Destiny [1/?]

Destiny

Cast:

Zhang Yi Xing / Lay, Zhefanya F.N.P (OC), Others

Genre: AU, Romance, Family and Friendship

Rating: PG-13

Leght: Chaptered

Author: Black Pearl

 

It’s just a story so enjoy it^^

 

***

Toraja, Sulawesi Selatan, Indonesia.

 

“Zhangye Danxia Landform Geological Park, China.”

Mulut gadis itu menganga begitu lebar memperhatikan detil dari gambar perbukitan batu dengan berbagai macam warna yang berada di Daratan China itu.

Gadis itu mengerjapkan beberapa kali kedua matanya dan mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap layar laptopnya. Ia memperhatikan  sepupu-sepupunya yang saat ini sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Angel dan Grace yang sedang mononton ulang Glee Season 1, Diva yang sibuk dengan novel Perahu Kertas yang dibacanya, sementara Sarah, sepupunya yang  blasteran Korea itu sedang sibuk dengan hanphonenya. Sesekali tertawa, terkikik dan segala macam mimik lain yang terlukis diwajahnya. Wajar saja, gadis itu sedang berbicara dengan kekasihnya di Negeri Ginseng tempat kelahiran ayahnya.

Sementara dirinya? Berkutat dengan laptop miliknya, mencari pemandangan yang bagus di Korea Selatan melalui Google. Tapi seperti biasa, terkadang ada gambar yang tidak diinginkan muncul pada hasil pencarian. Dan perbukitan batu  itu lah gambar nya.

Gadis itu pun mulai mencari artikel-artikel mengenai Zhangye Danxia Landform Geological Park, hasrat untuk segera ketempat itu membuncah dalam  raganya.

“Kayaknya aku tidak  langsung ke Seoul deh, Sar.” Ucapnya tiba-tiba. Sarah yang baru saja meletakkan ponselnya di atas meja menatap sepupunya itu.

Ma’pai[1]?”

“Aku mau kau China dulu,” Ketika lima kata itu telah terucap dari bibirnya, tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Gadis itu terlalu keras kepala untuk dilarang “Setelah itu langsung ke Seoul, nggak apa-apa kan?”

Sarah tersenyum begitu sepupunya itu bertanya seakan-akan jikalau dirinya tidak mengizinkan maka ia tidak akan pergi. Gadis blasteran itu mengangkat santai kedua bahunya “Terserah kau saja. Asal kan kau sampai ke Seoul dalam keadaan utuh.”

Baiklah, ia akan kembali ke Seoul sendirian. Padahal dirinya sangat senang sewaktu sepupunya yang satu itu berencana menghabiskan waktu bersamanya untuk beberapa bulan. Dan sekarang beberapa bulan itu mungkin akan berkurang karena sepupunya itu akan pergi ke China entah karena alasan apa.

“Tenang saja. Paling lama dua minggu kok, setelah itu langsung berangkat ke Seoul. Pemandangannya sia-sia banget kalau aku lewatin.” Gadis itu menepuk pundak Sarah lalu berjalan keluar kamar.

“Alen mau kemana Sar?” Diva yang sedari tadi sibuk dengan novel bacaannya kini mengalihkan perhatiannya pada Sarah.

Sarah mengendikkan bahunya “Mau ke China.”

“Ngapain?” Angel pun ikut bertanya, Sarah menggeleng pelan “Tidak tahu, katanya mau ke China dulu. Setelah itu baru ke Seoul.”

 

***

 

Alen memejamkan kedua matanya, memikirkan kata pertama apa yang akan dituliskannya. Ia membuka kelopak matanya dengan perlahan, menampilkan kedua mata bulatnya yang begitu bening. Ujung pulpen miliknya pun mulai bergsakan dengan kertas buku hariannya. Mencurahkan segala hal yang  ia sembunyikan di lubuk hatinya.

 

Toraja, 28 Juni 2013

 

Dier Diary,

Jangan menuduhku yang tidak-tidak karena tulisanku kali ini. Aku senang, sangaaaaaaat senang karna kakak perempuanku sudah menikah dengan orang yang dicintainya. Aku jujur soal hal itu. Apalagi melihat Bunda dan Ayahku yang terlihat bahagia. Aku senang.

