One Sided Love

Gambar

One Sided Love

Cast:

Sarah Jung / Jung Seun Mi (OC) | Park Chanyeol | Others

Genre: AU, Romance, Hurt, Friendship, School Life

Rating: PG

by:

naifahmp

Inspired by:

Lee Hi – One Sided Love

 

It’s just a story so enjoy it^^

 

***

Sarah meminum mocha dalam kemasan kaleng yang baru saja dibelinya, meneguk cairan berwarna coklat muda itu dengan perlahan. Tanpa melepaskan pandangannya pada sesosok pria berkulit putih yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berpijak sekarang. Pria itu terlalu sibuk untuk membicarakan sesuatu bersama sahabatnya untuk menyadari ada sepasang iris berwarna coklat gelap yang sedari tadi terus-terusan menatapnya.

Pria itu tertawa dan mulai berjalan menuju tempat dimana Sarah berada, iris gadis itu langsung saja beralih memandangi bibir kaleng berwarna biru tua yang sedari tadi menempel dibibirnya. Sarah memperbaiki rambutnya yang sama sekali tidak terlihat berantakan –cara untuk membuatnya tidak merasa terlalu gugup- dan mulai berjalan berlawanan arah dengan pria yang kini kembali menjadi fokus lensanya.  Oh! Betapa ia ingin terus memandangi wajah itu. Namun ia menggeleng dan akhirnya berjalan menjauhi kantin sekolahnya dan sedikit memelankan langkahnya saat dirinya bersisian dengan pria itu.

Kedua alis hitam legamnya saling bertatutan hingga hampir menghilangkan jarak yang memisahkan keduanya, keningnya berkerut. Terlalu berpikir keras akan hal simple yang seharusnya bisa dengan cepat ditangkap oleh sel sarafnya. Ia kembali menempelkan bibir kaleng yang sedari tadi digenggenggamnya pada bibir berwarna pink pucatnya, mengeluarkan cairan yang mulai menjadi candu baginya. Satu pertanyaan yang memiliki beberapa jawaban yang masih membingungkan baginya. Mengapa ia selalu ingin terus-terusan menatap wajah pria itu?

 

Pukul sebelas siang tentu saja masih menjadi waktu bagi para pelajar untuk berada dikelas mereka masing-masing dan menerima ilmu dari guru bidang studi. Termasuk para pelajar Hyundai Senior High School, meskipun dikantin masih saja ada beberapa pelajar yang membolos dan beberapa pelajar lainnya yang memilih meminta izin ke toilet demi bisa bergosip dan mengenakan lip balm mereka tanpa takut akan ketahuan. Beberapa pelajar sedang berada di dalam perpustakan demi menghilangkan rasa bosan mereka karena guru bidang studi mereka yang berhalangan untuk hadir sementara yang lainnya mungkin memilih untuk bermain basket ataupun bermain sepak bola bersama teman-teman mereka. Dan sebagian besarnya, tentu saja sedang berada didalam kelas mereka. Duduk manis sambil memperhatikan guru mereka memberikan penjelasan mengenai materi yang mereka pelajari. Termasuk seorang gadis tomboy yang kini menatap jengkel kearah teman sebangkunya, sedari tadi temannya itu terus-terusan mengetuk-ngetukkan ujung pulpen miliknya pada meja tanpa memperhatikan penjelasan dari Soon seonsangnim mereka dan lebih memilih untuk memandang dengan malas langit cerah tanpa awan dari balik jendela kelas mereka.

Belum sempat gadis tomboy itu menegur, teman sebangkunya itu sudah lebih dulu menghela napasnya dengan sedikit kasar lalu menatap dengan malas white board yang  berada dikelasnya. “Kau kenapa sih? Kayak orang lagi mikirin utang kredit aja.” Ucap gadis itu. Sementara yang ditanyai hanya memandang sebal kearahnya.

“Bukan urusanmu!” desis gadis yang ditanyai itu. Sementara si gadis tomboy hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya akibat sikap teman sebangkunya yang agak berbeda beberapa hari ini.

“Kau ada masalah yah? Cerita aja, aku nggak ember kok.” Bujuk si gadis tomboy, sementara gadis yang dibujuknya menatapnya semakin jengkel.

I’m okay, Ji Yoon. I’m just…” gadis itu menghentikan kalimatnya sendiri saat menyadari ia akan mengucapkan hal yang beberapa hari ini mengusik pikirannya. “I don’t know.”

