Apa yang Salah dengan Menyimpan Dendam Sebenarnya?

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Beberapa sopir taksi bersiul-siul ketika aku lewat dan aku benci itu. Beberapa bayi dengan luaran pemuda bersiul-siul saat aku memasuki kafe ini, salah satu bahkan dengan menjijikannya membuat skenario monolog dan memerankannya secara langsung padaku. Kurasa ia berharap agar aku ma menambahkan beberapa kalimat agar sknario menjijikannya berubah menjadi dialog, seperti yang ia harapkan.

Mereka telah memperburuk suasana hatiku, jangan salahkan aku jika yang terjadi berikutnya adalah pembunuhanku kali ini menghilangkan lebih dari satu nyawa bersalah. Perempuan tua yang menjadi incaran awalku memang telah meminta kematiannya sendiri kepadaku. Berkali-kali ia memasang wajah manis palsu, meminnta aku untuk membagi sedikit saja harta yang tak pernah ada kewajiban untuk kubagi  dengannya.

Inginnya bibir wanita itu ku robek-robek setelah kusayat dengan pisau dapurnya sendiri, namun aku merasa jijik jika harus bersentuhan dengan darah kotornya. Jadi, kubiarkan jemariku menandatangani apa yang  ingin dimilikinya. Aku percaya senyuman yang ia berikan kini mengandung sumpah serapah yang sayang sekali tak akan mampu ia lontarkan di hadapanku.

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Perempuan itu akhirnya  mati di  tanah yang sangat ia inginkan, kubiiarkan ia mati tanpa perlu menahan sakit terlalu lama. Cukup  dengan membuat jalanan yang  akan ia lewati basah dan karena ia  wanita cerdas yang  menggunakan heels kemanapun kedua kakinya melangkah, tidaklah sulit untuk membuatnya mati meski aku tidak memindahkan batu-batu yang sudah ada di sana.

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Para supir taksi itu secara bersamaan mengalami kecelakaan beruntun di tempat yang sama, sedangkan para bayi malang itu ditemukan mati overdosis.

Apa yang  salah dengan menyimpan dendam, kemudian meluapkannya saat waktunya memang harus?

Advertisements

Muak

Ini bukan cerpen, ini bukan apapun itu. Saya hanya ingin menguraikan sesuatu, bahwa beberapa hal membuat saya muak. Saya muak dengan banyak bicara, saya muak dengan mengumbar sana dan sini. Saya bahkan muak melihat semua postingan foto teman-teman saya di Instagram, entah kenapa.

Saya tahu, harusnya saya tidak merasa menjadi orang yang paling hebat. Tapi, saya tidak paham atas segala… saya tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Saya tetap ingin terkoneksi dengan dunia tanpa harus benar-benar memperhatikan. Kalau bisa, saya ingin ke dunia di mana Squidword -benarkan saya jika salah menuliskan nama- hanya sendirian.

S-E-N-D-I-R-I-A-N.

Saya bahkan tidak tahu kenapa saya harus mengetikkan ini. Tetapi, ini adalah curahan dimana saya percaya tidak akan ada yang melihat. Kecuali sedang iseng. Ia, saya memang se-tidak-jelas ini. Saya muak dan lebih muak lagi karena tetap melakukan apa yang membuat saya muak dan masih merasa keren -oke, saya ingin muntah- seakan saya butuh pujian. HAHAH.

Saya iri pada mereka yang aktif tapi mampu menyembunyikan pribadinya. Saya benci pada diri saya yang suka mengumbar dan pada saat saya mengharapkan pujian, seakan saya membutuhkan itu untuk membuat saya terlihat ada. Tetapi, saya lebih muak lagi pada mereka yang diam dan beraninya hanya di belakang punggung saja. Seakan mereka adalah orang paling baik yang tidak tega untuk mengeluarkan amarah mereka, nyatanya mereka hanya munafik. Dan saya lebih muak lagi pada diri saya sendiri yang merasa lebih baik pada mereka, merasa tidak tahu.

Merasa kerdil.

Lagi, berani-beraninya orang kerdil seperti saya mengkerdilkan orang lain!

