Is It Real?

Is It Real 2

Cast: Park Chanyeol, Sarah Jung / Jung Seun Mi (OC), Others

Genre: Angst, Romance, Friendship, Family

Leght: One-Shot

General: PG-13

Author: naifahmp

 

It’s just a story so enjoy it^^

***

 

“Aku bahkan tidak percaya saat mendengar berita itu,” seorang pria berkulit putih dengan cara bicara cadel-nya yang khas menatap kosong rerumputan hijau muda yang ada dihadapannya “Padahal kami masih sempat mentionan ditwitter.” Tambahnya sembari menggelengkan kepalanya, masih terlalu syok untuk menyadari bahwa apa yang terjadi saat ini adalah nyata, bahwa kejadian yang terjadi kemarin malam bukanlah sebuah fatamorgana.

Padahalkami masih sempat bercanda kemarin” tambah pria tampan yang ada disampingnya. Sementara yang lainnya lagi sudah tidak bisa berkata-kata, terlalu sibuk mencerna hal yang begitu dengan cepat dan tak terduga terjadi.

Seorang gadis dengan rambut coklat gelapnya berjalan tergesa-gesa menemui lima orang pria yang berkumpul disitu, menepuk bahu pria dengan tubuh yang paling tinggi, kekasihnya, Kris.

“Kau melihat Sarah?” tanyanya

Kris menggeleng lalu saling menatap dengan empat teman lainnya –Sehun, Baekhyun, Jong In dan Luhan- namun mereka semua hanya menggeleng tidak tahu.

“Bukankah kau pulang bersamanya?” tanya Jong In yang mulai merasakan kejanggalan terjadi begitu melihat Jinri –kekasihnya- berjalan bersama tiga kawan lainnya –So Hyun, Soo Jung dan Ji Eun munuju kearah mereka.

“Dia memang bersama kami tadi, tapi ketika sudah sampai diparkiran dia sudah tidak ada” jawab gadis itu, Soo Young, khawatir.

“Apa sudah kalian hubungi?” tanya Luhan

“Puluhan kali, tapi sama sekali tidak di angkat” jawab So Hyun begitu ia dan ketiga kawannya sampai.

Soo Jung menghentak-hentakkan kakinya sambil menyusuri areal pemakaman tempat mereka berada sekarang dengan kedua matanya yang begitu menyiratkan kekhawatiran kepada sepupunya yang tiba-tiba saja menghilang.

Baekhyun tampak menenangkan Ji Eun yang masih terus mencoba menghubungi ponsel Sarah, namun yang terdengar hanyalah bunyi monoton yang terdengar dengan cepat diakhir. Gadis blasteran Korea-Indonesia itu sama sekali tidak mengangkat panggilannya.

Hening. Semua berkecamuk dengan pikiran masing-masing, dan keheningan itu berakhir saat Soo Jung memekik kaget dengan mimik wajah tidak percaya.

“Ada apa?” tanya Sehun yang hanya dijawab oleh gelengan keras gadisnya

Andwae, maldo andwae!” Soo Jung menatap seluruh pasang mata yang kini menanti kalimat yang akan segera keluar dari mulutnya.

“Ba-bagai-bagaimana kalau Sarah kembali ke makam Chanyeol?” tanyanya dengan suara yang begitu pelan namun bisa didengar oleh mereka semua karna suasana yang begitu sunyi dan tenang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun mereka semua berbalik, menuju ke tempat dimana mereka mengantar Park Chanyeol kerumah damainya.

Dan suara mereka kembali sulit untuk diraih begitu melihat seorang gadis berambut hitam arang terduduk disamping makam Chanyeol tanpa memperdulikan dress berwarna biru benhur kesayangannya akan ternoda oleh tanah yang tertutupi oleh rumput basah.

Gadis itu tidak menangis, hanya saja pandangan matanya kosong seakan tidak ada nyawa didalam raga ciptaan Tuhan itu, permukaan kulitnya terasa dingin meskipun Sang Mentari bersinar dengan terang menancapkan kehangatannya.