Ji Yoon hanya memandang gadis itu dengan pandangan datar saking kesalnya “Oh, c’mon Sarah. Aku nggak suka ngelihat kamu masang muka begitu terus, nggak enak tau! Asem.”

Sarah hanya tertawa kecut mendengar perkataan Ji Yoon. Sebegitu memusingkannya kah hal yang dipikirkannya itu? Ia sendiri tidak tahu. Karna hal itu terlalu aneh baginya.

 

Tell me now! What happend with you, huh?” kalimat Ji Yoon yang terdengar seperti perintah absolute pemimpin Partai Nazi membuat Sarah bergidik mendengarnya. Baru saja ia bisa kembali memikirkan hal aneh tersebut setelah Soon seonsangnim beranjak keluar dari kelasnya, tapi sepertinya gadis tomboy disampingnya ini tidak bisa untuk menahan rasa penasarannya.

Sarah meniup poninya, membuat helaian dari rambut jatuhnya menjadi berantakan sedikit. Ia memperbaiki posisi duduknya dan menatap Ji Yoon dengan pandangan jangan-tertawa-atau-aku-akan-mencekikmu.

“Begini,” Sarah menghirup napas sebentar “Kalau ada cewek yang ingin terus-terusan menatap seorang cowok dan lama kelamaan ia terus-terusan memikirkan cowok itu karna wajahnya terus saja muncul bagaikan film yang diputar dari sebuah proyektor. Apakah itu bisa disebut cinta?”

Ji Yoon hanya bisa menganga mendengar pertanyaan Sarah barusan, bagaimana ia bisa tahu tentang cinta kalau hampir sebagian waktunya selain belajar ia gunakan untuk bermain basket? Dan juga, sejak kapan gadis blasteran dihadapannya ini berbicara bagaikan seorang puitis padahal ia yakin sekali kalau gadis itu sama sekali tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut?

Ji Yoon mengangkat kedua tangannya “Aku hands up kalau soal itu, jangan tanya ke aku.”

Sarah menatap gemas ke arah Ji Yoon “Makanya tadi aku nggak mau cerita, kamu maksa sih.” Sarah mulai beranjak dari bangkunya saat Krystal datang dan berseru dengan agak-sedikit heboh “Hayooo! Siapa tadi yang ngebahas soal cinta?”

Ji Yoon menjetikkan ibu jari dan jari tengahnya “Aha! Sar, kamu tanya ke Krystal aja! Dia pasti tau kalau soal begituan.”

“Begituan? Apanya yang begituan?” Krystal mengernyit, tanda tidak mengerti akan apa yang dibahas oleh kedua gadis dihadapannya.

Ji Yoon mengatakan apa yang tadi sudah ditanyakan Sarah padanya, sementara Krystal hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan Ji Yoon.

“Aku nggak tahu ini tentang siapa yah, tapi berdasarkan pertanyaan Sarah tadi yah itu emang cinta,” Krystal mengambil posisi duduk dibangku yang berada di depan Sarah “Nggak mungkin kan kamu mikirin seseorang terus kalau nggak ada apa-apanya. Tapi gini, kalau cewek itu lagi ada didekat si cowok, jantungnya berdetak kencang nggak? Pokoknya ngerasa deg-degan gitu.” Tanya Krystal, ia sudah mulai penasaran sendiri dengan pertanyaan Sarah.

Sarah memiringkan kepalanya dan memikirkan apakah jantungnya pernah berdetak kencang saat berada didekatnya. Ia menggeleng “Tapi dia ngerasa aneh hampir seluruh tubuh, pokoknya kayak gitu. Dan.. dia nggak bisa kalau nggak ngelihat muka tuh cowok”

“Tapi cowok itu ngerasain hal yang sama nggak?” tanya Krystal. Sarah langsung menjawabnya dengan cepat, terlalu cepat malah “Nggak, dia nggak suka sama cewek itu.”

“Sar, kayanya kamu pasti tahu deh itu apa.” Krystal menatap aneh kearah Sarah, ia bingung. Bagaimana bisa sepupunya yang banyak tahu itu berubah menjadi seperti orang yang tidak tahu apa-apa.

You mean.. it’s crush?” tanya Sarah ragu

Krystal mengangguk dengan pasti “Bingo!”