Tapi ada yang mengisuk hati dan pikiranku. Kenapa semua orang mulai menanyakan kapan aku akan menyusul? Kenapa semua keluargaku menentukan sendiri kalau tahun depan adalah giliranku untuk menikah?

Tahu tidak sih mereka kalau aku ini sedang menjomblo?

Baiklah… aku tahu umurku sudah memasuki masa yang wajar untuk menikah. Tapi bagaimana caranya aku mau menikah kalau pacar saja belum punya?

Tidak mungkin kalau aku harus mengikuti acara Take Me Out atau hal-hal sebangsanya hanya untuk mencari pasanganku. Aku tidak ingin sembrono hanya karena tuntutan mereka semua.

Rasanya begitu mengganggu pikiran. Apalagi semua mantan-mantanku sudah menikah dan bahkan Kak Aldo sudah mempunyai anak.

Makanya, aku merubah rencanaku. Aku ingin ke China dulu sebelum tinggal di Seoul bersama Sarah. Aku ingin menenangkan diriku. Menjauh dari segala pertanyaan yang berhubungan dengan pernikahan.

Zhangyeeeee I’m coming! Yuhuuuuuuu!

-Zhefanya F.N.P-

 

***

Zhouzhuang, Jiangsu, China.

 

“Pintar juga Victoria memilih tempat ini untuk pesta pernikahannya.”

Yi Xing menolehkan kepalanya dengan pelan lalu kembali lagi menatap aliran sungai dibawah sana yang begitu tenang. Meskipun tidak setenang hatinya yang hancur saat ini.

“Kau orang yang sangat baik Yi Xing, mungkin Victoria bukan orang yang pantas untukmu.”

Yi Xing kembali menoleh, menatap dengan tajam seorang pria dengan seorang gadis kecil dalam gendongannya.

“Bukan tidak pantas yang seperti itu,” pria itu menatap dengan tenang pada wajah Yi Xing yang kini terlihat kesal “Maksudku, Vict tidak pantas untukmu karena dia bukan lah jodohmu. Dia pantasnya bersanding dengan Zhoumi yang sekarang sudah menjadi suaminya, karena mereka berjodoh.”

“Kau tidak mengerti Gege,” Yi Xing menghela napasnya dengan berat “Andai saja aku yang berada di sisinya begitu Nickhun meninggal dalam kecelakaan pesawat itu. Sekarang pasti—“

“Kau yang menjadi suaminya,  begitu?” pria itu mengeratkan pelukannya pada putri kecilnya yang menatap wajah dirinya dan sepupunya secara bergantian “Meskipun kau yang berada di sisinya saat Nichkhun meninggal, tetap saja Zhoumi yang akan menjadi suami Victoria dan bukan kau. Mungkin tidak saat ini, tapi tetap saja mereka berdua akan menikah.”

Helaan napas berat itu kembali dikeluarkan Yi Xing “Sudah kubilang kau tidak mengerti Gege.”

“Yang mana yang tidak aku mengerti? ‘Andai saja’ yang kau maksud tadi?”

“Aku bahkan tidak bisa mengingat berapa ribu kali aku mengucapkan kata itu didalam hati dan dimulutku. Andai saja saat itu aku berada disamping Ibu Barbie, bayi kami pasti akan selamat. Dia akan menjadi anak yang manis dan kakak yang baik bagi Barbie. Tapi saat itu aku berada di Kanada bersama Henry. Meskipun aku berada disampingnya,” Pria itu, Hangeng, memejamkan kedua matanya begitu mengingat kembali salah satu kenangan pahitnya.

Saat itu malam dan  hujan deras mengguyur ibu kota Kanada, ia dan rekan kerjanya Henry baru saja tiba di kamar hotel mereka setelah menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan besar di negara itu. Dan tiba-tiba saja ibu mertuanya menelpon, istirnya terpeleset di kamar mandi. Istrinya memang tidak apa-apa, tapi bayi dalam rahimnya yang baru berusia empat bulan harus kembali ke surga sebelum ia bisa meghirup udara di bumi.

“Istriku tetap saja akan keguguran, itu takdir dan kita tidak bisa mengubahnya Yi Xing.”