Gadis itu sama sekali tidak menyadari kehadiran orang-orang yang mencintainya itu, sedari tadi memperhatikannya tanpa berusaha mengganggu kegiatan gadis itu. Cukup mengetahui ia ada dimana dan menunggunya sudah cukup bagi mereka, karna mereka mengerti. Diantara mereka semua, gadis itulah yang paling terpukul, pelita yang selama ini menerangi dan menghangatkannya telah padam. Telah kembali kepada sang pemilik yang sesungguhnya.

***

Satu jam berlalu dan gadis itu masih berpegang teguh pada posisinya tanpa pergerakan yang menandakan ia akan beranjak pergi dari makam itu.

Soo Jung yang sudah tak kuasa melihat sepupunya bertingkah seperti itu akhirnya menghampiri Sarah, menghempaskan genggaman hangat Sehun yang memintanya untuk bersabar barang sedikit lagi. Soo Jung menepuk pundak Sarah, namun sama sekali tidak ada respon dari gadis itu. Ia kemudian duduk disamping gadis itu dan terkejut begitu melihat wajah Sarah yang seakan sudah tidak memiliki semangat hidup, karna pada dasarnya Sarah memang kehilangan semangat hidupnya saat salah satu hal terpenting yang amat dicintainya pergi.

Soo Jung mengguncang-guncangkan tubuh Sarah berharap akan mendapatkan respon, namun hasilnya tetap nihil. “Sarah , please! Wake up! Park Chanyeol wouldn’t want to see you being like this! Sarah!” ucapnya sambil kembali menggucangkan tubuh Sarah, berharap gadis itu akan marah karna nama Indonesianya dipanggil dengan aksen Inggris yaitu Serah dan bukannya Sarah dalam aksen Indonesia,

Dan ketika Soo Jung sudah tidak memiliki ide lain untuk menyadarkan Sarah, gadis kelahiran California itu langsung berdiri dan menarik tangan kiri Sarah untuk mengikutinya juga. Dan ide terakhirnya itu berhasil, sepupu yang merupakan anak tunggal dari adik ayahnya itu merespon.

No!!!” pipi mulus yang sedari tadi tidak dialiri oleh air mata saat semua air mata para pelayat terutama Ibu dari pelita hidupnya itu mengalir deras kini mulai dialiri oleh air mata yang entah dengan cara apa bisa ditahannya agar tidak mengalir.

Sikap gadis itu yang tadinya tenang kini berubah drastis, ia meraung-meraung pada Soo Jung agar pergelangan tangannya yang digenggam sekuat tenaga oleh sepupunya itu terlepas. Kawan-kawannya kini sudah berlari kesetanan mendekati kedua gadis itu.

Jong In kini mengambil alih, mengenggam pergelangan tangan Sarah yang semakin histeris dan memberontak saat dengan sedikit terpaksa Jong In menyeretnya berjalan pulang menuju pelataran parkiran pemakaman tersebut.

“Tidak!! Tidak!! Park Chanyeol!! Park Chanyeol kau dimanaaa????!!!!!” teriakan histeris dari Sarah memecah kesunyian di pemakaman yang biasanya tampak tenang itu. Gadis berkulit kuning langsat itu sama sekali tidak memperdulikan kawan-kawannya yang dengan susah payah membawanya dengan menahan rasa sedih mereka yang semakin dalam dengan melihat perilakunya.

Sarah semakin memberontak saat mereka sudah sampai diparkiran, ia menghempaskan dengan sekuat tenaga yang dimilikinya agar kedua tangannya yang digenggam oleh Jong In dan Kris bisa terlepas. Dan ketika tangannya terlepas, sekuat tenaga ia mencoba berbalik arah kembali kepusara makam Chanyeol. Namun secepat ia melarikan diri dari kawan-kawannya, secepat itu juga Kris langsung memeluk pinggangnya dan dengan terpaska membopong gadis itu masuk kedalam SUV nya.

Sarah tidak bisa melakukan apapun, Soo Jung dan So Hyun yang ada disamping kanan dan kirinya menghimpit dirinya, ia hanya menggoyang-goyangkan  jemari-jemarinya yang bertautan dengan gusar dan air mata yang semakin mengucur deras saat Audi hitam Kris melaju dengan kecepatan tinggi menjauhi kompleks pemakaman tersebut.

