When I’m Stop Ignoring You 4

when-im-stop-ignoring-you-by-naifahmp-from-nana

Cast: Park Chanyeol

Jung Seun Mi / Sarah Jung

Others

Genre: AU, Romance

Leght: Chaptered

Author : naifahmp

Inspired by

A Walk To Remember – Nicholas Sparks

FanFiction ini tercipta dari imajinasi saya. Jadi saya akan sangat menghargai orang-orang yang tidak meng-copas karya saya ini.

It’s just a story so enjoy it^^

***

Annyeong” sapaku saat Seun Mi sudah keluar dari kelasnya

Annyeong” sapanya juga. Aku lalu menggenggam tangan kanannya lalu berjalan. Jangan berpikir yang macam-macam, sebenarnya aku juga takut saat mengenggam tangannya. Takut kalau sampai ia berpikir aku ini namja yang kurang ajar. Tapi begitu aku melirik kearahnya dan ia terlihat biasa-biasa saja karna sedang sibuk dengan handphonenya, aku seperti mendapat lampu hijau –walaupun aku merasa sedikit diabaikan sih.

“Kau.. mau langsung pulang?” tanyaku

Ia menyimpan ponselnya di saku bajunya lalu menoleh kearahku. “Tidak,” jawabnya “Aku ingin ke toko buku dulu. Kalau kau tidak keberatan sih, hehehe” ucapnya sambil menyengir diakhir. Aku tidak keberatan sih kalau dia tidak ingin langsung pulang dan malah ingin pergi kesuatu tempat dulu. Aku kan jadi bisa berlama-lama dengannya.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” suaranya tiba-tiba menyadarkanku. Aku menoleh dan masih tersenyum memandanginya. “Memangnya tidak boleh?” tanyaku

“Bukannya tidak boleh, tapi kau kan terlihat seperti orang gila kalau senyum-senyum tidak jelas seperti itu.” Jawabnya. Aku hanya tersenyum dan mengenggam tangannya semakin erat, perasaan yang akhir-akhir ini kurasakan saat berada didekatnya merambat lebih cepat daripada biasanya keseluruh tubuhku. Namun dibanding semua itu, aku masih merasakan takut kalau saja ia marah dan melepaskan genggamanku dari tangannya. Tapi tidak, gadis itu tidak bereaksi sama sekali. Atau sebenarnya ia bereaksi? Bereaksi dengan menatapku dalam tanpa senyuman namun membuatku tetap merasa nyaman.

“Kalau aku sampai senyum-senyum sendiri dan dikira sebagai orang gila, itu semua salahmu Jung Seun Mi” ucapku pelan. Ia hanya menyipitkan mata bulatnya itu lalu memukul bahuku yang sama sekali tidak sakit  dengan tangannya yang bebas. Tapi aku menemukan sesuatu yang berbeda setelah itu, reaksi yang berbeda dengan reaksi yang diberikannya tadi. Ada semburat merah dipipi mulusnya dan senyum malu-malu yang tersungging dibibir pink pucatnya.

“Sedang memikirkanku ya? Nanti saja saat kau dirumah, sekarang kan aku sedang berada disampingmu” bisikku ditelinganya. Ia segera berbalik dan terlihat berusaha menahan senyumnya dengan ekspresi yang marahnya yang terlihat sangat dipaksakan.

“Berhenti bermimpi. Untuk apa juga aku memikirkanmu?” tanyanya

“Mungkin…Karna alasan yang sama kenapa aku juga tersenyum tidak jelas saat memikirkanmu tadi” gumamku tanpa menatapnya lagi. Setidaknya dengan itu ia bisa sadar kalau aku memiliki perasaan padanya. Perasaan yang membuatku bisa tersenyum saat memikirkannya.

 

***

Love isn’t
Always as you see it
Love isn’t
Always as you dream it should be
Love isn’t
Always gonna find you
But this is love
Cause you’re all I’m thinking of

 

Love isn’t dari Same Same mengalun saat aku dan Seun Mi berjalan menyusuri rak-rak penuh buku dan berhenti dibagian novel. Aku hanya memandanginya yang terlihat sibuk membaca sinopsis novel yang ada digenggamannya yang terdapat dibagian belakang novel tersebut.

