I’m Sorry (Sequel of Gone Not Around Any Longer)

KibumSeRyeon

I’m Sorry (Sequel of Gone Not Around Any Longer)

Cast: Kim Kibum, Park Se Ryeon (OC), Others.

Genre: Angst, Hurt, Romance.

Rating: G

Leght: One-Shot

Author: Black Pearl

Inspired by: B2ST – I’m Sorry

 

It’s just a story so enjoy it^^

 

***

 

Because I was young back then, because I didn’t know any better.
Will you at least hear my excuses? And will you hold my hand again?
Even if it’s not now, even if it takes a li
ttle time.
I will keep your spot empty, I will continue to stay here
.

 

Kau pernah mengambil keputusan yang pada akhirnya membuatmu menyesal?

 

Aku pernah. Dan kuberitahu kau, jangan pernah mengambil keputusan saat kepalamu serasa terbakar dan iblis dalam hatimu juga bersorak untuk membakar hatimu yang selembut sutra.

Kalau kau melakukannya, kau akan merasa kan hal yang sama seperti diriku.

Menyesal. Sangat menyesal.

Dan aku begitu ingin menenggelamkan diriku dalam dinginnya laut Poseidon. Kakiku masih berpijak pada pasir pantai, menenggelamkan kaki telanjangku pada pasir-pasir halusnya.

Kejadian itu sudah berlangsung lama. Aku yang memutuskannya. Saat itu kupikir semuanya akan baik-baik saja, aku akan melupakannya dan menemukan seseorang yang lebih baik.

Tapi aku tidak bisa melupakannya. Dan lebih menyedihkannya lagi aku tidak menemukan wanita yang lebih baik darinya.

Aku ingin kembali, kembali mendekatinya dan memulai dari awal. Tapi waktu berjalan begitu cepat dan aku takut perasaannya padaku juga telah menghilang, menghilang begitu cepat.

Aku kembali memperhatikan pahatan cincin dijemariku.

 

S & K

 

Cincin ini masih terpasang dengan sempurna pada jari manisku. Aku berharap ia juga masih menggunakannya. Tapi aku merasa begitu ragu. Wanita itu bisa mendapatkan pria lain hanya dengan sekali kedipan mata kalau Ia ingin.

 

“Kenapa tiba-tiba kau jadi suka mengunjungi tempat ini?” Aku menghela napas begitu mendengar suara Manager Im yang tiba-tiba saja sudah berada di sebelah kiriku.

“Kenapa harus Sunset? Apa tidak ada yang lebih indah daripada pemandangan yang selalu terjadi setiap hari ini?

 

“Karena aku menyukainya! Bagiku Sunset lah yang terindah, terjadi setiap hari. Itu berarti Tuhan masih memberikanmu waktu untuk melewati hari ini. Kalau kau melihatnya esok hari, berarti Tuhan masih memberikanmu waktu lagi. Apa kau tidak bisa mensyukuri hal itu?”

 

Napasku terasa sesak begitu suara dan wajah manisnya kembali terbayang dan terdengar olehku. Bagaikan proyektor film yang memutarkan kembali masa laluku bersamanya. Aku bisa melihat semuanya dengan jelas, senyuman menghanyutkan miliknya, tawa cerianya begitu wajahku penuh dengan coretan lipstik miliknya, tangis bahagianya saat melepas rindu denganku, juga… tangisan miliknya saat kutinggalkan.

“Karna Se Ryeon menyukainya. Karna Tuhan masih memberikanku waktu untuk melakukannya.”

Aku tidak sempat menoleh pada Managerku yang berbadan bongsor itu. Yang bisa kukatakan padanya hanya lah aku harus pergi.

 

 

***

 

Jantungku berdetak begitu cepat diatas normalnya. Napasku terasa begitu sesak dan aku tidak bisa menahan seluruh tubuhku untuk berhenti gemetar. Aku hanya bisa memegang erat amplop berwarna biru laut ditanganku, menahannya untuk tidak jatuh atau lebih parahnya terbang terbawa angin malam yang berhembus kencang.

Aku hanya bisa termangu dibalik kegelapan. Jauh dari jangkauan seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah tenangnya, yang saat ini merangkul wanita berparas cantik dengan jas putih miliknya.

Aku terlambat… aku… sudah tergantikan.

Aku tidak berani melangkah lebih dekat. Ada rantai yang menahan kedua kakiku untuk melangkah.

 

Pria itu keluar dari lobi apartemen Se Ryeon. Lebih tinggi dariku, aku tidak memperhatikan hal yang lain. Tapi tipe ideal Se Ryeon adalah pria tinggi. Dan aku merasakan sesuatu yang tidak asing dari mata pria itu.

Aku menarik napas pelan begitu pintu lift terbuka. Sudah setengah tahun dan aku masih bisa mengingat semuanya dengan jelas. Apartemen paling ujung sebelah kiri dengan angka 77 di pintu.

Awalnya aku ingin menyerahkan amplop ini langsung, tapi sepertinya tidak lagi. Aku terlalu kejam untuk kembali melihat wajahnya dari dekat.

Jadi kuputaskan untuk menyelipkan amplop itu di celah pintu apartemennya. Aku masih ingin berada disini tapi napasku terlalu sesak. Jadi kuputuskan untuk menekan bel. Lalu beranjak dari tempat yang tidak ingin kuinjak lagi.

Aku, sudah tergantikan.

  

***

 

Orang gila mana yang menekan bel dan mengganggu istirahat berhargaku lalu tidak menampakkan wajahnya sama sekali? Oh iya, orang gila. Tentu saja.

