Remember Me?

Remember Me...

 Cast:

Henry Lau | Kim Hyun Ah | Others

Genre: AU, Romance, Angst –maybe-, Hurt, Friendship

Leght: One-shot

General: PG-13

By:

naifahmp

 

Full of Kim Hyun Ah’s Point of View

To my friend who call her self Emir Mahira Ex Girlfriend, here it!

 

It’s just a story so enjoy it^^

***

Hell! Kenapa aku harus semengantuk ini sih? Mataku sudah terpejam beberapa kali dan aku harus kembali membukanya kecuali aku mau besok pagi rumahku sudah dipenuhi oleh orang-orang berpakaian serba hitam dengan karangan bunga yang dikirimkan dari berbagai kalangan. Oh! Tidak, tidak. Aku harus tetap fokus.

Aku memejamkan mataku kembali sambil menunggu lampu berwarna merah itu berubah menjadi hijau. Tapi rasa-rasanya mataku benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi, aku segera melajukan kembali Hyundai Velaster Turbo merahku lalu menepikannya dipinggir trotoar. Dengan cepat aku merubah posisi kursiku sehingga aku bisa tertidur dengan nyaman. Memasang alarm ponselku pada pukul dua pagi sehingga aku punya waktu untuk tidur kurang lebih dua jam mengingat sekarang sudah hampir pukul dua belas malam.

Beberapa saat kemudian aku merasakan kepalaku sudah hampir pecah, keringat dingin mulai meluncur dengan deras dari pelipisku. Aku menatap seseorang yang entah siapa dihadapanku sekarang, ia terlihat kabur.

“Aku akan melanjutkan kuliahku di M.I.T !” seru orang itu, Nampak dari nada bicaranya, ia sangat senang mengatakan hal itu. tapi hal yang kurasa dianggap senang olehnya malah berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan. Napasku sesak dan wajah orang itu semakin lama semakin terlihat jelas. Aku berusaha menggapai orang itu yang entah mengapa semakin menjauh, saat aku berusaha untuk semakin menggapainya, aku malah sudah mendapati diriku berada didalam Valester Turboku dengan disambut bunyi memekakkan dari alarm ponselku.

Aku bermimpi hal itu lagi.

***

“Mocha dan sandwich kalkun,” ucapku pada seorang waiter berseragam putih gading yang sekarang sedang mencatat pesananku.

“Secangkir Mocha dan seporsi sandwich,” ucapnya mengulang pesananku “Ada tambahan lagi?” tanyanya dengan sopan dan aku hanya menggeleng pelan, waiter itu pun berlalu.

 Perjalanan yang cukup melelahkan dari Seoul ke Jinan, harusnya aku sudah sampai pukul delapan malam tadi, seharusnya. Sayangnya sepupuku yang baru saja datang dari Kuala Lumpur dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan sama sekali membuatku harus menemaninya berkeliling Seoul dan belanja beberapa keperluan di Lotte World, dan belanja yang kumaksud disini bukannya belanja yang setelah dapat barang langsung beli lalu pulang. Tidak. Tidak. Sepupuku itu harus memikirkan dulu mana yang paling  bagus diantara dua barang yang dibelinya. Belum lagi aku harus kembali menjelaskan lagi keadaan rumahku yang sudah sering didatanginya sebelum aku pergi, just in case kalau ia tiba-tiba lupa.

Tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang menelponku saat aku dalam keadaan perut keroncongan sekarang, aku segera menggeser kursor hijau pada layar ponselku dan menempelkannya ditelingaku.

Yeoboseyo? Onnie sudah sampai?”  panjang umur sekali, aku baru memikirkannya dan sekarang suara cemprengnya sudah menyambutku.

“Hmmm, aku sudah sampai. Memangnya kenapa? Kau sudah sarapan?” tanyaku, mengingat ia adalah remaja yang lebih memilih membuat tweet kalau ia sedang lapar daripada pergi membuat nasi goreng.

