Bohong

Kali ini tak kulihat sinar di kedua matamu. Ia hanya dalam dan tak sadar. Misterius dan mencekam. Tak lagi magis yang menyenangkan, tidak lagi mengundangku untuk menyelam dengan perasaan yang menyenangkan.

Kedua matamu kini bagai palung laut.

“Kau berbohong.”

Kau benar, jawaban itu lebih dari cukup untuk membuatku tak berani  mendekatimu. Apalagi menyentuhmu.

 

7 Jam Sebelum Kematianku

janeandpaulus

(pic: janepaludanus.tumblr.com)

Kau pasti telah menemukan diriku dalam keadaan tidur lelap, tidur yang tak akan ada bangunnya. Tenanglah, semua ini memang telah ditentukan. Bahkan sebelum Adam dan Hawa turun ke dunia.

Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu. Seperti:

  1. Terima kasih
  2. Aku mencintaimu
  3. Sangat mencintaimu
  4. Kau bebas menonton film-film kesukaanmu tanpa harus terganggu oleh telepon atau pesan-pesanku
  5. Kau bebas pergi atau telponan dua puluh empat jam penuh dengan siapa saja
  6. S I A P A S A J A
  7. Kau tak perlu lagi terpaksa berkata YA pada setiap keinginanku yang seharusnya secara otomatis terjawab TIDAK darimu
  8. Aku mencintaimu
  9. Aku tahu kau tak benar-benar mencintaiku

Jika kau bertanya bagaimana aku bisa tertidur begitu saja padahal sejam sebelumnya teleponku –yang akan kulakukan nanti dan aku sudah memastikan- tetap mengganggumu dan kau tetap mengangkatnya dan aku masih sempat menyelesaikan semangkuk sup yang kusiapkan untuk kalian semua yang saat ini sedang sibuk mengurusi tubuhku yang tak akan berbau busuk karena aku sudah memandikan diriku dengan bunga-bunga serta –akulupa apa namanya saat membeli- yang digunakan untuk memandikan mayat.

Aku sudah buang air besar jadi kupastikan tak akan ada lagi kotoran di dalam tubuhku. Aku juga sudah menentukan kepada siapa saja barang-barangku yang tak bisa kubawa ke alam baka itu berhak.

Kau pasti ingin bertanya mengapa dari semua hanya surat ini yang kuberikan padamu. Kau memiliki sesuatu yang semua orang ingin miliki, sayangku. Surat ini hanya simbolisasi semata. Pun, yang kuberikan padamu sudah kau habiskan.

Waktu.

Waktuku di dunia ini, juga adalah milikmu. Bayangkan, kau memiliki waktu selain milikmu di dunia ini. Tapi, waktuku telah habis. Itu saja. Sampai jumpa.

Yang Mencintaimu

Seperti Keran Air

Amazing-Arctic-Bathroom-Wastafel-Bathtub-Design-05

“Kau terlalu berlebihan, apa masalahmu besarnya?”

Kau.

Tentu saja, tak kubiarkan kedua belah bibirku terbuka hanya untuk menjawabnya. Kutuliskan judul-judul buku yang akan kukembalikan, tersenyum pada penjaga perpus dan berlalu menuju rak-rak buku. Meminjam lagi.

Manusia itu masih mengikuti, aku memeluk tiga buah buku dan ia berdiri menghalangiku. Aku memilih berbalik dan berjalan melalui arah lain, masih ada buku yang ingin ku cari. Sengaja kuambil banyak, agar satu hariku bisa kuhabiskan secara lebih baik untuk memikirkan hal-hal lain. Seperti apa yang terjadi andai saja Nyai Manggis tidak mati meninggalkan Sungu Lembu, andai yang aneh memang.

Tetapi akan lebih aneh jika aku harus berandai mengenai manusia tadi berbicara kepadaku, oh, masih sampai sekarang.

“Aku seperti Casper yang transparan, kau mungkin lebih tertarik andai Casper benar-benar ada.”

Aku bahkan lebih tertarik dengan ketiadaan daripada keberadaan yang ada dirimu.

Hanya melangkah menuju tempat peminjaman, lalu setelah itu aku bisa pulang dan tak perlu menggunakan waktuku dimana ada dia bersamanya.

“Kau tahu kan, aku. . .”

Telingaku menjadi awas seketika, tetapi aku tetap berjalan dan memberikan senyum kepada penjaga perpustakaan. Aku tahu ia kali ini tak akan berani berbicara, sementara penjaga perpustakaan memasang telinga dan mencuri lihat kepadaku dan dirinya.