But this is love. Cause you’re all I’m thinking of. Entah kenapa lirik itu terus terngiang-ngiang ditelingaku. Benarkah? Masa sih? Karna aku terus memikirkannya, perasaan yang kurasakan saat ini pada Seun Mi adalah cinta? Wow!

I wanna say I love you but will I hear those words come back

Masih Love Isn’t milik Same Same yang mengalun. Yah, dan aku kembali memikirkan bagian yang itu. Kalau aku mengutarakan perasaanku padanya, apakah ia akan mengatakan hal yang sama? Aku masih sedikit ragu akan hal itu, walaupun aku merasa mendapatkan kesempatan besar karna setiap aku menggenggam tangannya ia sama sekali tidak keberatan.

Ia mengerutkan keningnya saat membaca sinopsis dari novel lain yang kini sedang digenggamnya. Novel yang pertama kali tadi digenggamnya sekarang sudah ada dalam tas belanja yang memang disediakan oleh toko buku bersama dengan satu novel lagi. Ia meletakkan novel tersebut kembali ke rak tempatnya berada lalu terpekik girang saat pandangannya tertuju pada sebuah novel –yang tidak kutahu, tentu saja- yang berada di rak sebelah. Ia berjalan tergesa-gesa ke rak itu dan tersenyum lebar, ia mengambil novel itu dan menatap cover novel itu lekat-lekat seakan memastikan bahwa itu memang novel yang dicarinya. Lalu ia membaca sinopsis novel itu dengan cepat lalu langsung memasukkannya kedalam tas belanja.

Ia memandangiku yang berjarak lima langkah darinya dengan senyumannya yang –sialnya- membuat jantungku lagi-lagi berlari maraton.

“Aku sudah dapat yang kucari, kau ingin melihat-lihat sebentar?” tanyanya sambil menunjukkan novel yang dipegangnya padaku. Aku hanya menggeleng dan mengulurkan tanganku padanya. Tidak sampai keram, tapi sudah cukup untuk membuatku was-was karna ia hanya memandang tanganku yang terulur padanya, dan akhirnya aku bisa bernapas lega saat ia meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Aku lapar” ucapku saat kami berjalan keluar dari dalam toko buku tadi.

“Sama, kau mau makan apa?” tanyanya.

“Terserah kau saja” ucapku. Aku sih makan apa saja terserah, tapi aku tidak dengan dia.

Ia mengangguk sambil mengedarkan pandangannya melihat-lihat pakaian-pakaian yang terpampang dietalase toko dalam mall ini. Aku dan Seun Mi memang sengaja belanja ditoko buku tadi yang ada dalam ini, suapaya kalau kami lapar kami tidak perlu jauh-jauh lagi mencari restaurant cepat saji – tempat khas anak muda untuk mengganjal perutnya.

“Kau ingin belanja lagi?” tanyaku melihat ia terus-terusan memerhatikan salah satu toko pakaian. Ia menoleh kearahku dan hanya menggelengkan kepalanya.

Sudah dari tadi atau aku baru saja memperhetikannya? Ia terlihat pucat “Seun Mi,” panggilku. Ia menoleh dan memang benar bahwa wajahnya memang pucat, mata bulatnya saja sudah menjadi sayu seperti itu “Kau sakit?”

“T-Tidak, kenapa kau bertanya begitu?” ia menggelengkan kepalanya dan menatapku heran.

“Kau terlihat pucat, kita pulang sekarang saja yah?” tanyaku sambil mengusap puncak kepalanya. Namun ia lagi-lagi menggeleng “Aku baik-baik saja, Chanyeol-ssi. Mungkin wajahku terlihat pucat karna terlambat makan. Lihat,” ia menunjukkan jam tangannya padaku “Sekarang sudah jam dua siang”

Aku hanya mengangguk mengerti, sudah jam dua siang pantas saja perutku sudah berbunyi terus.

“Yummy!” seru Seun Mi pelan saat sesuap Spagethi dengan parutan keju yang banyak masuk kedalam mulutnya. Aku tidak mengerti kenapa ia begitu menyukai keju sehingga saat memesan tadi ia meminta parutan keju yang banyak diatas Spagethi-nya.

“Kenapa tidak dimakan? Kau tidak suka yah?” tanyanya padaku setelah berhasil menelan Spagethi yang sempat membuat mulutnya sedikit menggembung.