“Aku benci kalian,” ucap Sarah dengan lirih. Soo Young dan Kris saling melirik sekilas

“Aku benci kalian!,” kini dengan setengah berteriak Sarah mengucapkan kalimat yang membuat semua kawannya yang sedari tidak bersuara kini memendam rasa bersalah yang mendalam padanya.

“Aku benci!! Aku benciii!!!! Aku!! Benci!! Kalian!!!!”

***

Sarah memandangi dinding kamarnya yang hanya diterangi oleh cahaya bulan, memeluk dengan erat kedua lututnya yang ditekukkan. Ia tidak bisa menerima hal yang baru saja dialaminya, akhirnya air mata yang sedari tadi ditahannya dihadapan semua orang mengalir dengan deras.

***

“Kenapa aku tidak boleh ikut?,”tanya Sarah pada Chanyeol saat pria bertubuh jangkung itu mengatakan akan pergi ke Tokyo untuk beberapa urusan pekerjaannya. Chanyeol merupakan seorang photographer terkenal yang hasil ‘jepretan’-nya begitu dikagumi banyak orang. Dan pria berumur dua puluh dua tahun itu menolak dengan keras saat gadisnya yang berprofesi sebagai dokter Ahli Bedah meminta ikut dengannya dengan alasan ia ingin refreshing sebentar dari aktifitas padatnya sekaligus –yang sebenarnya merupakan alasan utamanya- berlibur bersama Chanyeol karna waktu mereka berdua yang begitu padat sehingga jarang memiliki waktu bahkan sekedar untuk menonton  film di apartement Sarah.

Karna aku tahu itu hanya akal-akalanmu saja supaya bisa berlibur denganku. Dengar,” Chanyeol menekankan kata terakhir dari kalimatnya barusan saat mendapati bibir berwarna pink pucat kekasihnya itu akan mengeluarkan bantahan dan sederet alasan lainnya. “Jadwal kerjaku disana sangat banyak Seun Mi, bahkan lebih padat daripada disini. Dan kau tahu dengan amat sangat pasti, bagaimana mungkin aku membiarkanmu mengambil cuti untuk hanya sedekar berlibur denganku sementara diluar sana ada begitu banyak orang yang membutuhkanmu.” Ucap Chanyeol dengan tegas.

Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa kekasihnya yang berpikiran dewasa dan tidak mementingkan keinginannya sendiri –meskipun cerewet, bawel, dan banyak maunya- tiba-tiba akan meminta cuti demi bisa ikut bersamanya. Ia menyandarkan dirinya pada sandaran sofa berbulu lembut yang berada di apartement Sarah. Menatap kekasih blasterannya itu yang tengah memasang wajah oh-kumohon-ayolah-please! padanya.

“Sarah Jung,” panggil Chanyeol. Sarah mulai menatap was-was Chanyeol, karna jika pria itu menyebut nama Indonesianya, maka hanya ada satu hal yang pasti. “Aku tahu kita jarang menghabiskan waktu bersama karna pekerjaan yang tidak mungkin kita lalaikan. Kau tahu? Kita memang bisa melakukannya, tapi apakah kau tega melihat seseorang yang membutuhkanmu kehilangan nyawanya demi waktu liburan kita yang dipaksakan? Padahal kita masih bisa menikmatinya nanti, akan ada sangat banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama. Dan seandainya Tuhan mengizinkan, kita bisa menghabiskan waktu itu bersama anak dan mungkin cucu-cucu kita nanti.” Ucap Chanyeol dengan suara beratnya, menjelaskan hal-hal yang mestinya sudah diketahui oleh Seun Mi-nya seandainya gadis itu tidak dalam keadaan aneh seperti sekarang

Sarah hanya bisa menghela napasnya panjang, merasa jengkel sekaligus kecewa karna kekasihnya sejak SMA itu tidak mengabulkan permintaanyya. Namun ia sadar, ia tidak boleh melalaikan pekerjaannya yang bersangkutan dengan nyawa banyak orang. Ia mengembungkan pipinya lalu meniup poninya dengan asal.

“Okay, okay. Aku tidak akan ikut. Tapi,” Sarah memperbaiki posisi duduknya dan menatap lurus pada Chanyeol “Kau harus berjanji kalau kau akan ikut ke Toraja bersamaku saat Valen menikah juli nanti. Deal?“ ucapnya sambil menjulurkan jari kelingkingnya.

