Kucing Bernama Hati (1 in Ramadhan)

Seharusnya aku tidak menuliskan pagi ini terasa aneh sekali pada saat ini. Seharusnya aku pun tak perlu menuliskan seharusnya, tetapi pagi ini memang begitu. Aku mandi dan menyisir rambutku begitu menggunakan sampoo dan tebak, kau ingin menebaknya, kan?

Setelah bertahun-tahun bahagia hidup tanpanya, aku perlu tabah  menemukan beberapa kutu –aku tahu kalian berjengit, bayangkan aku ketika mengetiknya sembari membayangkan kejadian yang baru saja kualami- pada helaian rambutku yang menempel pada sela-sela jemariku.

Ini… adalah pagi yang sangat aneh. Atau kau bisa menyebut bahwa hari ini adalah hari yang aneh, kau tahu, hari ini diawali dengan telpon yang tak terduga namun tak diangkat. Menyedihkannya, di saat aku tertidur di malam aku memutuskan untuk tidak tidur.

Kemudian aku juga menemukan sesuatu, awan sejak kemarin –atau mungkin kemarinnya lagi- menjadi gelap di timur dan cerah di barat. Seakan semesta sedang bahagia sekaligus sedih. Oh, bisa kah kita mengalaminya? Setidaknya, bisakah manusia menunjukkan keduanya?

Kurasa manusia tidak bisa, atau, entah. Pagi ini aneh karena aku memikirkan mungkin saja bagian yang cerah itu memang ditunjukkan untuk memperlihatkan bahwa semesta juga bahagia akan senja yang hadir walau sebenarnya di sisi lain ia bersedih, namun tidak diperlihatkan. Orang-orang yang melihat gelapnya saja, akan mengira bahwa semesta sedang bersedih.

Tetapi, mereka tidak tahu, semesta bahagia sekaligus sedih. Kenapa aku bisa?

Oh, aku lupa.

Semesta tidak bersedih, tidak pernah. Ia hanya mencoba memperlihatkan keadaan diriku sendiri. Apa? Kalian tak percaya? Sudah kuduga –aku ingin tertawa jahat dengan mengetikkan hahaha tetapi kurasa itu sangat tidak penting sekalipun tetap kutuliskan.

Aku lupa dan baru ingat kalau aku lupa dan akhirnya mengingat apa yang aku lupa. Kucingku sakit tetapi hari itu juga aku harus menjadi pembawa acara, dimana aku tidak mungkin bersikap tidak profesional dengan menampakkan wajah khawatir di acara milad salah satu ukm di kampusku. Kau tahu wajah khawatir dan milad saja sudah tidak sinkron, apalagi dengan tema sweet seventeen dan kucing sakit. Beritahu aku letak sinkronnya jika ada agar aku bisa merutuki betapa bodohnya aku.

Karena, sekalipun aku khawatir dan bersedih, kucingku mati dan aku sama sekali tidak menangis. Aku menghela napas mengetikkan bagian sebelumnya dan perlu menatap layar laptopku lebih lama dari pada biasanya, aku ingat aku masih memiliki tugas yang menumpuk.

Pagi ini aneh sekali, aku baru ingat kalau aku memiliki tugas dan yang kulakukan adalah meratapi entah berapa banyak lagi kutu yang masih ada di kepalaku, cerah dan gelapnya awan kemarin, kucingku yang ma–

Ah, aku ingat. Kucingku bernama hati.

Sekarang, hati sudah tidak ada lagi. Ia mati.

tamat

Sebenarnya berniat menulis satu hari satu tulisan, tapi, karena sibuk sama final ya… seenggaknya melakukan aktivitas bermanfaat di waktu luang -selain ibadah.

Advertisements

Kata Tak Terdengar

“Sebentar lagi bintang akan muncul.”

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, aku mengerti apa maksudnya. Tetapi aku tidak berani mengatakan yang sedang bergejolak di dada dan kepalaku, yang ingin segera lolos secara bersamaan dari mata dan bibirku.

Jadi, aku hanya tertawa dan menatap kedua matanya. Sekilas saja. Karena sekilas saja telah sanggup menarik pasokan oksigen yang aku butuhkan, yang tak pernah tak kunikmati.

“Tentu saja Continue reading Kata Tak Terdengar