Aku mengambil garpu dan menyuapkan Spagethi yang ada dihadapanku kemulutku, “Tidak, ini aku makan” ucapku dengan mulut penuh. Enak juga. Sebenarnya aku tidak terlalu sering memakan makanan western seperti ini kecuali pizza yang biasanya kumakan bersama appaku saat kami menonton pertandingan sepak bola ditemani dengan satu atau dua botol coca-cola, bukan karna aku tidak suka hanya saja… aku tidak suka makan dengan cara yang terlalu ribet. Kau mengerti, kan? Tidak juga tidak kenapa-napa.

Aku menatap sekelilingku dan mendapati bukan hanya kami saja tapi ada banyak remaja seusia kami yang juga makan direstaurant ini. Sebagiannya lagi –kurasa- adalah mahasiswa dan beberapanya lagi pegawai kantoran dan beberapa ibu-ibu muda yang makan bersama anak-anak mereka yang masih balita dengan kantung belanja yang begitu banyak didekat mereka, belanja bulan sepertinya.

“Sepertinya kau senang sekali hari ini” ucapku pada Seun Mi yang walaupun wajahnya terlihat pucat tetap saja tersenyum cerah. Ia mengangguk “Tentu saja,”

Apa karna kau mendapatkan novel yang kau cari?” tebakku

Ia menggeleng “Bukan hanya itu, tapi yang jelas aku sangat senang hari ini,” aku hanya mengangguk dan kembali bertanya “Sama sekali tidak ada yang membuatmu badmood?”

“Yah, ada sih tapi tidak sampai badmood aku hanya jengkel.”

“Apa itu?” tanyaku sambil mendekatkan diriku padanya

“Kau tidak mau memberitahuku siapa gadis yang kau suka” jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.

Aku hanya terkikik melihatnya bertingkah seperti itu dan astaga, apa dia tidak sadar kalau gadis itu adalah dirinya sendiri? Ckckck, Jung Seun Mi, kenapa kau tidak peka sekali sih?

“Bahas yang lain saja, kan sudah kubilang kalau itu rahasia,” ucapku “Oh iya, kenapa sih kau suka sekali membaca?” tanyaku tiba-tiba.

“Ada banyak hal yang bisa kudapatkan, aku bisa berfantasi saat membayangkan apa yang ditulis dalam buku yang kubaca, aku bisa merasakan perasaan yang dituangkan oleh sang penulis dan juga.. aku bisa mengetahui seluruh isi dunia.” Ucapnya, memandangiku dengan tatapannya yang mebuatku tenang.

“Tapi aku tidak ingin mengetahui seluruh isi dunia” ucapku. Cukup dengan kau berada disampingku aku sudah bisa  mengetahui apa isi dunia ini.

“Kalau begitu kau tidak perlu menjadi bagian dari dunia ini” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya dan melahap suapan terakhir dari Spagethi-nya.

Pedis juga ucapannya. “Oh tidak bisa, kalau aku tidak menjadi bagian dunia ini kau pasti akan-teramat-sangat-sedih”

“Pede sekali kau” ucapnya. Wajahnya yang masih terlihat pucat kini tampak sangat kesal. Yes, aku berhasil membuatnya marah!

***

Gomawoyo, Chanyeol-ssi” ucap Seun Mi saat turun dari motorku. Sinar matahari sore menyinari wajahnya yang pucat. Aku turun dari motorku dan mengelus puncak kepalanya “Kau yakin tidak sakit?” Ia mengangguk sambil tersenyum padaku, inilah yang tidak suka. Harus berpisah dengannya meskipun besok aku akan bertemu dengannya lagi.

“Kujemput kau besok?” tanyaku dan ia hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

Aku menangkupkan kedua tanganku dipipinya dan menatap iris coklat gelapnya. Aku tersenyum dan mengelus pipinya sebelum aku naik keatas motorku. “Sampai jumpa besok” ucapku lalu mengendarai motorku melaju menjauhi rumahnya.

***

Jung Seun Mi POV

Apakah Chanyeol menyukaiku? Aku tidak tahu atau mungin lebih tepatnya tidak yakin. Kalau ia tidak menyukaiku kenapa ia mesti menggenggam tanganku dan memperlakukanku seperti tadi? Kenapa? Hati kecilku menjerit berharap bahwa ia memang menyukaiku, tapi rasa takutku mengatakan bahwa aku tidak boleh terlalu berharap. Jangan sampai aku merasakan sakit hati. Ya, aku terlalu takut untuk sakit hati padahal itu adalah konsekuensi saat kita mencintai seseorang.