Chanyeol hanya tertawa melihat tingkah Sarah yang sepertinya mulai ‘kembali’. Ia menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Sarah “Deal!”

Sarah mulai menatap lurus-lurus kemata Chanyeol, “Dan kalau kau tidak bisa menepati janjimu nanti?” tanyanya.

Chanyeol hanya tersenyum, berusaha menghilangkan perasaan aneh yang mulai melandanya. Untung saja ia bisa menyembunyikan hal itu dari Sarah, karna bukan Park  Chanyeol namanya kalau sampai ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri.

“Aku akan menemanimu kemana pun kau mau seumur hidupku” ucapnya, berharap dengan begitu Seun Mi-nya akan berhenti merecokinya dan memberinya pelukan hangat yang sekarang ini terasa sangat diperlukannya. Namun reaksi yang diberikan Sarah malah tidak sesuai dengan harapannya, Sarah lagi-lagi memasang wajah cemberutnya.

“Jadi bagaimana kalau kau menepati janjimu? Kau tidak akan menemaniku kemanapun aku mau seumur hidupmu?” tanyanya dengan nada yang sudah naik satu oktaf. Bagus! Ia sudah membangunkan macan tidur dalam diri Sarah. Ia hanya tertawa, “Kau sedang PMS, yah? Kenapa kau jadi aneh sekali ?”

Sarah hanya cemberut, “Kau yang membuatku jadi aneh seperti ini.”

“Dengar,” Chanyeol mulai menggenggam tangan Sarah dan menatap serius iris coklat gelap gadisnya “Aku kemari bukan untuk melihatmu bertingkah aneh seperti sekarang. Dua hari lagi aku sudah berada di negara tetangga dan aku tidak ingin meninggalkanmu dalam keadaan kecewa dan marah karna tidak bisa ikut bersamaku. Aku berada disini karna aku ingin memastikan bahwa malaikatku dalam keadaan baik-baik saja dan akan tetap baik-baik saja tanpa ada aku disisinya.” Chanyeol menarik napasnya sebentar, menatap wajah malaikatnya, memastikan apakah malaikatnya itu sudah mengerti dengan apa yang dikatakannya.

“Kau tidak perlu khawatir pada gadis-gadis Jepang disana, kau tidak perlu khawatir kalau aku akan bersenang-senang disana dan melupanku disini. Karna aku yakin kau sudah tahu, hampir seluruh isi otakku sudah dipenuhi oleh dirimu. Aku memang pergi, tapi itu bukan berarti aku pergi dari hatimu, bukan berarti kau tidak ada didalam hatiku. Tidak. Aku akan selalu ada didalam sini,” ucapnya sambil meletakkan tangannya yang sudah bertautan dengan milik Sarah pada dada bagian kanan gadis itu “Dan kau juga akan selalu ada didalam sini.” Ucapnya sambil meletakkan tangannya yang bebas ke dada kanannya sendiri.

“Jadi apa pun yang terjadi,” Chanyeol menghela napasnya dalam-dalam agar bisa menenangkan kembali perasaan aneh yang melandanya. “Aku ingin kau tetap menjadi Jung Seun Mi-ku, menjadi Sarah Jung yang dikenal orang-orang selalu ceria dan selalu bisa menghadapi setiap masalahnya. Aracchi?”

Sarah mengangguk dan dalam hitungan detik ia sudah berada dalam dekapan hangat Chanyeol, merasakan kehangatan pria yang begitu ia cintai.

“Aku mengerti. Tapi berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, seakan kau akan pergi meninggalkanku saja” ucap Sarah sambil mengeratkan pelukannya. Ia merasa aneh, tapi itu mungkin hanya perasaan yang wajar ia rasakan karna Chanyeol akan pergi jauh , pikirnya.

***

“Kemana Sarah ???!!!!” Baekhyun berteriak, melihat sekelilingnya dan mendapati bahwa gadis yang ia pastikan akan menjerit histeris saat mengetahui keadaan Chanyeol sekarang tidak berada disisi pria yang kini mulai dikelilingi oleh kabel-kabel yang berhubungan langsung dengan alat yang memantau keadaannya.