Baguslah, tidak, hanya ingin bertanya saja. Sudah, aku baru saja makan ramyeon tadi” ucapnya lagi

“Sepagi ini dan kau sudah makan ramyeon? Anak ini!” desisku, pantas saja badannya kurus begitu, sarapan saja dia lebih memilih memakan ramyeon. “Hei! Tidak ada yang lucu tahu!” seruku saat mendengar tawa membahananya. Kepalaku yang masih pusing sekarang malah bertambah pusing karna anak malas itu.

Hahah, mianhae eonnie. Ramyeon kan lebih praktis daripada aku harus membuat sandwich atau nasi goreng.” Kilahnya. Dasar pemalas!

“Ya sudah,” seorang pelayan mulai meletakkan secangkir panas Mocha dihadapanku beserta sandwich kalkun yang tidak lama lagi akan dicerna oleh lambungku. “Aku sarapan dulu, kalau kau butuh sesuatu telpon saja. Dan ada banyak makanan dikulkas, kau sudah dua puluh tahun dan aku tidak akan menganggapmu sepupuku kalau sampai kau tidak tahu memasak makanan-makanan itu.” seruku lalu memutuskan sambungan telpon.

Aku baru dua kali menyesap mochaku saat ponselku kembali berdering, “Yeoboseyo?”

Yeoboseyo, Ya! Kau dimana sekarang?” aku harus menjauhkan sedikit ponselku dari telingaku saat mendengar teriakan So Hyun.

“Heehh, aku sudah di Jinan. Wae?” ucapku

“Apa? Jinan katamu? Bukannya hampir seharian kemarin kau menemani Soo Bin berbelenja?” dan sekali lagi aku harus menjauhkan ponselku dari telingaku.

“Bisa tidak sih kalau bicara kau tidak usah pake mic? Memang kemarin aku menemani Soo Bin, tapi malamnya aku langsung berangkat ke Jinan kau tahu kan—“

Kim Hyun Ah!”

“Ya! Aku belum selesai bicara, dengar! Aku tahu jadwal pemotretanku hari ini bisa ditunda dan aku bisa berangkat hari ini bukannya kemarin malam. Ah In oppa pasti akan mengerti, tapi tetap saja jadwalku yang lain akan berantakan dan aku tidak ingin merepotkan Min eonnie dengan mengatur ulang schedule ku, meskipun dia itu managerku.” Jelasku, lalu mulai melahap sandwich tuna yang sedari tadi sudah membuatku ngiler.

Dasar!,” ia menghela napasnya “Aku hampir lupa kalau kau ini dulunya gadis pemalas, bagaimana bisa sekarang kau begitu professional?” aku hanya bisa menahan tawaku mendengar ucapannya –karna kalau tidak sandwich dalam mulutku pasti akan berhamburan keluar dan itu amat sangat menjijikan- aku bahkan sudah lupa kalau dulunya aku itu pemalas, apalagi saat liburan dulu. So Hyun bahkan bisa menghitung berapa kali aku mandi jika hanya tinggal seharian dirumah, dulu.

“Karna sekarang aku sudah dewasa So Hyun-ah, tidak mungkin aku jadi pemalas terus.” Ucapku

“Yah, kau dan aku memang sudah dewasa,” ia menghela napasnya sebentar “Tapi aku takut alasanmu berubah bukan karna sekarang kau sudah dewasa.” Aku menghentikan kunyahanku sebentar, menelannya dan mulai menyesap mochaku.

“Maksudmu?”

“Kau bukannya berubah menjadi profesional dan super sibuk seperti sekarang karna ingin melarikan diri dari pikiranmu tentang Henry, kan?”

Aku menelan salivaku sekedar mencoba untuk menenangkan diri atas pertanyaan So Hyun yang sangat tepat sasaran itu, yang sayangnya sama sekali tidak membantu. Aku hanya tertawa pasrah.

“Henry? Hahaha. well, bahkan kalau aku mengelak kau pasti akan tetap pada pendirianmu.” Ucapku, pasrah.

