Aku Mau

tightrope

Well, it’s all an adventure
That comes with a breathtaking view
Walking the tightrope
…with you.
Michelle Williams – Tightrope
Aku merasa ini waktunya
Tepat ketika aku menyadari bahwa kau memegang tanganku
Mulutmu tidak mengeluarkan busa
Busa hadir dan menghilang begitu saja
Mulutmu dan dirimu tidak begitu
Aku mau
Kulihat kau tidak peduli manusia lain
Kau tidak juga pura-pura tidak peduli
Pura-pura sementara nyatanya kau hanya ingin terlihat keren
Aku mau
Semesta memang menuliskan diriku dan dirimu
Jika diujung sana ada jurang
Aku percaya kau akan memegangku
Sebab, aku juga akan memegang tanganmu
Aku mau
terinspirasi dari Tightrope
oleh Michelle Williams
Advertisements

Song

I really love the lyrics and the… is it the melody or what?

But I hate some fact if I share that I like this song

People would thinking about you

Maybe it’s true

But not exactly like they thought

Sometimes things better to keep just for our self

 

Apa yang Salah dengan Menyimpan Dendam Sebenarnya?

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Beberapa sopir taksi bersiul-siul ketika aku lewat dan aku benci itu. Beberapa bayi dengan luaran pemuda bersiul-siul saat aku memasuki kafe ini, salah satu bahkan dengan menjijikannya membuat skenario monolog dan memerankannya secara langsung padaku. Kurasa ia berharap agar aku ma menambahkan beberapa kalimat agar sknario menjijikannya berubah menjadi dialog, seperti yang ia harapkan.

Mereka telah memperburuk suasana hatiku, jangan salahkan aku jika yang terjadi berikutnya adalah pembunuhanku kali ini menghilangkan lebih dari satu nyawa bersalah. Perempuan tua yang menjadi incaran awalku memang telah meminta kematiannya sendiri kepadaku. Berkali-kali ia memasang wajah manis palsu, meminnta aku untuk membagi sedikit saja harta yang tak pernah ada kewajiban untuk kubagi  dengannya.

Inginnya bibir wanita itu ku robek-robek setelah kusayat dengan pisau dapurnya sendiri, namun aku merasa jijik jika harus bersentuhan dengan darah kotornya. Jadi, kubiarkan jemariku menandatangani apa yang  ingin dimilikinya. Aku percaya senyuman yang ia berikan kini mengandung sumpah serapah yang sayang sekali tak akan mampu ia lontarkan di hadapanku.

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Perempuan itu akhirnya  mati di  tanah yang sangat ia inginkan, kubiiarkan ia mati tanpa perlu menahan sakit terlalu lama. Cukup  dengan membuat jalanan yang  akan ia lewati basah dan karena ia  wanita cerdas yang  menggunakan heels kemanapun kedua kakinya melangkah, tidaklah sulit untuk membuatnya mati meski aku tidak memindahkan batu-batu yang sudah ada di sana.

Apa yang salah dengan menyimpan dendam sebenarnya?

Para supir taksi itu secara bersamaan mengalami kecelakaan beruntun di tempat yang sama, sedangkan para bayi malang itu ditemukan mati overdosis.

Apa yang  salah dengan menyimpan dendam, kemudian meluapkannya saat waktunya memang harus?

Muak

Ini bukan cerpen, ini bukan apapun itu. Saya hanya ingin menguraikan sesuatu, bahwa beberapa hal membuat saya muak. Saya muak dengan banyak bicara, saya muak dengan mengumbar sana dan sini. Saya bahkan muak melihat semua postingan foto teman-teman saya di Instagram, entah kenapa.

Saya tahu, harusnya saya tidak merasa menjadi orang yang paling hebat. Tapi, saya tidak paham atas segala… saya tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Saya tetap ingin terkoneksi dengan dunia tanpa harus benar-benar memperhatikan. Kalau bisa, saya ingin ke dunia di mana Squidword -benarkan saya jika salah menuliskan nama- hanya sendirian.

S-E-N-D-I-R-I-A-N.

Saya bahkan tidak tahu kenapa saya harus mengetikkan ini. Tetapi, ini adalah curahan dimana saya percaya tidak akan ada yang melihat. Kecuali sedang iseng. Ia, saya memang se-tidak-jelas ini. Saya muak dan lebih muak lagi karena tetap melakukan apa yang membuat saya muak dan masih merasa keren -oke, saya ingin muntah- seakan saya butuh pujian. HAHAH.

Saya iri pada mereka yang aktif tapi mampu menyembunyikan pribadinya. Saya benci pada diri saya yang suka mengumbar dan pada saat saya mengharapkan pujian, seakan saya membutuhkan itu untuk membuat saya terlihat ada. Tetapi, saya lebih muak lagi pada mereka yang diam dan beraninya hanya di belakang punggung saja. Seakan mereka adalah orang paling baik yang tidak tega untuk mengeluarkan amarah mereka, nyatanya mereka hanya munafik. Dan saya lebih muak lagi pada diri saya sendiri yang merasa lebih baik pada mereka, merasa tidak tahu.

Merasa kerdil.

Lagi, berani-beraninya orang kerdil seperti saya mengkerdilkan orang lain!

Paradoks

paradokss

Hari ini aku kembali membaca sebuah novel berjudul Klandestin, salah satu babnya berjudul Paradoksal. Pada bab itu, Nala Anarki mencium Nirbita Arunika yang begitu kuat dikatakannya bahwa ia tidak mencintainya. Sekalipun ia berusaha melindungi wanita itu dari malapetaka yang berusaha mengejarnya.

Aku mempertanyakan diriku sendiri hari ini. Betapa paradoksnya aku, dengan perasaan, pikiran, serta perbuatan yang bertentangan. Kukatakan aku tidak menyukainya, tetapi tanganku tergelitik untuk melihat sosial medianya. Kukatakan aku tidak mencintainya, tetapi sering kali rasa peduliku terasa berlebih padanya. Kukatakan aku telah mengikhlaskannya, tetapi masih amat sangat kukenali wajahnya. Kukatakan aku tidak lagi memikirkannya dan mengharapkannya, nyata aku membutuhkan dirinya.

Dalam diamku.

Apa yang salah dengan diriku?

Mendengar Nama Kartini

Setiap tanggal 21 April serta beberapa hari sebelum dan sesudahnya, perempuan menjadi topik yang paling hangat. Sebagai bahan diskusi pada berbagai forum, tokoh utama dalam film yang bertema kehebatan perempuan, headline news di berbagai media, atau pun dirayakan dengan peragaan busana tradisional khusus untuk perempuan-perempuan kecil yang masih berseragam rok merah.

Hal itu dikarenakan 21 April merupakan hari lahir salah satu pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Bagi saya sendiri, Kartini merupakan perempuan pertama yang saya tahu menjadi pahlawan Indonesia selain Continue reading Mendengar Nama Kartini