Dengan lemah Chanyeol menahan pergelangan tangan Ji Eun yang berusaha menelpon Sarah. Ia menggeleng dan dengan susah payah mengatakan bahwa Malaikatnya itu memiliki jadwal operasi dan ia tidak ingin Malaikatnya itu terganggu. Ji Eun yang mengerti hanya bisa menangis. Menahan dirinya untuk tidak memberi tahu sahabatnya tentang keadaan pelitanya itu.

Ia begitu terkejut saat mendapati wajah Baekhyun yang baru saja menerima telepon dari kakak perempuan Chanyeol dan air matanya langsung tumpah saat Baekhyun  memberitahunya bahwa Chanyeol mengalami kecelakaan di Kyoto, bahwa pria dengan gigi putih bersinar itu terjatuh dari motor 2000 cc nya saat memacu kendaraan bermotornya itu dan tanpa sengaja melewati lubang besar pada jalan yang tidak dilihatnya. Kepalanya terbentur dengan keras di kerasnya aspal jalan dan tubuhnya tertindih oleh motor berwarna putihnya sendiri.

Dalam keadaan setengah sadar saat ia sudah dalam perjalanan didalam ambulance ia meminta rekannya untuk membawanya pulang ke Seoul dan meminta agar rekannya hanya menghubungi keluarganya saja dan jangan sampai Sarah mengetahui kedaannya.

Ji Eun hanya bisa saling bergenggaman tangan dengan Se Ryeon –kakak perempuan Chanyeol- dan menunggui Chanyeol diruang tunggu karna keadaan pria itu yang sudah dalam keadaan kritis dan sedang dalam ruang UGD sekarang ini. Sementara Baekhyun mulai menghubungi kawan-kawannya dan memberi pesan agar Sarah tidak boleh mengetahui keadaan Chanyeol.

Sekitar dua jam kemudian Chanyeol dimasukkan kedalam ruang ICU, dan saat itu juga semua sahabatnya yang sudah datang sejak sejam yang lalu memustukan untuk menghubungi Sarah. Ibu Chanyeol hanya bisa duduk dan memandangi anak laki-laki satu-satunya yang kini terbaring tak sadarkan diri. Ia mengerti kalau anaknya itu tidak ingin membuat kekasihnya khawatir, tapi meminta agar ia tidak dirawat dirumah sakit tempat Sarah bekerja agar gadisnya itu tidak mengetahui keadaannya mengingat rumah sakit Sarah merupakan salah satu rumah sakit dengan kualitas terbaik adalah hal yang ia tidak pernah duga. Membuktikan bahwa anaknya begitu mencintai wanita yang ia harapkan menjadi pendamping anaknya kelak.

Beberapa belas menit kemudian pintu ruangan ICU itu terbuka lebar-lebar dengan bunyi yang cukup mampu membuat orang dengan serangan jantung harus memegang dada kirinya. Perempuan dengan surai hitam arang yang kini terlihat acak-acakan karna beberapa helaiannya terjatuh dari gulungannya berjalan dengan tenang tanpa melepaskan pandangannya dari orang yang ingin sekali dihajarnya. Bagaimana bisa pria yang begitu dicintainya itu meminta agar semua orang merahasiakan kedaaannya dirinya dalam keadaan setengah sadar?

Ia mengepalkan kedua tangannya yang terkulai lemas dikedua sisi tubuhnya yang masih terbalut jas putih sepanjang lututnya, “Bodoh!”

***

“Kenapa harus merahasiakannya dariku?” tanya Sarah dengan pelan. Ia hanya menatap Chanyeol dengan pandangan yang selalu menenangkan pria yang agak sedikit hyperactive itu –meskipun tanpa senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

Chanyeol hanya diam menatap Sarah, hanya gadis itu yang berada disampingnya karna semua kerabatnya keluar demi memberikan privasi untuk mereka berdua. Genggamannya yang sedari tadi tidak pernah lepas dari jemari-jemari lentik Sarah semakin menguat, perasaan aneh itu kembali muncul. Sepertinya ini memang sudah waktunya, tapi apakah dirinya rela meninggalkan Sarah, Malaikatnya?

 “Aku tidak ingin membuatmu khawatir, honey.” Sarah menghela napasnya dengan berat begitu mendengar ucapan Chanyeol, “Karna kau tahu aku ada jadwal operasi?” tanyanya lagi. Chanyeol tersenyum dan menggerakkan ibu jarinya, mengelus telapak tangan Sarah.