Jadi dugaanku dan Soo Bin benar? Kau jadi seperti ini karna Henry? Aigoo…”

Aku menghela napasku “Tapi itu ber-efek baikkan? Semuanya terjadi pasti karna ada sebab. Ini adalah reaksiku atas aksiku yang memutuskan Henry saat ia sudah fix akan melanjutkan study nya di M.I.T”

“Kurasa aku harus berterima kasih kepadanya karna sudah membuat Sang Ratu Pemalas berubah menjadi seperti ini” ucapnya

“Ya! Aku tidak semalas itu sampai kau harus memberiku gelar Sang Ratu Pemalas!” seruku, tunggu saja kalau aku sudah kembali ke Seoul.

So Hyun hanya tertawa menanggapi ucapanku. Aku melirik jam tangan Guess ku dan mengatakan pada So Hyun kalau aku harus segera pergi ke tempat pemotretan dan berjanji akan menelponnya jika pemotretanku sudah selesai.

***

“Oke,” Ah In oppa mengacungkan jempol kanannya pada kami semua. Tanda bahwa pemotretan hari ini telah selesai.

Aku berjalan masuk kearah ruang ganti dan terduduk dikursi, menatap wajahku sebentar didepan cermin lalu meneguk habis air dalam botol mineral yang memang telah disediakan untukku. Rasa-rasanya ada yang aneh saat aku menatap ponselku yang sekarang sedang kugenggam ini. Oh, iya yah. Aku kan berjanji untuk menelpon So Hyun.

“Heh?” wow! Apa anak ini punya telepati denganku? Baru saja aku akan menelponnya dan dia sudah menelpon duluan. “Ya! Hyun.. kau dimana sekarang?” aku kembali menatap ponselku, memastikan orang yang baru saja bertanya eh bukan! Berteriak tadi itu adalah sahabatku dan bukan lah seorang demonstran.

“Di Jinan, mau dimana lagi memangnya?” tanyaku dengan malas.

Tsk! Maksudku tempat.. dimana kau sekarang? Hotel? Sauna? Cafe? Restaurant? Apa? Apa?” teriaknya lagi. Ada apa sih dengan bocah ini? Kenapa tiba-tiba menelpon menanyakan dimana posisiku sekarang, pake teriak-teriak segala lagi.

“Aku masih di studio pemotretan. Wae? Kau terdengar seperti cacing kepanasan saja.” Jawabku masih dengan santai.

Aku mendengar helaan napas darinya, “Kalau ku beritahu kau jangan kaget yah?”

“Memangnya kau mau memberitahu tentang apa?” tanyaku, merasa was-was dan takut juga dengan sesuatu yang akan disampaikannya padaku.

B..Begini, tadi aku baru saja bertemu dengan Donghae oppa dan Hyukjae oppa di S Mall. Mereka terlihat terburu-buru keluar dari Mall saat itu,” terdengar helaan napas lagi dan aku mulai semakin was-was, “Mereka melihatku dan kami sempat bertukar sapa. Ternyata mereka ke Mall untuk membeli hadiah untuk seseorang yang akan mereka jemput di Bandara.”

Great! Sekarang dia diam dan itu semakin membuaku deg-degan serta merasa was-was. Oke, oke. Wajahku tidak mungkin sedang di zoom-in lalu zoom-out, aku kan sedang tidak sedang syuting. Back to the topic! “So?” tanyaku, memancingnya untuk kembali berbicara.

Dan.. dan orang.. orang yang akan..” ucapnya tergagap

Oh! C’mon So Hyun! Just say it! Don’t make me feel so worry.” Ucapku frustasi

Okay, okay,” ia menghela napasnya lagi “Dan mereka akan menjemput Henry.”

A..apa katanya tadi? Siapa? Henry? Aku menghela napasku, berusaha menenangkan debaran jantung  yang tiba-tiba bekerja abnormal  saat mendengar namanya.

