S I A P A ?

20170417_175505

Aku pulang saat jingga menyinari langit dan menerpa wajahku

Sebuah tawa mengusik telingaku

Gadis yang pernah kulihat menunggu entah apa itu lah sumbernya

Ia tertawa dengan mulut tertutupi buku berwarna hijau

Beberapa kali ia menoleh dan memperhatikan seseorang

Senyumnya tak hilang sembari mencubiti lengan temannya, dan…

ia masih tak berhenti menoleh.

Saat ia kembali menunggu di tempatnya

Aku juga menyeberangi jalan dan berdiri tak jauh darinya

Ia kembali menatap gerbang

Memandangi mentari yang kian lama kian turun

Aku bisa melihat pipinya yang jadi tirus

Tetapi pandangannya tak berhenti menatap gerbang

Juga mentari

Lalu sesekali pada langit timur yang gelap di sana

Saat jarum panjang menunjuk angka sebelas

Ia memutuskan untuk pulang

Tepat saat ia memutuskan untuk pulang dan menunggu pete-pete,

setelah sebelumnya menentukan waktu dan mengulurnya.

Kulihat, pendar matanya berkilau

Ia tidak lagi memakai kacamatanya tetapi ia seakan tak butuh itu

Bibirnya ingin tersenyum tetapi ia tidak melakukannya

Kemudian objek yang ia lihat pergi

Ia menahan dirinya kembali

Seakan berharap entah apa

Tetapi aku melihat kesedihan yang ingin melesak keluar

Aku ikut bersamanya menaiki pete-pete

Setelah entah berapa pete-pete yang ia lewatkan

Tak jadi pulang bersama seorang senior yang searah karena katanya

Ia menunggu

Tangisnya pecah saat itu

Aku tak tahu kesedihan macam apa yang ia simpan

Seakan ia membutuhkan sesuatu entah apa

Karena ia terlihat begitu kecil dan menyedihkan

Jauh berbeda

Jauh berbeda saat ia tertawa tadi

Aku tak tahu siapa yang ia tunggu

…dan apa yang diharapkannya.

Aku bertanya-tanya…

siapa yang ingin berbagi dengan dirinya yang kecil dan menyedihkan seperti sekarang ini?

Siapa yang mau menerima semua bahagia

juga kesedihannya?

Seperti menunggu senja hingga ia berganti malam dan menampakkan sisi lainnya

Aku melihat ia yang tadinya hangat

kini menampakkan gelapnya.

Kesedihannya.

Adakah yang akan keluar di malam hari dan menikmati malam yang kelam dan bukan saja malam yang penuh bintang gemintang?

Setahuku, tak ada yang menyukai dan mau merengkuh malam yang kelam.

Orang-orang hanya ingin malam penuh bintang.

Seperti juga kebahagiaan,

juga kesedihan.

Siapa yang mau?

 

 

Advertisements