Aku menghempaskan tubuhku ditempat tidurku, eomma dan  appa sudah pasti belum pulang dan hanya ada Bibi Inah dirumahku. Hehehe, Bi Inah itu juga orang Indonesia dan ia sudah bekerja pada kedua orangtuaku sebelum aku lahir, saat aku lahir dan eomma kembali sibuk dengan pekerjaannya Bi Inah lah yang merawatku sehingga aku sangat dekat dengannya.

Aku berjalan dengan malas menuju lemari pakaianku, melepaskan seragam sekolahku dan menggantungnya karna aku masih memakainya besok lalu mengenakan kaos oblong serta celana jeans selutut. Aku berkaca sebentar di kaca lemariku, Chanyeol benar aku memang terlihat pucat.

“Non..” aku mengalihkan pandanganku dari bayangan tubuhku dan menatap Bi Inah yang setengah badannya muncul dari balik pintu yang hanya terbuka setengah.

“Non nggak kenapa-napa kan? Nggak jatuh pingsan atau kenapa gitu” tanyanya khawatir

Aku hanya menggeleng sambil tersenyum “Nggak kok Bi, aku baik-baik saja” ucapku sambil duduk ditempat tidurku yang diikuti oleh bi Inah.

“Yakin?” tanyanya memastikan

“Yakin Bibi,” ucapku. Ia menghela napasnya dan mengelus puncak kepalaku “Non harus jujur yah sama Bibi kalau ada apa-apa. Jangan dipendam sendiri” ucapnya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Rasanya sesak juga melihat orang yang kita sayangi menangisi diri kita. Aku hanya bisa terkekeh untuk menyembunyikan rasa sedihku “Iya BI. Pokoknya Bibi nggak usah khawatir soal itu”

Diam beberapa saat, hanya bunyi dari jarum jam yang menggantikan kesunyian diantara kami sebelum Bi Inah kembali bicara. “Kayaknya Chanyeol Agassi suka deh sama non Sarah”

“Tapi aku kurang yakin Bi” ucapku lirih

“Loh? Kenapa non?” tanyanya

Aku menggeleng “Ya nggak yakin aja.”

“Nggak boleh begitu dong non, kita kan nggak boleh pesimis.” Ucapnya sambil masih terus mengelus kepalaku

“Bi. . .”

“Ya?”

“Aku.. Aku jahat, kan? Aku jahat pada Chanyeol?” ucapku.

“Nggak non, non sama sekali nggak jahat sama Chanyeol Agassi”

Aku menggeleng, Kristal bening yang sedari tadi kutahan akhirnya mengalir dikedua pipiku. Aku merasakan pelukan hangat dari Bi Inah, aku membalas memeluknya dan menangis dalam diam disana. Aku tidak ingin menambah kekhawatirannya dengan menangis meraung-raung karna itu bukanlah kebiasaanku. Aku lebih terbiasa menangis dalam diam sambil menggigiti bibirku, menumpahkan semua yang ingin kukeluarkan tanpa harus diketahui oleh orang lain, atau setidaknya, tidak membuat orang lain semakin khawatir.

***

Aku menghirup udara yang terasa sangat segar dipagi hari sambil memejamkan kedua mataku. Dengan perlahan aku membuka kedua mataku kembali, dan tampak beberapa orang dengan pakaian berwarna biru, putih dan warna lainnya  berlalu lalang ditaman ini. Aku menghirup udara sekali lagi sambil memejamkan mataku, menghembuskannnya dengan pelan lalu dengan cepat membukanya kembali karna handphoneku berdering

Chanyeol?

Yeoboseyo” sapaku

Yeoboseyo, kau sudah bangun Seun Mi-ssi?”

Aku tersenyum kecil mendengar pertanyaanya “Tentu saja. Bagaimana coba caranya aku mengangkat telponmu kalau aku masih tidur?”

“Hehehe, hanya memastikan. Kau sedang apa sekarang?”

“Sedang berbicara denganmu dan. . duduk. Wae?”

“Hanya ingin bertanya, apakah hari ini kau punya waktu?”

