? Cemburu katamu? Kau terlalu narsis” ucapnya dengan nada mengejek

“Ya sudah kalau kau tidak cemburu, tapi tidak usah bersikap seperti itu dong” ucapku sambil menarik tangannya kembali berjalan dengan pelan.

“Memangnya aku bersikap seperti apa coba? Ish” gumamnya yang tetap saja bisa kudengar dengan jelas karna ia berada disampingku

“Aku dengar loh Seun Mi-ssi”

Aku melirik kearahnya dan mendapati ia sedang memandangiku

5 detik. . .

10 detik. . .

15 detik. . ..

20 detik. . .

Ya Tuhan! Kenapa dia terus memandangiku dengan tatapan sendunya itu? bukan sendu yang menyedihkan tapi… Jenis tatapannya itu tatapan yang benar-benar meneduhkan dan menenangkanku meskipun hal itu juga membuat jantungku berlari maraton.

“Sejak kapan kau memanggilku Seun Mi? Seingatku semua orang memanggilku dengan nama Indonesiaku dan bukannya Koreaku” aku yang sedari tadi hanya meliriknya akhirnya menolehkan kepalaku kearahnya.

“Memangnya… tidak boleh?” tanyaku hati-hati

“Tidak juga sih, hanya saja selain appa dan  eomma tidak ada lagi yang memanggilku Seun Mi”

“Kalau begitu, sekarang aku adalah tambahannya.” Ucapku sambil tersenyum dan tanpa bisa dihindari aku kembali mengelus rambutnya yang terasa begitu halus dan sekarang sudah tidak basah.

“Dari dulu kau memang sudah jadi tambahan” gumamnya lagi. Namun aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang digumamkannya, Dari dulu? Tambahan? Tapi rasanya aku tidak ingin menanyakannya sekarang karna kami sudah berada didepan kelasnya. Aku melepaskan genggamanku dari tangannya “Nanti kau kujemput disini. Tunggu aku, ne?”

Ia menganggukkan kepalanya “Ne

Pelajaran baru saja berlangsung beberapa menit yang lalu dan aku merasa itu sudah sangaaat lama. Uhh, aku ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan Seun Mi. Aku tersenyum sendiri mengingat wajahnya yang tersenyum cerah saat aku menjemputnya dirumahnya tadi. Saat mengingat wajahnya, aku tidak terlalu mengerti itu apa tapi… rasanya ada sesuatu didalam tubuhku yang terasa bergelora. Bergelora? Aku juga tidak tahu apakah aku bisa menggambarkan apakah perasaan yang kurasakan saat ini seperti bergelora tapi yang jelas, itu membuatku semakin tersenyum lebar dan terus-terusan mengingat wajah Seun Mi.

To Be Continued

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

One thought on “When I’m Stop Ignoring You 3”

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s