Kenapa? Tak berani bicara, kan?

Ternyata tidak sulit. Ini lebih baik dibanding harus kudengar segala dusta darinya. Aku terselamatkan dari kebodohan dan dia terselamatkan dari dosa berkat dustanya.

Aku melangkah meninggalkannya, sialnya, ini tetap menyakitkan ternyata.

Air mataku mengalir begitu saja seperti keran air yang tetap mengeluarkan air meski sudah ditutup.

 

Kucing Bernama Hati (1 in Ramadhan)

Seharusnya aku tidak menuliskan pagi ini terasa aneh sekali pada saat ini. Seharusnya aku pun tak perlu menuliskan seharusnya, tetapi pagi ini memang begitu. Aku mandi dan menyisir rambutku begitu menggunakan sampoo dan tebak, kau ingin menebaknya, kan?

Setelah bertahun-tahun bahagia hidup tanpanya, aku perlu tabah  menemukan beberapa kutu –aku tahu kalian berjengit, bayangkan aku ketika mengetiknya sembari membayangkan kejadian yang baru saja kualami- pada helaian rambutku yang menempel pada sela-sela jemariku.

Ini… adalah pagi yang sangat aneh. Atau kau bisa menyebut bahwa hari ini adalah hari yang aneh, kau tahu, hari ini diawali dengan telpon yang tak terduga namun tak diangkat. Menyedihkannya, di saat aku tertidur di malam aku memutuskan untuk tidak tidur.

Kemudian aku juga menemukan sesuatu, awan sejak kemarin –atau mungkin kemarinnya lagi- menjadi gelap di timur dan cerah di barat. Seakan semesta sedang bahagia sekaligus sedih. Oh, bisa kah kita mengalaminya? Setidaknya, bisakah manusia menunjukkan keduanya?

Kurasa manusia tidak bisa, atau, entah. Pagi ini aneh karena aku memikirkan mungkin saja bagian yang cerah itu memang ditunjukkan untuk memperlihatkan bahwa semesta juga bahagia akan senja yang hadir walau sebenarnya di sisi lain ia bersedih, namun tidak diperlihatkan. Orang-orang yang melihat gelapnya saja, akan mengira bahwa semesta sedang bersedih.

Tetapi, mereka tidak tahu, semesta bahagia sekaligus sedih. Kenapa aku bisa?

Oh, aku lupa.

Semesta tidak bersedih, tidak pernah. Ia hanya mencoba memperlihatkan keadaan diriku sendiri. Apa? Kalian tak percaya? Sudah kuduga –aku ingin tertawa jahat dengan mengetikkan hahaha tetapi kurasa itu sangat tidak penting sekalipun tetap kutuliskan.

Aku lupa dan baru ingat kalau aku lupa dan akhirnya mengingat apa yang aku lupa. Kucingku sakit tetapi hari itu juga aku harus menjadi pembawa acara, dimana aku tidak mungkin bersikap tidak profesional dengan menampakkan wajah khawatir di acara milad salah satu ukm di kampusku. Kau tahu wajah khawatir dan milad saja sudah tidak sinkron, apalagi dengan tema sweet seventeen dan kucing sakit. Beritahu aku letak sinkronnya jika ada agar aku bisa merutuki betapa bodohnya aku.

Karena, sekalipun aku khawatir dan bersedih, kucingku mati dan aku sama sekali tidak menangis. Aku menghela napas mengetikkan bagian sebelumnya dan perlu menatap layar laptopku lebih lama dari pada biasanya, aku ingat aku masih memiliki tugas yang menumpuk.

Pagi ini aneh sekali, aku baru ingat kalau aku memiliki tugas dan yang kulakukan adalah meratapi entah berapa banyak lagi kutu yang masih ada di kepalaku, cerah dan gelapnya awan kemarin, kucingku yang ma–

Ah, aku ingat. Kucingku bernama hati.

Sekarang, hati sudah tidak ada lagi. Ia mati.

tamat

Sebenarnya berniat menulis satu hari satu tulisan, tapi, karena sibuk sama final ya… seenggaknya melakukan aktivitas bermanfaat di waktu luang -selain ibadah.

Kata Tak Terdengar

“Sebentar lagi bintang akan muncul.”

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, aku mengerti apa maksudnya. Tetapi aku tidak berani mengatakan yang sedang bergejolak di dada dan kepalaku, yang ingin segera lolos secara bersamaan dari mata dan bibirku.

Jadi, aku hanya tertawa dan menatap kedua matanya. Sekilas saja. Karena sekilas saja telah sanggup menarik pasokan oksigen yang aku butuhkan, yang tak pernah tak kunikmati.