Aku meneguk air liurku sendiri. Gawat, jangan-jangan ia ingin mengajakku jalan “A-Ak-Aku tidak punya, sepertinya. Karna aku sedang di Jinan sekarang” jawabku, berbohong.

“Jinan? Ah, kau sedang liburan yah? Sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini” aku memejamkan mataku dan mulai menggigiti bibirku sendiri. Maafkan aku Chanyeol-ssi.

“Ne, aku sedang liburan. Maafkan aku, bagaimana kalau lain kali saja? Minggu depan, otte?” ucapku

“Mmmmm, baiklah, minggu depan. Kalau begitu sudah dulu yah. Semoga liburanmu menyenangkan”

“Hmmm, kau juga.”

Dan sambungan pun terputus, aku baru saja akan beranjak dari bangku yang sekarang ini kududuki saat suara yang kukenali menegurku.

“Sarah apa yang kau lakukan disini? Sudah hampir waktunya” aku mendongak dan mendapati seorang yeoja berseragam putih dengan wajah cantiknya mendekat kearahku

“Aku hanya ingin bersantai sebentar dokter Park” jawabku

Ia memanyunkan bibirnya “Sudah kubilang panggil saja aku eonni. Aku terlihat sangat tua kalau kau memanggilku seperti itu”

“Hehehe, iya, iya, Se Ryeon eonni” ucapku sambil kembali terkekeh karna melihat tingkah yeoja berumur 22 tahun didepanku ini.

“Nah begitu dong, aku lihat kau baru saja menelpon dengan seseorang. Hayoo siapa?”

Aku mengedipkan mataku berkali-kali karna ia terus menunjukku dengan senyum jahil yang jelas-jelas terukir dibibir pink pucatnya yang sama dengan milikku –walaupun bibirnya dilapisi dengan lipbalm yang kupastikan rasa mint. “Aishh eonni!” seruku. Ia hanya tertawa lalu –masih sambil tertawa- melihat kearah jam tangannya “Ayo, tinggal setengah jam lagi” ucapnya sambil membantuku untuk berdiri.

***

Park Chanyeol POV

Apakah kalian pernah membuat sebuah rencana dan sudah mengaturnya dengan matang-matang lalu membayangkan bagaimana rencana itu akan berlangsung dengan begitu menyenangkannya dan tiba-tiba rencana itu batal begitu saja? Aku pernah. Dan kalau kau tanya kapan, maka jawabannya adalah kemarin.

Kepalaku sudah penuh dengan hal-hal yang nantinya akan kulakukan bersama Seun Mi, dan kurang lebih dari satu menit semua yang kubayangkan itu berubah menjadi kacau. Bukan otakku saja yang kacau karna pikiranku tapi juga hatiku karna perasaanku.

Hal yang paling membuatku semakin kacau adalah saat yeoja itu sama sekali tidak bisa dihubungi karna nomor handphonenya yang tiba-tiba saja tidak aktif. Tebak apa yang bisa kulakukan? Hanya berdiam diri kamarku tanpa melakukan apapun sama sekali! Tapi kalau bergumul ditempat tidur bisa dibilang melakukan sesuatu, maka hanya itulah yang bisa kulakukan. Karna kepalaku terus saja memikirkannya, mencoba untuk meredam isi kepalaku dengan menonton anime ataupun membaca komik tetap saja tidak bisa. Karna wajah gadis itu akan terus muncul dikepalaku seakan ada proyektor yang terus-terusan tanpa henti memutarnya. Kalau bukan karna ibu dan adikku yang sama cerewetnya dengan ibuku tidak menegurku untuk makan, maka sudah dipastikan aku mungkin akan menjadi zombie sekarang (?)

Tapi tenang saja, sekarang aku sudah kembali baik seperti semula. Lebih baik malahan. Yeoja yang sama dengan yang membuatku selalu memikirkannya yang sekarang melingkarkan kedua tangannya dipinggangku lah penyebabnya. Wajahnya yang sudah kembali cerah membuat perasaanku menjadi semakin senang.

***

Sebenanarnya aku ingin makan se-meja dengan Seun Mi, tapi karna sekarang ia sedang bersama dengan teman-temannya dan aku sedang bersama dengan Kris dan Baekhyun aku mengurungkan niatku. Kalau saja aku adalah namjachingu-nya aku bisa-bisa saja. Tapi hubunganku dengannya masih sebatas teman, jadi yah. . . lucu saja kalau aku yang hanya temannya ini memintanya makan se-meja denganku.