Yi Xing yang tersadar telah menguak luka lama saudara sepupunya itu merasakan nyeri saat mendengar perkataan sepupunya. Ia masih bisa mengingat bagaimana kacaunya Hangeng saat itu. Tapi Hangeng bangkit dari keterpurukannya, ia tidak ingin membuat istrinya merasa bersalah sebagai ibu yang tidak bisa menjaga anak mereka dengan baik. Dan beberapa bulan setelah itu istrinya kembali hamil, dan lahir lah gadis kecil dalam pelukan Hangeng. Barbie Tan, sesuai dengan wajahnya yang begitu cantik.

“Maaf Gege. Aku tidak bermaksud—“

“Aku mengerti,” Hangeng meremas pelan bahu kiri Yi Xing “Setidaknya sekarang kau bisa mengerti, ‘andai saja’ itu hanya semakin menyakiti hatimu. Kau harus bangkit Yi Xing, kau pasti akan bertemu dengan seseorang yang pantas nantinya.”

Yi Xing tersenyum mendengar nasihat sepupunya itu, meskipun luka itu tidak bisa langsung menghilang dari hatinya. Ia kini mengerti dan akan terus berusaha untuk bangkit. Dan tentu saja mengobati luka itu.

“Aku akan segera kembali ke Seoul.”

“Secepat itu?” tanya Hangeng dengan mimik terkejut, bahkan putri kecilnya pun ikut memasang mimik wajah yang sama.

“Begitulah, tapi aku ingin kesuatu tempat dulu sebelum kembali ke Seoul.”

“Paman mau kemana?” Yi Xing memasang senyum termanisnya pada keponakannya itu. Tidak menyangka kalau gadis berumur empat tahun itu menyimak dengan baik percakapan dirinya dengan ayahnya.

“Zhangye.”

***

Sultan Hasanuddin International Airport, Sulawesi Selatan, Indonesia

 

“Kabari Bunda kalau kamu sudah sampai.” Pelukan hangat Bunda semakin mengerat pada tubuh Alen.

Bunda masih agak sulit melepaskan putri bungsunya itu pergi jauh dari jangkauannya. Apalagi begitu mendengar putrinya akan pergi ke Cina dulu sebelum pergi ke Seoul dimana keponakannya berada.

“Aku sayang Bunda.”

Alen melepaskan diri dari Bunda nya. Lalu mulai melambaikan tangan pada beberapa keluarga yang mengantarkannya ke Bandara. Dan setelah teriakan dari Sarah yang memintanya untuk sampai dengan selamat di Seoul nanti, Alen pun berbalik badan.

Ia mendesah pelan, kalimat dari Ayahnya tadi masih terekam dengan jelas dipendengarannya.

“Disana jangan cuman jalan-jalan, luangkan juga waktumu untuk berkencan dengan para pria disana. Tapi, harus jelas bibit bebet bobotnya.

***

Zhangye Danxia Landform Geological Park, China

 

Yi Xing tersenyum puas ketika lensa DSLR miliknya menangkap gambar perbukitan bebatuan yang berwarna-warni itu. Satu tempat yang sama, tapi semua orang yang memotretnya pasti selalu mendapatkan hasil yang berbeda-beda.

Kedua matanya menyipit mendapati pemandangan yang begitu janggal menurutnya.

Tanpa sadar kedua kakinya melangkah dengan tatapan yang masih tertuju pada titik yang sama. Lima langkah dan kakinya berhenti. Ia memotret pemandangan itu lalu kembali melanjutkan langkahnya, ia ingin melihat lebih dekat.

“Harusnya cari tempat yang sepi kalau ingin bunuh diri.”

“Biasanya… orang yang menegur lah yang akan melakukan hal tersebut.”

Yi Xing menoleh begitu mendengar aksen seseorang disampingnya. Hanya saja orang itu masih tetap pada posisinya. Menghadap lurus ke depan dengan kaki yang menjinjit lalu kembali menyentuh tanah berulang kali, juga dengan kedua mata yang masih tertutup sehingga Yi Xing tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas.

“Aku hanya ingin menenangkan diri disini,” Yi Xing kembali memandang lurus ke depan. Entah kenapa ia ingin mencurahkan sedikit perasaannya. Hanya sedikit.