***

“Aku pikir aku sudah bisa Move on.”  Gumam Sarah lalu mengerucutkan bibir pink pucatnya. Ia menghela napas perlahan sambil memandang lurus kedepan, koridor kelas XII begitu ramai tentu saja karna ini sudah jam pulang sekolah.  Sarah mengeratkan pegangannya pada tali tas punggungnya saat ia merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Efek dari suara seseorang yang begitu dikenalinya sejak setahun lebih yang lalu. Sarah menghela napasnya dan mencoba kembali berjalan senormal yang ia bisa.

 

Sinar mentari begitu terik tapi Sarah tidak memperdulikannya sama sekali, ia lebih memilih berjalan dari halte bus yang tidak jauh dari gerbang kompleks rumahnya ditemani oleh lagu yang ia dengar dari headset yang tersambung langsung ke Ipod nya. Perjalan menuju rumah dari gerbang kompleks rumahnya bukan lah perjalan yang jauh bagi Sarah, karna setiap minggu pagi sebelum ke gereja gadis itu akan berlari dari rumah ke gerbang kompleks dan sebaliknya. Sinar matahari? Dia bukan lah seorang gadis yang akan menjerit karna terkena sinar UV dari matahari karna ia selalu memberikan lotion dengan SPF 30+ pada kulit berwarna kuning langsatnya. Jenis gadis yang terlihat acuh tapi sebenarnya begitu peduli pada penampilannya.

Salah satu lagu milik Sub-grup Girls’ Generation TaeTiSeo terputar, ia lupa untuk menghilangkan lagu itu dari playlist nya sekarang. Karna ia sedang tidak ingin mendengar lagu itu, sebab setiap mendengarnya ia pasti akan mengingat orang itu. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia sudah terlena dengan suara emas Taeyeon, Tiffany dan Seohyun dan meskipun ia mem-pause lagu itu sekarang, semua itu hanya sia-sia saja.Wajah orang yang sudah ia lupakan dari lima menit yang lalu kini kembali mengisi setiap sisi pandangan dan ruang pikirannya.

I like you and it’s been a while
All day, I think of you
As I’m walking down the street, listening to music
You suddenly come before my eyes

 

Suhu kamar yang terasa dingin akibat hujan deras diluar sana dan selimut hangat yang dikenakan untuk menutupi sebagian dirinya membuat Sarah semakin terhanyut dalam imajinasinya yang sedang membaca salah satu novel karangan dari salah satu penulis favoritenya, Nicholas Sparks. Yang sepengetahuannya, hampir semua novel pria itu menjadi best seller dan diangkat kelayar lebar.

Air mata yang baru saja mulai mengering dikedua pipinya kini kembali siap untuk meluncur dan menghiasi pipinya. Ia begitu tersentuh saat Landon Carter akhirnya menemukan apa hal yang bisa dilakukannya untuk Jammie Sullivan, yaitu menikahi gadis yang paling ia cintai itu.

Dan pikirannya kembali melayang, andai saja… andai saja ia dan Chanyeol… Sarah langsung saja tertawa sarkartis atas keinginan yang baru saja melintas dipikirannya. Ia dan Park Chanyeol tidak akan memiliki kisah seperti Landon Carter dan Jammie Sullivan, Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di , apalagi seperti Habibie yang merupakan Presiden ke-3 Republik Indonesia dengan the first and last love nya Hasri Ainun Besari

Kalau sampai ia menuliskan cerita cintanya dengan Chanyeol, itu akan menjadi cerita yang sudah bisa ditebak kemana arahnya jika sepupunya Soo Jung dan Fallen yang membacanya. Tidak jauh dari kata menatap diam-diam, sayangnya ia tidak mengetahui kalau gadis itu menyukainya dan hal-hal yang mungkin sudah bosan dibaca oleh kedua sepupunya itu. Mengingat terkadang dirinya akan menuangkan apa isi hatinya dalam sebuah cerita.

 

The movie that my heart is making
Is a special project that only stars you
The title is “My Crush”
And I’m the only audience

 

“Sarah Jung,” Sarah menoleh dan mendapati Hwang seonsangnim berdiri beberapa langkah dibelakangnya. Dengan rok hitam sebatas lutut serta kemeja berwarna pastel dengan renda-renda dibagian ujung kerahnyaa.