“Tentu saja Continue reading Kata Tak Terdengar

Tukang Menunggu

Sore dan hujan baru saja berhenti, penjemputku belum juga datang dan awan hitam mulai berarak menuju atas kepalaku. Kuhentak kakiku ringan, memandangi lalu lalang kendaraan di sore hari yang begitu padat. Semua orang ingin segera berada di rumah.

Kecuali untuk satu orang, aku kurang tahu siapa dia. Ujung-ujung rambutnya menyentuh bahu, tiap kali angin berhembus rambutnya akan bergerak dengan lembut. Aku tidak tahu siapa yang ia tunggu, karena setiap kali aku menunggu, gadis itu telah ada di sana hingga akhirnya aku pergi.

Kurasa penjemputku kali ini akan terlambat, tidak seperti biasanya. Gadis itu juga masih berdiri di seberang sana. Kuperhatikan ia menatap lurus pada gerbang kampus, sesekali pada langit dan awan gelap, lalu pada pelangi yang baru kali ini kembali kulihat. Setidaknya aku punya sesuatu yang menarik untuk diamati.

Kuamati, gadis itu sesekali melirik ponselnya. Mungkin untuk melihat jam atau mengecek keberadaan orang yang ditunggunya. Mungkin ia memang selalu menunggu lebih lama daripada aku. Tapi, selama apa? Ia sudah berdiri di sana sebelum aku berada di sini, ia masih berada di sana setelah tiga puluh menit yang lalu penjemputku seharusnya sudah ada.

Aku perlu menyipitkan kedua mataku, tetapi matanya selalu awas pada setiap pengendara motor yang keluar dari gerbang kampus. Apakah dia menunggui seseorang dalam kampus ini? Lalu, mengapa mereka tak bersamaan saja.

Aku ingin mengamatinya lagi lebih lama, tetapi penjemputku sudah datang. Dan ia masih berdiri di sana, menunggu entah apa.

***

Kuminta penjemputku untuk datang lebih lama kali ini, aku ingin tahu siapa yang gadis itu tunggu. Aku bahkan berada di tempatku biasa menunggu lebih cepat dari biasanya. Hujan baru saja berhenti dan beberapa menit kemudian gadis itu muncul, ia kembali berdiri di tempatnya biasa berdiri dan menunggu entah apa.

Aku masih mengkhawatirkan awan gelap yang pelan-pelan berarak menuju kemari, seakan mengantisipasikan pada diriku bahwa ia akan segera hadir dan mendatangkan hujan. Anehnya, gadis itu mengamatinya dengan pandangan yang janggal menurutku. Mengapa seseorang menatap merindu seperti itu pada awan yang gelap? Apakah dia merindukan hujan?

Hingga setengah jam lagi matahari akan terbenam, gadis itu masih berdiri di sana. Matahari bahkan mulai tertutupi awan dan pelangi yang hadir setelah hujan tadi perlahan-lahan menghilang, anehnya, gadis itu mengamatinya.

Gadis itu mengamati pelangi yang perlahan-lahan menghilang sembari sesekali mengamati ponselnya. Begitu pelangi menghilang dan matahari yang segera terbenam tak lagi tertutupi oleh awan, gadis itu mulai fokus pada ponselnya.

Jemarinya tak bergerak, ia hanya melihat kurasa.

Dan apa yang sejak tadi kujelaskan padamu, hanyalah pergerakan kecil gadis itu. Maksudku, sejak tadi ia hanya memandang gerbang kampus. Sembari melihat hal lain. Hingga gerbang kampus hanya terbuka setengah dan penghuni kampus nyaris kembali semua, gadis itu masih berdiri di sana.

Pukul enam tepat saat matahari terbenam dan menyisakan bayangan panjang, gadis itu akhirnya melangkah sedikit. Ia tersenyum sedih pada gerbang kampus, lalu segera naik ke angkutan umum yang berdiri di hadapannya.

Mungkin, ia sedang menghitung kemungkinan terjadinya ketidakmungkinan. Berdoa agar ketidakmungkinan itu sekali saja mengalami keajaiban dan berubah menjadi mungkin. Tetapi, ia benar akan ketidakmungkinan tersebut walau berkali-kali ia memberi kesempatan. Itu sebabnya ia tersenyum sedih.

Yang kuyakini, ia tahu yang ia tunggu akan datang. Namun, bukan dengan cara yang ia tahu tidak mungkin. Yang aku tahu, ia hanya menunggu di tempat lain. Tetap pada orang yang sama.