“Terlalu banyak masalah.”

“Begitulah…”

Yi Xing mengerutkan kedua keningnya lalu menoleh menatap orang disampingnya. Tersamarkan oleh helain rambut yang terlepas dari ikatannya, orang itu membuka kedua matanya. Dan tersenyum begitu menoleh memandang Yi Xing.

“Ku rasa kita punya kesamaan.”

 

Yi Xing perlu oksigen.

 

Kedua mata bening itu membuat Yi Xing tenggelam di dalamnya. Menatap kedua mata jernih yang berkaca-kaca itu. Yi Xing kira orang itu akan menangis begitu melihat kedua matanya yang berkaca-kaca, tapi mata orang itu memang seperti itu.

Bagaimana kedua mata bening itu sangat sinkron dengan bentuk wajahnya serta kulit putihnya. Dengan lesung pipi yang menghiasi senyuman manisnya.

 

Yi Xing benar-benar membutuhkan oksigen.

 

“Kau baik-baik saja?”

“Boleh aku tahu siapa namamu?”

 

Keduanya sama-sama terlongo begitu mereka melontarkan pertanyaan secara bersamaan. Apalagi begitu menyadari salah satu pertanyaan itu terdengar cukup… mengejutkan bagi keduanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya orang itu sekali lagi.

Ah? Ohh, aku baik-baik saja.” Jawab Yi Xing dengan senyuman kikuknya. Dalam hati ia merutuki diri sendiri, kenapa aku menanyakan namanya? Bodoh! Yi Xing bodoh!

Keduanya sama-sama terdiam. Begitu sibuk memandangi salah satu karya Tuhan yang begitu menakjubkan bagi mereka.

“Entah kenapa aku merasa tenang begitu berada di tempat ini.” Yi Xing menoleh, kembali memandangi gadis itu. Senyuman manis serta lesung pipi miliknya yang tersamarkan oleh helaian rambut hitamnya tidak membuat ‘aura’ dari gadis itu menghilang.

“Bagaimana denganmu?”

Yi Xing terdiam sejenak memandangi wajah gadis itu yang tiba-tiba saja menoleh menatapnya. Ia merasakan sesuatu yang tidak asing saat kembali menatap kedua mata gadis itu.

“Kau orang ‘luar’, kan?” Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu Yi Xing malah balik bertanya begitu menyadari wajah serta aksen gadis itu yang terdengar berbeda baginya.

Gadis itu mengangguk pelan “Aku dari Indonesia.”

Yi Xing menangguk begitu mendengar nama negara asal dari gadis itu. Negara yang cukup kuat dalam bidang Bulu Tangkis. Ia juga kembali teringat dengan pantai yang pernah ia kunjungi bersama teman-temannya yang ada di Seoul, mereka menghabiskan waktu selama seminggu di Pulau Bali.

“Ah, aku tahu. Aku dan teman-teman ku pernah berlibur di Bali.”

Gadis itu tersenyum mengerti begitu mendengarnya “Bali… kau pernah dengar Raja Ampat?”

“Raja Ampat?” tanya Yi Xing balik, ini pertama kalinya ia mendengarkan nama itu.

“Kalau kau termasuk orang yang senang menyelam dan melihat pemandangan bawah laut, Raja Ampat adalah salah satu tempat yang wajib kau kunjungi. Indonesia punya banyak tempat yang indah yang bisa kau kunjungi.”

Yi Xing menangguk mendengarkan penjelasan gadis itu “Mungkin aku akan kesana bersama teman-temanku nanti.”

Yi Xing merenung sesaat sebelum kembali berbicara “Oh,”

Ia menjulurkan tangan kanannya pada gadis itu. Tidak butuh waktu lama hingga gadis itu membalas uluran tangannya.

“Namaku Zhang Yi Xing,”

“Senang berkenalan denganmu Yi Xing. Namaku Fanya.”

***

 

Kedua mata Yi Xing menari-nari mencari tempat yang kosong untuk ditempatinya. Ia mendesah, semua tempat sudah terisi. Tapi. . .

Dengan langkah pelan ia berjalan menuju satu tempat dengan kedua matanya yang menyipit.

“Fanya?”