“Hyun? Kau masih disana, kan?” aku menggelengkan kepalau sambil terus berusaha kembali bernapas dengan baik. “Untuk apa dia kesini?” tanyaku, entah kenapa.. ada sedikit, sedikit sekali harapan yang tiba-tiba mulai mencuat dari dalam hatiku.

Kata Hyukjae oppa Henry ke Seoul karna ingin bertemu dengan teman lamanya, bukankah ia sudah berada di Korea Selatan kira-kira sejak umur lima belas tahun?” tanya So Hyun. Mendengar dari caranya bicara, ia seperti tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang.

“Lalu.. apa lagi yang mereka katakan?” tanyaku

Mereka bilang.. besok mereka akan berangkat ke Jinan. Besok kau masih disana, kan?” aku bersandar lemas pada sandaran kursiku. Tarik-hembuskan, tarik-hembuskan, tarik-hembuskan. Begitu terus sampai akhirnya So Hyun kembali berbicara, “Neo gwenchana?”

“Ne… nan gwenchana,” aku menoleh ke arah pintu masuk begitu merasakan ada seseorang yang masuk ke ruanganku. Min eonni ternyata. Wanita dengan rambut sebahu itu menyuruhku untuk segera bergegas karna ia sudah membereskan barang-barangku dan kami akan segera berangkat ke hotel.

“So Hyun-ah, sudah dulu yah? Aku harus bergegas sekarang, besok kutelpon lagi.”

***

Bagaimana ini? Dia akan ke Jinan? Lalu apa yang harus kulakukan jikalau saja aku bertemu dengannya? Tuhan…

Aku menatap tanpa harapan pada pemandangan orang-orang yang berlalu lalang. Berwajah penuh bahagia, kesedihan, kebencian, kerinduan, harapan.. Mereka semua pasti punya masalah kan? Sama seperti diriku sekarang.

“Ada masalah?” aku menoleh dan mendapati Min eonni melirik kearahku tanpa kehilangan fokusnya pada jalanan didepan. Aku menghela napas dan membenturkan kepalaku pada sandaran kursi yang sama sekali tidak ada gunanya, tidak mungkin kan membenturkan kepala pada sandaran kursi bisa membuatku hilang ingatan, ingatan tentang Henry?

“Dia ada di Korea Selatan sekarang… dan besok, mungkin ia sudah berada disini.” Jawabku. Kalau orang yang tidak terlalu mengenalku mungkin akan berpikir aku ini aneh karna memusingkan mantan pacarku.Yeah, mantan pacar yang dulunya sangat kucintai dan dengan terpaksa harus kulepaskan.

Min eonni kembali melirik kearahku, “Maksudmu dengan dia… Henry?” tanyanya dengan suara yang kecil saat menyebut nama Henry. Aku hanya mengangguk, merasa terlalu lelah untuk bersuara. Sejak tadi kepalaku sudah dipenuhi kembali oleh dirinya.

Aku menyandarkan kepalaku pada kaca jendela, apa selama berada disana dia hidup dengan baik? Apakah makannya teratur? Apakah dia sudah rajin… mandi? Oh, lupakan bagian yang terakhir. Aku rasa habbit itu sudah melekat pada dirinya.

***

Teh hangat di pagi hari ini rasanya begitu nikmat, pemotretan baru akan dimulai pukul sebelas siang nanti. Jadi aku punya banyak waktu untuk menikmati kota dimana drama 49 Days menayangkan keindahannya, meskipun hanya beberapa tempat.

 Min eonni tetap berada di dalam kamar hotel sementara aku berjalan sendirian di taman yang penuh dengan pohon sakura. Aku menghela napasku dengan pelan, sudah dua tahun berlalu sejak aku memutuskan Henry. Beberapa orang berpikir kalau aku wajar melakukan hal itu, hubungan jarak jauh… meskipun teknologi sekarang sudah canggih tetap saja membuatku merasa ragu. Bukannya aku tidak percaya padanya, tapi siapa yang bisa tahu apa yang akan dilakukan seorang pria di negeri orang sana sementara kekasihnya menunggu di negeri sendiri?