“Kau akan tetap disini menungguku?”

“Memangnya kau mau aku berada dimana lagi?” jawab Sarah, merasa sedikit aneh dengan pertanyaan pria yang masih tetap saja berusaha menenangkannya dalam kondisi seperti sekarang ini.

“Bagus.. kurasa kau harus begadang sampai subuh nanti, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu.”

***

So, what do you want to talking about, Sir?” tanya Sarah. Setidaknya dengan lelucon tidak konyol seperti itu bisa membuat dirinya merasa sedikit lebih baik.

“Kau sedang tidak sehat, Seun Mi-ah.” Sarah mengerutkan keningnya, ia sudah mati-matian menahan dirinya agar tidak pingsan begitu mendengar keadaan Chanyeol agar pria itu tidak khawatir, kenapa sekarang dirinya disebut tidak sehat.

Chanyeol terkekeh begitu melihat raut wajah Sarah, dugaannya tepat. “Justru aneh… kalau seorang wanita tidak menangis begitu melihat kekasihnya dalam keadaan parah seperti ini sementara mata sahabat kekasihnya yang notabenenya adalah pria kuat malah berkaca-kaca,” tanpa sadar Sarah menahan napasnya, bagaimana ia bisa tahu? ”Dan dalam kasusmu, mungkin kau tidak lagi menangis. Mungkin akan lebih parah daripada itu, dan saking parahnya… kau sama sekali tidak menangis. Sama sekali tidak mengeluarkan air mata.”

“Jadi… kau ingin aku menangis, begitu?” tanya Sarah. Chanyeol hanya kembali terkekeh mendengar pertanyaan wanita yang sudah menjadi pemilik sah hatinya.

“Tidak, aku tidak ingin kau menangis,” Mata Sarah mulai berkaca-kaca, sedikit demi sedikit pertahanannya mulai roboh. “Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Jung Seun Mi. Aku sudah pernah bilang, kan? Kau harus tetap menjadi Seun Mi-ku, menjadi Sarah yang periang dan tegar. Bukannya seperti ini.”

“Kau bicara apa sih? Hah?” Kristal itu sudah mulai meluncur di pipi mulusnya. Perasaan aneh yang pernah dirasakannya saat Chanyeol akan pergi kembali muncul dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kau harusnya sudah mengerti.” Chanyeol meneguk pahit saliva yang biasanya tidak pernah terasa apa-apa. Tapi saliva itu kini terasa berbeda, terasa berbeda begitu ia menyadari bahwa waktunya tidak lama lagi. Mau tidak mau ia harus meninggalkan gadis yang sekarang menangis tertahan dihadapannya.

Pertahanannya masih terlalu sulit untuk roboh.

Sarah hanya menggeleng, ia tidak mengerti. Sama sekali tidak ingin mengerti maksud dari perkataan Chanyeol.

“Kalau aku pergi se—“

“Kau sudah berjanji, Kau sudah berjanji akan terus bersamaku. Kau sudah berjanji, Park Chanyeol!” Sarah mengeratkan genggamannya pada tangan Chanyeol. Ia tidak bisa, dan rasanya tidak akan pernah bisa bertahan hidup jika Chanyeol tidak ada di sisinya.

Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi dalam hidupnya, tapi apa yang bisa ia lakukan jika hal inilah yang Tuhan kehendaki?

“Bukankah aku pernah bilang? Aku akan selalu ada di dalam hatimu.”

Sarah terdiam, hanya air mata yang mengalir, tidak ada lagi segukan yang terdengar.

“Tapi,” Sarah terdiam lagi dan hanya menatap kedua mata Chanyeol “Tapi tetap saja. Kau..” dan ia kembali terdiam. Ia hanya ingin mengatakan bahwa meskipun Chanyeol akan selalu berada di hatinya. Bagaimana bisa ia menjalani harinya didunia ini tanpa ada lagi sosok pria itu?