Gadis itu mendongak ketika namanya disebut. Senyuman manis menghiasi wajahnya begitu melihat sosok Yi Xing.

“Mau bergabung denganku?”

Yi Xing menjawab dengan senyuman khas nya. Ia pun duduk dihadapan Fanya.

“Kau juga menginap disini ternyata, sayang sekali kemarin kita berpisah.” Ucap Yi Xing

Setelah perkenalan kemarin mereka langsung berpisah. Mereka tetap berada di perbukitan itu, tapi sayangnya arah mereka berlawanan.

Fanya menangguk mendengar ucapan Yi Xing, kedua matanya tertuju pada tas ransel yang diletakkan Yi Xing dikursi sebelahnya.

“Kau sudah mau pulang?” Tanyanya tiba-tiba.

Yi Xing tersenyum miris mendengarkan pertanyaan itu, ia masih ingin berlama-lama di tempat ini. Mungkin ia bisa mengenal lebih dekat sosok gadis dihadapannya. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang kepala cabang perusahaan keluarga miliknya yang berada di Seoul.

“Aku harus kembali bekerja. Bagaimana denganmu? Apa kah kau masih mau berlama-lama disini?”

“Mungkin dua hari ke depan aku akan pulang.”

Keduanya sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ketika pelayan datang menanyakan pesanan lalu kembali untuk menghidangkan pesanan mereka, keduanya tetap saja terdiam.

“Aku punya sesuatu untukmu.” Yi Xing terdiam sebelum akhirnya mendongak menatap Fanya.

“Apa itu?”

Fanya tidak menjawab, ia malah melepaskan gelang yang terlihat unik bagi Yi Xing itu dari pergelangan tangannya.

“Untukmu,” tangan Yi Xing terulur mengambil benda tersebut “Sebenarnya aku masih punya banyak di dalam koperku. Tapi kurasa gelang itu terlihat lebih cocok untukmu dibanding untukku.”

Yi Xing masih memperhatikan gelang tersebut “Itu aku sendiri yang membuatnya sewaktu aku tujuh belas tahun.”

Setelah memakai gelang itu pada pergelangan tangan kanannya Yi Xing pun angkat bicara setelah beberapa saat mendengarkan penjelasan Fanya.

“Terima kasih banyak. Kurasa aku orang yang spesial karna kau memberikanku gelang buatanmu sendiri.”

Wajah Fanya memerah begitu mendengarkan perkataan Yi Xing. Ia tidak menjawab, hanya tersenyum begitu kedua mata miliknya bertemu pandang dengan mata Yi Xing.

Kalau kami memang ditakdirkan berasama… Tuhan pasti memberikan jalan agar kami bisa bertemu. Hebat sekali, hanya dengan senyuman itu ia bisa menguasai hatiku.

 

-To Be Continued-

 

Hai *pasang muka tanpa dosa*

Bawa ff chapter lagi padahal yang dua itu belum selesai. Hahaha.

Sebenarnya aku juga pengen minta maaf yang sebesar-besarnya untuk readers-deul semua *bow*

Kemarin itu sibuk banget ngurusin sekolah. Entah itu pendaftaran, tes, deg-degan nunggu pengumuman, pendaftaran ulang (karena Alhamdulillah aku lulus. Yah ini masukin berkas ceritanya), terus MOS. Belum lagi hal-hal lain.

Pengen banget nulis, pengeeeen banget. Tapi sepulang sekolah bawaannya pengen tidur. Capek banget soalnya ><

Dan aku nggak mungkin paksain diri buat nulis sementara kondisi fisikku sedang tidak memungkinkan.

Juga… aku lagi bingung. Maksudnya bingung nulis gitu, Ms. Word udah didepan mata tapi masih bingung… ini awalnya apa yah bagusnya gimana yah. Hahaha. Mungkin semacam Writer Block!

Jadi aku nggak bisa janji banyak-banyak. Ketika ada waktu luang aku pasti bakalan nulis. Meskipun tulisanku nggak bagus-bagus amat, tapi tetap saja aku suka menulis. 😀

 

Dan oh, iya. Bentar lagi kan udah mau lebaran…

Minal Aidin Walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin semuanya ^^

 

 

 

 

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s