“Kemari,” perintah Hwang seonsangnim. Sarah mendekat dan menatap guru muda yang besar di Calfornia itu dengan pandangan penasaran. “Ada apa yah seonsangnim?” tanya Sarah.

“Tolong bawa ini kekelas XII-A,” ucap Hwang seonsangnim sambil menyerahkan lembar kerja ulangan harian murid siswa kelas XII-A pada Sarah. Sarah mengedipkan matanya beberapa kali sambil menatap lembaran kertas yang sudah berada ditangannya, Hwang seonsangnim yang bernama luar Tiffany Hwang menatap khawatir pada muridnya.

“Sarah, are you okay?” tanyanya begitu melihat wajah Sarah yang terus-terusan menatap lembaran kertas ditangannya.

Begitu sadar Sarah langsung mendongak dan menatap kembali gurunya, “Yes, Ma’am?”

“Are you okay?” tanya Tiffany lagi. Memastikan bahwa muridnya itu dalam keadaan yang baik-baik saja. Sarah mengangguk, “Saya permisi dulu seonsangnim.” Ucap Sarah sambil membungkuk pada gurunya dan berjalan menuju kekelas yang selalu ingin ia hindari akhir-akhir ini.

Sarah mengetuk pintu kelas, hanya ada beberapa orang didalam sana karna sebagiannya pasti sedang berada dikantin. Seorang gadis berkulit putih pucat berjalan menghampiri Sarah.

“Ini dari Hwang seonsangnim.” Ucap Sarah sambil menyerahkan lembaran kertas tersebut pada gadis keturunan Jerman yang ia kenal karna suara merdunya di Souncloud sudah di listen lebih dari seribuan orang.

“Oh, iya. Terima kasih.” ucapnya sambil tersenyum kepada Sarah. Sarah tersenyum sambil melirik kembali pada seorang pria berambut hitam cepak yang sedang terfokus pada layar ponsel Samsung Galaxy Ace -entah tipe apanya- dengan handsfree yang terpasang pada kedua lubang telinganya. Lalu ia pun beranjak pergi menuju kantin.

Sarah memegang dada bagian kirinya, merasakan detak jantungnya yang berdetak tak karuan. Ia tersenyum saat kembali mengingat wajah pria itu, Park Chanyeol. Bagaimana bisa hanya dengan mengingat wajahnya ia bisa tersenyum bahagia seperti ini, pikirnya.

“Hayooo, lagi ngekhayalin siapa?” tiba-tiba saja Krystal sudah berada disampingnya dan dengan sengaja menyenggolkan bahunya pada bahu Sarah, mencoba menggoda gadis itu.

You know lah..” jawab Sarah singkat.                   

“Jangan cuman dikhayalin, kejar dong!” ucap Krystal semangat, ia mengacungkan tangan kiri dengan telapaknya yang terkepal kuat kepada Sarah.

“Nggak ah,” jawab Sarah lagi-lagi dengan kalimat singkatnya.

Krystal mendengus, “Gimana caranya dia kenal kamu kalau kamu nggak berani dekatin dia? Dia mesti kenal kamu dulu, sudah itu pedekate dan wuuush! Jadian deh.”

“Gampang banget yah?” tanya Sarah sarkartis

Krystal mengangguk pasti, “Gampang, kalau kamu mau usaha.” Ucapnya sambil menatap yakin pada Sarah. Sudah berapa kali dirinya dan yang lain membujuk sepupu blasteran Korea-Indonesianya itu untuk mencoba mendekati Chanyeol tapi selalu nihil, sepupunya terlalu pesimis. Atau hanya takut untuk mencoba? Entahlah, yang bisa ia lakukan sekarang hanya mencoba untuk terus menyemangati sepupunya.

 

Sarah mengetuk-ngetuk bergantian kedua tumit sepatunya, menunggu bus yang akan melewati rute ke arah rumahnya. Dengan headset yang selalu setia tertempel ditelinganya dan mengalunkan lagu-lagu dari Ipod berwarna biru muda miliknya, ia mulai memandangi gerbang sekolah yang tepat berada diseberang jalan halte bus tempatnya berada sekarang.

Ia tersenyum saat memandangi Ducati Panigale 1199 berwarna merah keluar dari gerbang sekolah, dengan seorang pria berjaket biru tua yang mengendarainya. Motor itu berhenti sebentar dan memerhatikan keadaan jalan sebelum melaju mengarah ke rute jalan yang sama dengan rumahnya. Well, rumah Chanyeol memang melewati kompleks rumahnya.

