Yang Tak KuKatakan Padamu

diary

Aku tidak akan mengatakannya di sini

Aku hanya semakin menyadari

Bahwa kamu tidak mengenaliku

Seluruh tubuhku bahkan tidak mengerti

Mereka bahkan mengkhianatiku

Debar jantungku

Binar mataku

Juga sumringah bibirku

Semuanya berkhianat

Dan kamu. . .

Seakan tidak ada apa-apa

Karena memang

apa-apaku tidak lah berarti bagimu

Yang lain-lain, cukup aku lah saja yang tahu

Karena aku sendiri tidak mengerti

Harus berbuat apa

Walau ku tahu

Aku seakan-akan tidak mau bergerak

Cukup lah

Aku takut berbicara banyak

Hingga kau tahu bagaimana aku

Yang bahkan tak lebih berarti dari debu-debu yang ada di sekitarmu

Tukang Menunggu

Sore dan hujan baru saja berhenti, penjemputku belum juga datang dan awan hitam mulai berarak menuju atas kepalaku. Kuhentak kakiku ringan, memandangi lalu lalang kendaraan di sore hari yang begitu padat. Semua orang ingin segera berada di rumah.

Kecuali untuk satu orang, aku kurang tahu siapa dia. Ujung-ujung rambutnya menyentuh bahu, tiap kali angin berhembus rambutnya akan bergerak dengan lembut. Aku tidak tahu siapa yang ia tunggu, karena setiap kali aku menunggu, gadis itu telah ada di sana hingga akhirnya aku pergi.

Kurasa penjemputku kali ini akan terlambat, tidak seperti biasanya. Gadis itu juga masih berdiri di seberang sana. Kuperhatikan ia menatap lurus pada gerbang kampus, sesekali pada langit dan awan gelap, lalu pada pelangi yang baru kali ini kembali kulihat. Setidaknya aku punya sesuatu yang menarik untuk diamati.

Kuamati, gadis itu sesekali melirik ponselnya. Mungkin untuk melihat jam atau mengecek keberadaan orang yang ditunggunya. Mungkin ia memang selalu menunggu lebih lama daripada aku. Tapi, selama apa? Ia sudah berdiri di sana sebelum aku berada di sini, ia masih berada di sana setelah tiga puluh menit yang lalu penjemputku seharusnya sudah ada.

Aku perlu menyipitkan kedua mataku, tetapi matanya selalu awas pada setiap pengendara motor yang keluar dari gerbang kampus. Apakah dia menunggui seseorang dalam kampus ini? Lalu, mengapa mereka tak bersamaan saja.

Aku ingin mengamatinya lagi lebih lama, tetapi penjemputku sudah datang. Dan ia masih berdiri di sana, menunggu entah apa.

***

Kuminta penjemputku untuk datang lebih lama kali ini, aku ingin tahu siapa yang gadis itu tunggu. Aku bahkan berada di tempatku biasa menunggu lebih cepat dari biasanya. Hujan baru saja berhenti dan beberapa menit kemudian gadis itu muncul, ia kembali berdiri di tempatnya biasa berdiri dan menunggu entah apa.

Aku masih mengkhawatirkan awan gelap yang pelan-pelan berarak menuju kemari, seakan mengantisipasikan pada diriku bahwa ia akan segera hadir dan mendatangkan hujan. Anehnya, gadis itu mengamatinya dengan pandangan yang janggal menurutku. Mengapa seseorang menatap merindu seperti itu pada awan yang gelap? Apakah dia merindukan hujan?

Hingga setengah jam lagi matahari akan terbenam, gadis itu masih berdiri di sana. Matahari bahkan mulai tertutupi awan dan pelangi yang hadir setelah hujan tadi perlahan-lahan menghilang, anehnya, gadis itu mengamatinya.

Gadis itu mengamati pelangi yang perlahan-lahan menghilang sembari sesekali mengamati ponselnya. Begitu pelangi menghilang dan matahari yang segera terbenam tak lagi tertutupi oleh awan, gadis itu mulai fokus pada ponselnya.

Jemarinya tak bergerak, ia hanya melihat kurasa.

Dan apa yang sejak tadi kujelaskan padamu, hanyalah pergerakan kecil gadis itu. Maksudku, sejak tadi ia hanya memandang gerbang kampus. Sembari melihat hal lain. Hingga gerbang kampus hanya terbuka setengah dan penghuni kampus nyaris kembali semua, gadis itu masih berdiri di sana.

Pukul enam tepat saat matahari terbenam dan menyisakan bayangan panjang, gadis itu akhirnya melangkah sedikit. Ia tersenyum sedih pada gerbang kampus, lalu segera naik ke angkutan umum yang berdiri di hadapannya.

Mungkin, ia sedang menghitung kemungkinan terjadinya ketidakmungkinan. Berdoa agar ketidakmungkinan itu sekali saja mengalami keajaiban dan berubah menjadi mungkin. Tetapi, ia benar akan ketidakmungkinan tersebut walau berkali-kali ia memberi kesempatan. Itu sebabnya ia tersenyum sedih.

Yang kuyakini, ia tahu yang ia tunggu akan datang. Namun, bukan dengan cara yang ia tahu tidak mungkin. Yang aku tahu, ia hanya menunggu di tempat lain. Tetap pada orang yang sama.