Sebagian lagi menganggapku bodoh karena melepaskannya, padahal mereka begitu tahu kalau aku sangat mencintainya. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan hal itu tidak akan kembali lagi ke wujud sebelumnya.

Bukankah jodoh tidak akan lari kemana-mana?

Ohh.. hilangkan pikiran itu. Disaat seperti ini, ketika tidak ada orang bersamaku. Aku akan bisa menjadi diriku sendiri, maksudku… diriku yang tidak menutupi perasaanku yang sebenarnya.

Meskipun pada awalnya air mataku selalu saja mengalir begitu mendengar namanya, tapi lama kelamaan aku bisa mengkontrol hal itu dan membuat orang-orang disekitarku berpikir kalau aku sudah baik-baik saja. Aku hanya tidak ingin membuat orang lain khawatir kalau saja mereka mengetahui bagaimana aku jika sedang sendirian.

 

Sometimes just because a person looks happy, you have to look past their smile and see how much pain they may be in. – unknown

***

“Kim Hyun Ah!!!”

Sandwich kalkun yang baru saja akan masuk kedalam mulutku harus bersabar dulu begitu aku mendengar suara yang rasa-rasanya ku kenali. Aku menoleh dan… harus dengan sekuat tenaga meletakkan kembali sandwich itu. Pemilik suara yang memanggilku tadi adalah Eunhyuk oppa, tapi bukan orang itu yang membuat kerja jantungku tiba-tiba saja berhenti dan membuat seluruh tenaga yang kumiliki menghilang. Bukan, bukan dia… tetapi pria dengan tinggi yang sama dengan orang itu. Dengan pipi yang tidak lagi se-chubby dulu, pipi itu sudah mulai terlihat tirus meskipun dalam keadaan sehat dan bukannya karna kurang asupan gizi. Orang itu… orang itu…

 “Long time no see, Hyun.”

“Henry?”

***

Tatapan itu menyiratkan pesan kepada kedua makhluk yang sedari tadi bersamanya untuk berhenti mengoceh dan membiarkan kami berdua saja, meninggalkan aku dan dirinya di bangku taman ini. Hanya berdua.

Apa yang diinginkannya?

Debaran jantung itu… kenapa harus berdetak seperti dulu? Atau ini hanya lah rasa gugup yang kurasakan karna kembali bertemu dengannya? Entahlah…

“Kudengar kau semakin sibuk dengan jadwal pemotretanmu?”

Pertanyaan itu membuatku kembali ke alam sadarku, “A..ah, yah… begitulah,” aku menoleh ke arahnya yang sedang menatapku dengan pandangan yang… biasa-biasa saja. Pertanyaanku yang baru saja akan keluar rasanya menguap dan menghilang entah kemana terbawa angin, pandangan matanya sudah tidak sama seperti yang dulu. Tidak ada lagi tatapan lembut yang hanya tertuju padaku, yang ada hanya pandangan yang sama seperti pandangannya ke semua orang.

Tidak ada lagi yang istimewa…

“Bagaimana denganmu? Apakah… M.I.T ‘menyenangkan’?” tanyaku sambil menggerekkan jari tengah dan telunjuk pada kedua tanganku. Seakan memberikan tanda kutip pada kata menyenangkan yang kumaksud, yang terselip sedikit sindiran dalam artinya.

Ia hanya tersenyum dan menghela napasnya, “Yah.. aku menikmatinya. Meskipun aku merindukan Korea.” Ucapnya sambil melirik kearahku.

“Untuk dua tahun yang lalu, aku minta maaf.”

Aku menoleh menatapnya, “Eoh?”

“Maaf karna aku telah membuatmu memilih berpisah denganku,” ia menatapku lekat “Aku tahu itu begitu sulit bagimu.”