Paradoks

paradokss

Hari ini aku kembali membaca sebuah novel berjudul Klandestin, salah satu babnya berjudul Paradoksal. Pada bab itu, Nala Anarki mencium Nirbita Arunika yang begitu kuat dikatakannya bahwa ia tidak mencintainya. Sekalipun ia berusaha melindungi wanita itu dari malapetaka yang berusaha mengejarnya.

Aku mempertanyakan diriku sendiri hari ini. Betapa paradoksnya aku, dengan perasaan, pikiran, serta perbuatan yang bertentangan. Kukatakan aku tidak menyukainya, tetapi tanganku tergelitik untuk melihat sosial medianya. Kukatakan aku tidak mencintainya, tetapi sering kali rasa peduliku terasa berlebih padanya. Kukatakan aku telah mengikhlaskannya, tetapi masih amat sangat kukenali wajahnya. Kukatakan aku tidak lagi memikirkannya dan mengharapkannya, nyata aku membutuhkan dirinya.

Dalam diamku.

Apa yang salah dengan diriku?

Mendengar Nama Kartini

Setiap tanggal 21 April serta beberapa hari sebelum dan sesudahnya, perempuan menjadi topik yang paling hangat. Sebagai bahan diskusi pada berbagai forum, tokoh utama dalam film yang bertema kehebatan perempuan, headline news di berbagai media, atau pun dirayakan dengan peragaan busana tradisional khusus untuk perempuan-perempuan kecil yang masih berseragam rok merah.

Hal itu dikarenakan 21 April merupakan hari lahir salah satu pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Bagi saya sendiri, Kartini merupakan perempuan pertama yang saya tahu menjadi pahlawan Indonesia selain Continue reading Mendengar Nama Kartini

Maaf.

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin untuk kalian semua yang membaca blog ini. Aku tahu tak banyak -memang- tapi aku berharap kalian mau membacanya sampai habis.

Aku sangat… sangat suka dan menikmati waktu yang ku habiskan untuk menulis. Sampai setiap ide yang ada berusaha ku tulis, ku saring baik-baik sebelum aku berani mempostingnya disini.

Aku berusaha sebaik mungkin untuk menulis, membuat pembaca puas dengan cerita yang ku buat. Meski pengunjungnya sedikit -yang berarti yang memberi komen dan like juga sedikit, hehe.

Tapi, aku tidak bermasalah dengan itu. Sama sekali tidak. Aku menulis karena aku memang ingin menulis. Tapi ternyata kesibukan membuatku tidak bisa meluangkan waktu untuk semua hal yang ingin ku lakukan. Jika bukan terkena Writer’s Block saat mendapat waktu senggang, tubuhku sudah terlalu lelah untuk menulis. Sehingga aku memilih untuk melakukan hal lain.

Sungguh jahat, bukan?

Aku tahu rasanya menunggu sebuah cerita yang tak usai. Itu menyebalkan. Dan aku tahu aku menjadi menyebalkan seperti yang aku tak suka. Jadi, aku memohon maaf pada kalian semua. Aku akan berusaha untuk melanjutkan ceritaku yang belum usai, satu per satu.

Meski aku tak tahu ada berapa banyak yang menantikannya, aku tetap akan melanjutkannya. Mohon bersabarlah 🙂

FIGHTING ! ! !

 

 

Mimpi Yang Salah

holding hands gif

Tak ada yang salah dengan bermimpi, kau dibebaskan untuk itu.

Tentang apapun itu, tak masalah.

Meskipun itu adalah sesuatu yang mustahil, jelas sekali tak akan terjadi –terlepas dari segalanya mungkin.

Pun jika kau berharap mimpimu menjadi kenyataan, tak masalah.

Selama mimpi itu realistis dan masuk kategori mungkin.

Yang salah dari bermimpi itu ketika kau mengharapkan yang mustahil menjadi kenyataan.

Mimpi yang masuk kategori jelas sekali tak akan terjadi.

Contohnya?

Memimpikan bisa bersama denganmu

Tak masalah.

Berharap mimpi bisa bersama denganmu menjadi nyata.

Salah.