“Akan ada seseorang yang menggantikanku, seseorang yang akan menggenggam tanganmu dan melindungimu. Seseorang yang memang ditakdirkan untuk melakukan itu sepanjang hidupnya bersamamu.” Berat untuk mengatakan hal itu, menyadari bahwa bukanlah ia orang yang ditakdirkan untuk melakukan hal tersebut. Tapi Tuhan sudah berbaik hati dan memberinya kesempatan untuk menempati posisi itu dalam sisa hidupnya yang begitu singkat.

 

Dear God, The only thing I ask you

Is to hold her

When I’m not around

When I much too far away

A7X – Dear God

“Bisa kah aku memelukmu?” dan tanpa mengeluarkan jawaban Sarah langsung menenggelamkan dirinya dalam dekapan Chanyeol, meskipun ia tetap harus berhati-hati karna ada banyak kabel yang menjalar disekitar tubuh Chanyeol.

No other… you’re The only one. If you leave me, there are nobody could change you..”

“Aku tidak akan tenang kalau kau bertingkah seperti ini Seun Mi,” ucap Chanyeol “Aku hanya seseorang yang muncul dan memberikan kenangan untukmu, memberikan kenangan yang akan menjadi pelajaran sebelum kau bertemu dengan seseorang yang akan memimpinmu.”

Andwae.. maldo andwae..”

Sarah hanya bisa menangis terisak begitu merasakan bibir tipisnya bersentuhan dengan bibir yang selalu menyentuhnya dengan lembut. Ada begitu banyak yang ingin dikatakannya, tapi bibir Chanyeol sudah membuainya, meskipun tetesan air mata itu tidak berhenti mengalir.

Karna ia sadar, ciuman itu adalah ciuman terakhir mereka.

 

***

Sarah menghapus jejak-jejak air mata yang membekas di kedua pipi mulusnya. Napasnya masih tidak teratur dan rasa-rasanya masih ada banyak air mata yang akan mengalir. Tapi pria hyperactive dengan senyuman ala bintang iklan pasta gigi itu akan marah besar jika melihatnya seperti ini, melihatnya dari atas sana.

Ia hanya tersenyum dan tertawa pelan, ia begitu merindukan pria itu. Merindukan pelukan hangatnya yang selalu bisa menenangkan dirinya. Tapi sekarang pria itu sudah tidak ada, hanya dengan membayangkan wajah pria yang selalu mengisi relung hatinya… ia akan merasa aman dan tenang. Karna ia sadar, pria itu sudah berjanji akan selalu berada di sisinya kemanapun ia pergi.

Yo’re the only one, nobody can change it. And you’ve promised me, you’ll always be by my side, Park Chanyeol.”

***

Mata polos itu menatap Sarah dengan senyum yang tercetak pada wajahnya.

“Jadi aku akan menjadi anak tante?” tanya bocah berusia empat tahunan itu pada Sarah.

Sarah tersenyum lembut dan mengelus puncak kepala gadis kecil itu, “Ne, kamu mau kan jadi anak tante?”

Gadis kecil itu mengedip-ngedipkan matanya dan melirik kesana kemari, membuat Sarah dan juga Suster Kepala di Panti Asuhan itu ikut-ikutan melirik.

“Tapi dimana calon Appaku? Bukan kah kalau ada tante pasti ada paman? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?”

Sarah hanya tersenyum begitu mendengar perkataan gadis kecil yang sejak setengah tahun ini mulai diperhatikannya, ketika pertama kali berkunjung ke Panti Asuhan yang tidak jauh dari rumah sakit tempat ia bekerja. Ia seperti melihat jiwa Park Chanyeol dalam gadis kecil yang ditinggal wafat orangtua kandungnya. Melihat gadis itu begitu ceria, hyperactive layaknya Chanyeol, dan wajah polos gadis itu… seakan gadis itu adalah darah daging Chanyeol.

Ia begitu ingin mengadopsi gadis itu begitu pertama kali melihatnya, tapi mendengar saran dari Suster Kepala yang mengatakan gadis itu masih butuh beradaptasi dengan dunia setelah ditinggal pergi kedua orangtuanya, ia pun menunggu.

Dan sekarang… gadis kecil itu mempertanyakan keberadaan calon Appanya. Seseorang yang seharusnya menjadi Appa gadis itu.

Sarah mendongak dan menunjuk ke langit, “Dia di sana,” Sarah melirik gadis kecil itu yang juga sedang memandang langi. “Paman ada disana, calon Appamu.”