Aku hanya mengangguk pelan membenarkan perkataannya “Dan juga bagiku,” ia menghela napasnya “Aku pikir kau bisa kalau kita berhubugan jarak jauh, tapi ternyata tidak. Dan aku tahu aku tak akan bisa memaksakanmu untuk hal itu. Awalnya aku begitu frustasi selama berada disana, aku begitu… merindukanmu.”

Napasku tercekat begitu mendengar ucapannya barusan, genggaman pada ujung sweater rajutku semakin ku eratkan. Aku masih tidak mengerti akan jalan pembicaraannya, kalau hanya ingin minta maaf, kenapa harus mengatakan hal seperti itu? Ahh, sepertinya aku mulai berharap.

“Tapi begitu mendengar kalau kau hidup dengan baik disini dan berubah dari Ratu Pemalas menjadi model yang lebih professional, aku pun belajar untuk… hidup tanpamu. Sehingga aku begitu menikmati keadaan disana, meskipun aku tidak bisa berbohong, terkadang aku masih sering mengingatmu.” Ia tersenyum padaku dengan mata sipitnya yang masih sama seperti dulu.

Bodoh mungkin, tapi aku sudah tidak kuasa menahan air mata yang selama ini selalu kutahan didepan orang banyak –sebisaku- jika sedang membahas mengenai dirinya. Mata sipitnya itu membalak begitu melihat aku menghapus dengan perlahan air mataku, sepertinya aku mengerti kenapa temanku Se Ryeon bisa menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan. Bukan karna berpura menangis, tapi begitu melihat hal yang membuatnya menangis malah memasang raut wajah seperti Henry menatapku sekarang aku mengerti.

“Kupikir selama ini… kau sudah tidak mengingatku.” Ucapku disela tangis dan kekehanku karena wajahnya yang kini khawatir terlihat begitu lucu bagiku.

Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum padaku, “Hanya pria brengsek, yang melupakan wanita yang pernah ia cintai.”

Aku mengangguk mantap “Dan mungkin aku akan menghajarmu kalau sampai kau menjadi pria brengsek seperti itu.”

Ia tertawa begitu mendengar ucapanku, membuat seluruh matanya seakan menghilang. “Hyun.. Hyun..” ia menggelengkan kepalanya masih sambil sesekali tertawa “Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau masih mengingatku?”

Aku meninju pelan bahunya “Pertanyaan bodoh, tentu saja aku mengingatmu.”

“Jadi kita tetap bisa seperti dulu kan?”

Aku menatap ragu begitu mendengar pertanyaannya “Seperti dulu…?”

Ia mengendikkan bahunya “Seperti sekarang ini, seperti dulu. Kau dan aku mengobrol dengan akrab seperti sekarang.” Ia menatap hati-hati kepadaku, “Could we?”

Why not?”

Sepertinya ucapan Henry tadi betul adanya. Hanya pria brengsek yang melupakan wanita yang pernah ia cintai. Dan selama aku mengenalnya, Henry bukanlah pria seperti itu.

Dan aku sadar, perasaan deg-degan tadi hanya lah perasaan takut kalau saja Henry tidak pernah menganggapku sebagai mantan kekasihnya, seseorang… yang pernah begitu ia cintai. Dulu.

 

THE END

 

Hai… Hai… Hai… /lambai tangan barang Kyu/

I know… ff ini absurd, aneh, dll,dsb,dst.

Dan untuk friend saya,  ‘Mantan Pacarnya Emir’, maaf kalau ini nggak sesuai harapan kamu T.T I’ve do my best. Tapi anggap aja ini kado ulang tahun dari saya soalnya nggak datang ke sekolah waktu ulang tahun kamu dan berakibat saya nggak ikutan makan coto 😀  /slapped/

Kritik, Saran dan lainnya sangat diperbolehkan 😀

 

Bye!

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

4 thoughts on “Remember Me?”

  1. ini pertama kalinya ya saya baca ff kamu *atau nggak*
    cukup mengesankan untuk first reading saya 😉
    bahasanya bagus nggak terlalu ribet dan mudah dipahami 😀

    keep writing! 😉

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s