“Besok hari valentine, kan? Bagaimana kalau kita tukaran kado?” dari tempatku sekarang aku bisa mendengar suara Jinri. Memangnya sekarang tanggal berapa? Aku cepat-cepat melirik jam tanganku dan melihat angka 13 disana. Besok benar-benar hari valentine?

Seperti dapat durian runtuh saja, besok hari valentine dan sepertinya itu adalah waktu yang tepat untuk menjadikannya yeojachingu-ku. Hahaha

Tapi. . . kenapa ekspresi Seun Mi biasa-biasa saja dibandingkan dengan teman-temannya yang terlihat antusias? Bahkan dengan wajah siswi-siswi yang lain. Ia hanya diam saat semua temannya setuju dengan usul dari Jinri.

Aku kembali memikirkan rencanaku tadi, bagaimana kalau ia termasuk gadis yang tidak suka hal-hal romantis dan sweet seperti hari valentine? Ouch!

“Kris lihat deh si Chanyeol, tadi senyum-senyum sekarang cemberut”

Molla, mungkin saja dia sudah gila”

Aku mendongak dan menatap kedua sohib karibku yang sedang senyum-senyum tidak jelas melihatku. Lalu kembali memerhatikan Seun Mi, buang emosi saja kalau sudah berhadapan dengan mereka berdua.

Ia sedang menunduk dengan punggungnya yang bergetar, pasti ia sedang menahan tawanya. Tuh kan, aku jadi tidak tahu apa yang sedang mereka bahas sampai dia menahan tawa begitu karna dua orang didepanku ini.

“Kalian tahu? Ada novel berjudul Love in Sunkist dan quote yang paling kusuka adalah ‘nggak kreatif banget sih, kalau setiap cowok harus ngasih barang yang sama ama ceweknya. Kalo nggak bunga, ya coklat’ dan itu memang benarkan? Kalau bukan bunga atau coklat pasti ujung-ujungnya boneka”

Begitukah? Yah, sepertinya betul juga sih. Karna si Kris sampai batuk-batuk mendengar hal itu. Jadi apa yang harus kuberikan padanya nanti saat menembaknya dan sekaligus sebagai kado di hari valentine? Sepertinya aku harus meminta saran dari teman namjachingu kakak sepupuku, Lee Donghae hyung.

“Kau sedang mengkode si ‘ehm’ ya Sarah?” tanya Nari dan bisa kulihat dengan jelas ia melirik kearahku.

Pipi Seun Mi langsung bersemu merah saat itu juga dan terlihat dengan jelas kalau ia salah tingkah. “Maksudmu dengan ‘ehm’?” tanyanya. Aku menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutku lalu masih sambil mengunyah kembali melirik kearahnya.

“Tidak usah pura-pura tidak tahu deh Sarah” ucap SooJung yang setahuku adalah sepupu Seun Mi. Mata bulatnya itu semakin membulat dan wajahnya berwarna merah seperti udang rebus saat ia melirik kearahku. Aku tersenyum sambil meminum Coca-Cola dan dibalas olehnya dengan senyuman kikuk. Bagaimana tidak? Semua temannya sedang berseru aneh sekarang.

Aku menatap Kris dan Baekhyun yang juga sedang menatapku dengan senyum jahilnya. “Aku ke Seun Mi dulu” ucapku lalu dengan cepat berjalan kearah meja Seun Mi.

Annyeong” sapaku

Annyeong”  sapa mereka semua. Aku berjalan kearah Seun Mi yang duduk diujung meja dan membungkuk untuk membisikkan sesuatu padanya

“Kau penasaran siapa yeoja yang kusuka, kan? Besok kujemput kau jam 4 sore”

Ia hanya menatapku dan saat aku akan beranjak pergi Nari tiba-tiba saja memanggilku

“Chanyeol-ssi”

“Ne?” tanyaku

“Besok kan valentine, apakah kau sudah menyiapkan kado untuk Sarah?”

Aku menatap Seun Mi sebentar, ia menunduk dan mangucapkan sesuatu entah apa dengan pelan.

Aku tersenyum menatap Nari “Tentu saja”

To Be Continued

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s