Atau ini hanya lah ulah Chanyeol? Tapi Dongsaeng bergigi-model-iklan-pasta-gigi itu sudah pulang dari dua puluh menit yang lalu dan dia tidak setolol itu untuk melantarkan skripsinya demi menjahiliku lagi.

Tarikan napasku yang berikutnya terasa begitu sulit. Adikku tidak menjahiliku, ia hanya menghiburku.

 

Kau tahu Noona? Kau terlihat seperti mayat hidup dan itu sangat jelek. Ada apa sih? Kau ditolak pria tampan lagi?”

 

Dalam keadaan normal aku akan dengan senang hati membanting tubuh menjulangnya itu. Tapi sampai sekarang aku tidak pernah merasa normal, duri itu belum tercabut dan dirinya sama sekali tidak bisa digantikan.

Semua orang selalu menatap heran padaku. Mereka tidak tahu alasan dari semua air mata yang akan menetes begitu saja saat makan siang bersama di kantin rumah sakit. Bahkan sahabat, keluarga, orangtua juga adikku sendiri. Tidak ada yang tahu. Karena hubungan kami pun tidak ada yang tahu, demi dirinya.

Aku mengapus dengan perlahan air mata yang dengan teganya meluncur menuruni kedua pipiku. Membahasi amplop berwarna biru laut dibawah…

Amplop?

Aku meraih amplop itu lalu menutup pintu dan berjalan kembali ke kamarku. Berbaring terlentang sambil memandangi amplop misterius ini.

Aku merasakan hal aneh begitu kertas putih dari dalam amplop tersebut berhasil kukeluarkan.

 

Apa kabar?

Kuharap kau dalam keadaan baik-baik saja.

Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan, tapi…

Aku minta maaf. Untuk semuanya.

Untuk menutupi hubungan kita, untuk tidak memiliki banyak waktu untukmu, juga untuk perlakuanku saat itu. Maaf kan karena telah memutuskanmu begitu saja.

Aku menyesal.

Dan Aku tidak akan marah kalau kau menertawaiku, tapi Aku menyesal.

Karena Aku masih mencintaimu. Karena semua tentangmu tidak bisa kulupakan.

Aku tidak meminta untuk kembali, kurasa kau sudah punya pengganti.

Pria yang jauh lebih baik dariku, benar kan?

Aku mencintaimu dan kuharap kau akan selalu mendapatkan cinta dari pria yang kau cintai.

Maaf kan Aku.

 

Pria yang masih mencintaimu

Kim Kibum.

 

Air mataku kembali mengalir tanpa henti, merasakan dadaku terasa sesak membacanya. Dia pasti disekitar sini, pasti.

Koridor apartemen terlihat begitu sepi, langkah kakiku mengarah menuju lift. Aku baru menyadari aku sama sekali tidak menggunakan alas kaki tapi aku tidak peduli. Aku harus bertemu dengannya, harus!

Ini bukan pekerjaan orang iseng, kan? Aku tahu dengan jelas itu adalah tulisan tangan miliknya. Kutolehkan pandanganku kesana-kemari tapi aku tidak menemukan siapa pun.

Tidak ada dirinya disana.

“Kau dimana?” kakiku terasa lemas. Aku berjongkok dan memeluk kedua lututku. Menangis tersedu-sedu bagaikan gadis kecil yang terpisah dari ibunya.

Karena hatiku kembali kehilangan pemiliknya, “Kim Kibum kau dimana?”

Kurasa orang-orang di lobi sedang memperhatikanku saat ini. Aku ingin berdiri dan kembali ke apartemenku, menangis tersedu-sedu di ranjangku seperti malam-malam sebelumnya. Tapi tidak bisa.

 

“Dokter mana yang menangis seperti gadis kecil tanpa mengenakan alas kaki?”

Aku tidak bermimpi, kan? Aku sedang tidak berhalusinasi, kan?

“Bisa kah kita masuk sekarang? Aku rindu masakan buatanmu.”

Apakah ini benar-benar dia?

“Atau kau ingin kita langsung tidur?” ia berjongkok dihadapanku. Menelengkup wajahku dengan kedua tangannya yang begitu hangat.

“Aku mencintaimu, maaf.”

Ini benar-benar dirinya. Aku tidak akan pernah lupa dengan aroma tubuhnya yang begitu hangat. Ini dirinya, Kim Kibum ku.

 

I hope it’s not too late to bring you back.

 

                                                                  THE END

 

Annyeonghaseyo^^

Huh, serius. Ini itu buatnya nyuri-nyuri waktu kosong. Waktu ngerjain pr Sosiologi sebenarnya /.\

Well, sebenarnya ini karena saya lagi rindu nulis. Tapi kegiatan tidak memungkinkan saya untuk melakukannya. Padahal pengeeeeeen banget. Apalagi When I’m Stop Ignoring You ><

Nggak mau janji apa-apa. Tapi kalau ada waktu pasti bakalan diusahain. Juga, saya lagi kekurangan ide. Kekurangan kata-kata tapi lebih cenderung kepada kurang pede. Hahaha, nggak tahu kenapa jadi minder._.

Pokoknya itu aja deh. Komen dan masukan sangat diperbolehkan.

Bye 🙂

 

 

Advertisements

Published by

Black Pearl

A girl with a lot of things in her mind and also known as Salt77.

2 thoughts on “I’m Sorry (Sequel of Gone Not Around Any Longer)”

  1. hi 🙂
    maaf sebelumnya kalau comment di bawah ini sama sekali nggak nyambung sama isi cerita.
    mau tanya, covernya pake texture atau ada efek lain?
    terimakasih

Share Your Mind, Please?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s