Appa dan eomma juga berada disana, kenapa Paman juga ada disana?”

“Karna Tuhan ingin ia berada disana sayang.”

Sarah mencium kedua pipi gadis itu, “Jadi sekarang, kamu akan tinggal bersama eomma. Coba, panggil tante eomma..”

“Eomma..” ucap gadis itu lalu mencium balik kedua pipi Sarah. Mereka berdua tertawa pelan dan saling berpelukan.

Sarah memeluk erat gadis kecil dengan rambut sebahu sambil kembali menatap langit. Senyum bahagia terlukis jelas diwajahnya, meskipun kedua bola matanya berkaca-kaca karna perasaan haru yang tiba-tiba melanda dirinya.

Dalam hati ia begitu bersyukur, Tuhan sudah mengirimkan seorang malaikat penjaga untuknya. Walaupun hanya dalam waktu singkat. Dan sekarang Tuhan mengirimkannya seorang malaikat kecil yang akan menamaninya. Ia menghela napas dengan perlahan.

‘Gadis kecil ini kan yang kau maksud dengan seseorang yang akan menggantikanmu, Park Chanyeol?’

 

Mungkin karena takdir sudah memasangkan kedua pasangan itu. Sehingga ketika salah satu dari mereka pergi, yang satu tidak akan bersama yang lain lagi. Ia hanya bisa menunggu dan menunggu… sampai waktunya tiba untuk kembali dipertemukan dengan pasangan hidupnya.

 

THE END

 

Halo~ Halo~ Bandung… *ehhh

Annyeong~ readersdeul^^

Jangan lemparin saya piring kaca mama kalian juseyo^^ /ngomong apa sih/

Heheheh, sekitar dua bulan yang lalu waktu jagain mama di rumah sakit saya sempat keingat mimpi saya.

Seseorang meninggal dan saya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi, biasa-biasa saja. Sampai di rumah dan melihat foto orang itu saya langsung shock, udah nggak ada dia lagi… dan menetes lah air mata saya sampai menangis histeris sendiri.

Tiba-tiba saya terbangun dan menemukan orang itu (ayah saya) sedang membangunkan saya dan berkata “Ada apa?”

Pernah merasakan ketika kita sudah frustasi karna kehilangan sesuatu dan akhirnya menemukan hal itu kembali sampai air mata kalian mengalir? Itu yang saya rasakan.

Saya menangis sambil memeluk ayah saya dan mengingat betapa saya sering marah jika beliau terlalu overprotective pada saya 😦 tapi begitu kehilangan, fiuh, alhamdulillah itu hanya lah mimpi.

Dan akhirnya dituangkan lah kedalam sini, dengan versi cewe yang ditinggal wafat cowonya.

Dan untuk endingnya yang rasa-rasanya agak aneh… mianhae *bow*

Saya hanya teringat percakapan lama tentang mengapa ada beberapa perempuan yang menjadi perawan tua dan laki-laki yang menjadi perjaka tua.

Dan jawaban kerabat saya adalah mungkin orang yang ditakdirkan untuk mereka sudah wafat. Meskipun mereka sama sekali belum pernah bertemu.

Yah.. kayaknya bacotan saya panjang kali lebarnya sudah setara dengan Lapangan Karebosi di Makassar deh… ehem!

 

Thanks for reading^^

 

Love

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

2 thoughts on “Is It Real?”

  1. Gya,,, bohong deh kalo dulu chingu ngmong nggak bisa buat anak orang nangis!!
    Hikzz,,, nih aku nangis~
    Endingnya gak aneh kok chingu,,, ini ending yang tak terduga,, waaaaw~ *fantastic baby~*plakkk
    Keren deh pokoknya ,,,

    When I’m Stop Ignoring You-nya masih ditunggu,,, *plakkk
    Perasaan dari dulu aku ngebet banget pengen baca nih ff deh,, -___-‘

    1. Serius nangis? aaaa jangan laporin mama kamu nanti aku dijewer T.T /slapped/
      Gomawo 😀

      aku ada satu ff one-shot yang mesti diselesein karna udah lumutan di folder, baru sudah itu fokus lagi ke When I’m Stop Ignoring You. sabar menunggu saja 🙂

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s