Apa yang Salah dengan Menyimpan Dendam Sebenarnya?

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Beberapa sopir taksi bersiul-siul ketika aku lewat dan aku benci itu. Beberapa bayi dengan luaran pemuda bersiul-siul saat aku memasuki kafe ini, salah satu bahkan dengan menjijikannya membuat skenario monolog dan memerankannya secara langsung padaku. Kurasa ia berharap agar aku ma menambahkan beberapa kalimat agar sknario menjijikannya berubah menjadi dialog, seperti yang ia harapkan.

Mereka telah memperburuk suasana hatiku, jangan salahkan aku jika yang terjadi berikutnya adalah pembunuhanku kali ini menghilangkan lebih dari satu nyawa bersalah. Perempuan tua yang menjadi incaran awalku memang telah meminta kematiannya sendiri kepadaku. Berkali-kali ia memasang wajah manis palsu, meminnta aku untuk membagi sedikit saja harta yang tak pernah ada kewajiban untuk kubagi  dengannya.

Inginnya bibir wanita itu ku robek-robek setelah kusayat dengan pisau dapurnya sendiri, namun aku merasa jijik jika harus bersentuhan dengan darah kotornya. Jadi, kubiarkan jemariku menandatangani apa yang  ingin dimilikinya. Aku percaya senyuman yang ia berikan kini mengandung sumpah serapah yang sayang sekali tak akan mampu ia lontarkan di hadapanku.

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Perempuan itu akhirnya  mati di  tanah yang sangat ia inginkan, kubiiarkan ia mati tanpa perlu menahan sakit terlalu lama. Cukup  dengan membuat jalanan yang  akan ia lewati basah dan karena ia  wanita cerdas yang  menggunakan heels kemanapun kedua kakinya melangkah, tidaklah sulit untuk membuatnya mati meski aku tidak memindahkan batu-batu yang sudah ada di sana.

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Para supir taksi itu secara bersamaan mengalami kecelakaan beruntun di tempat yang sama, sedangkan para bayi malang itu ditemukan mati overdosis.

Apa yang  salah dengan menyimpan dendam, kemudian meluapkannya saat waktunya memang harus?

Advertisements

Saat Sekarang

1503150142804

“Kau lebih suka memandang matahari?”

Ia melirikku, sudut bibirnya tertarik seakan pertanyaanku hal tertolol yang pernah ia dengar, kemudiaan kedua matanya kembali menatap ke arah matahari yang baru saja hadir dan bergerak dengan malas-malasan. Aku menatapnya yang sedang menatap matahari seakan benda itu tak akan ada  lagi disana keesokan harinya, seakan ia  tak pernah melihat benda itu sebelumnya.

“Aku lebih suka kau berhenti memandangku.” Ia menghidu aroma cokelat dalam mug yang digenggamya, “pipiku  jadi hangat.”

Ia  meminum cokelatnya, menghindar menatap kedua mataku, sialnya jantungku tetap tak berhenti berlari maraton hanya karena senyumannya. Dua kali sial karena cahaya matahari yang bergerak malas-malasan itu menyentuh permukaan kulitnya yang belum tersentuh apapun itu yang selalu ia gunakan pada wajahnya sehingga aku lebih suka berkawan  dengan macet  saat akan menjemputnya setiap kali kami akan pergi. Wajahnya terlihat lembut, sial, aku tak tahu kenapa harus menggunakan kata lembut untuk mendeskripsikannya.

“Kau tidak berniat mengotori bantal itu,  kan? Aku kasihan kau akan membuat orang berdosa karena menggerutuimu.” Ia menyeringai dan baru ketika kedua matanya beralih dari menatapku, cokelat dalam mugku nyaris mewarnai bantal putih yang sejak  tadi kupangku. Aku memperbaiki posisi dudukku dan bersandar, ini memalukan, tetapi jantungku nyatanya lemah dengan tawanya bersama sinar matahari yang menyentuh kulitnya.

“Kau tahu apa yang aku sukai?” tanyaku. Iris cokelatnya terlihat jelas akibat  sinar matahari, menoleh sejenak ke kanan sebelum kembali memandangku dan menggeleng.

“Apa?”

“Sekarang.”

“Sekarang?”

Aku mengangguk. Kupikir mengatakannya akan membuatku sedikit lebih membaik, sialnya, senyuman  itu semakin lebar. Senyum malu-malu yang diterpa cahaya matahari yang entah malas entah malu untuk bergerak naik dan harus kuakui, aku menyukai saat sekarang ini.

TAMAT

Terinspirasi dari foto teman saya  @holynaldy, dimana teman saya, Ramadhan dan Naya,  yang menjadi modelnya. iye, ini alay.

Akhirnya Pergi

pada akhirnya kamu memilih pergi

tanpa menjanjikan akan pulang

dan aku tidak akan menangis

mungkin  akan

tetapi akan kucari cara agar bukan pergimu penyebabnya

seperti  sore ini

setelah tiga belas alasan akhirnya wanita itu memilih pergi

beda denganmu dia tak akan pernah kembali

dalam serial itu orang-orang yang menyayanginya merasa hilang

merasa hampa

aku tidak akan mengatakan aku hampa

pada akhirnya kamu pergi

dan tidak menjanjikan pulang

dan aku berterima kasih untuk itu

jangan beri aku janji

berikan kepada-Nya saja

minta aku  kepada-Nya

seperti aku selalu meminta dirimu.