 

Everyone comforts me, tells me to cheer up
But I’m sick of hearing that – I’m not sad
Even if he forever…

Doesn’t know my heart, it’s okay
I just need him to be where I can see him
Just as always, with those charming eyes, gestures, words
He just needs to exist, that’s all I need

Sarah merasakan jantungnya kembali berdetak saat Chanyeol berjalan disampingnya dan ketika pria itu berjalan lebih dulu ia bisa merasakan angin yang menerpa dirinya membuat tubuhnya terasa tergelitik oleh sesuatu.

Senyum lebar Sarah menghiasi wajahnya pagi ini, Chanyeol berjalan beberapa langkah didepannya.

 

Ji Yoon sedikit melirik pada layar ponsel Sarah, mencoba melihat apa yang diperhatikan oleh pemilik ponsel itu hingga tersenyum lebar. Tapi usahanya itu lumayan susah karena layar ponsel Sarah dilapisi oleh sebuah anti gores berwarna gelap.

Krystal yang juga penasaran akhirnya berdiri dibelakang bangku Sarah dan mendapati ada post dari Park Chanyeolll di Jadwal Line milik Sarah.

Krystal mengucapkan nama Chanyeol tanpa bersuara untuk memberi tahu Ji Yoon, gadis tomboy itu hanya mengangguk lalu kembali mengatur posisi duduknya.

“Kalau suka itu dikejar dong! Jangan bisa cuman ngelihatin status sama fotonya doang,” ucap Ji Yoon sambil menatap layar ponselnya seakan-akan dirinya sedang membaca.

“Ngenyindir aku yah?” tanya Sarah.

“Nggak, aku itu lagi mencoba kasih tahu kamu.” Sarah mengerutkan keningnya begitu mendengar perkataan Ji Yoon.

Krystal pun maju dan mencoba menjelaskan pada Sarah maksud dari Ji Yoon barusan, “Gini Sar, kita semua nggak ngelihat kamu kayak gini. Kalau kamu suka, kejar! Nggak ada salahnya mencoba kan?”

Sarah menghela napasnya, ia sudah terlalu malas memikirkan hal itu. Daripada ia mencoba dan pada akhirnya nanti pasti akan gagal, lebih baik ia menyukai Chanyeol diam-diam dan menikmati situasi ketika ia bisa berada didekat Chanyeol. Tanpa pria itu mengenal apalagi mengetahui perasaanya.

Everyone cheers for me, tells me to be brave
They push me, saying that it’s my turn to approach you
Rather than worrying about that, I just want to enjoy this moment
I will climb aboard my hidden confession and ride to the sky up high woo

Sarah kembali memandangi Ducati Panigale 1199 yang kini berada didepan gerbang sekolahnya, menunggu lalu lintas sedikit lenggang. Dengan headset yang tiada bosan mengalunkan lagu-lagu dari Ipod untuknya, irisnya sama sekali tidak pernah lepas dari pemilik motor keluaran tahun 2013 tersebut.

Dan ketika motor berwarna merah itu melaju ditengah keramaian, irisnya masih mempertahankan tatapannya pada pemilik motor itu. Bukankah lebih baik begini? Pikirnya.

Chanyeol tidak perlu mengetahui apa-apa tentangnya. Asalkan ia bisa melihat wajah itu, tatapan teduhnya dan segala hal tentang pria itu. Dirinya sama sekali tidak masalah. Karna dirinya tahu, ia tak akan bisa menggapai pria itu.

He doesn’t have to know my heart
I just need him to be where I can see him
Just as always, with those charming eyes, gestures, words
He just needs to exist, that’s all I need

I just need him to be where I can see him
Just as always, with those charming eyes, gestures, words
He just needs to exist, that’s all I need

THE END

Fiuhhhh /lap keringat/ akhirnya selesai juga. Penyakit malasku lagi akut tapi imajinasiku udah panjang kali lebar. Dan dengan usaha keras melahan kejahatan (re: kemalasan) (?) akhirnya aku bisa nyelesain ini.

Kritik, Saran dan lainnya sangat diharapkan dari kalian yang berbaik hati meluangkan waktu demi membaca ini 🙂

Bytheway, gimana poster buatan aku? masih jelek atau gimana? butuh banget saran dari kalian yang udah mahir dalam photoshop^^

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s