Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi Review

Saya selalu suka membaca puisi, saking indahnya membuat saya terkadang melupakan apa arti sebenarnya dari puisi tersebut. Rangkaian kata indahnya menghipnotis saya untuk terus membacanya, membayangkan hangat yang kadang saya rasakan menjadi sensasi tersendiri saat membaca sebuah puisi.

Seseorang yang memiliki nama belakang sama dengan saya, M. Aan Mansyur, membuat saya betah berlama-lama membaca puisi-puisinya. Saya akan memilih tempat yang hening dan damai untuk membaca rangkaian kata yang diucapkannya pada siapa pun, berbeda dengan novel yang dengan begitu mudahnya akan saya baca, kapan saja dan dimana saja.

Namun puisi kali ini berubah menjadi wujud yang lain, setahun yang lalu saya begitu ingin menangisi kecerdasan saya yang tidak menabung dan membiarkan buku-buku apalagi yang baru hadir begitu saja tanpa saya beli.

Aan Mansyur begitu pandai merangkai puisi, lebih hebat lagi dalam membuat novel yang membuat saya seakan-akan didongengi, itulah yang saya rasakan saat membaca Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi karya yang ia terbitkan setahun yang lalu.

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi membuat saya bertanya-tanya akan nyata dan tidak nyata, saya seakan-akan melihat bagian kehidupan dari seorang Aan Mansyur, namun membaca kisah seorang tokoh fiksi dalam waktu bersamaan.

Saya mendapati diri saya setuju dengan hampir semua pemikiran Jiwa, tokoh dalam Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, sejak awal bab. Ketika ia mengatakan bahwa, “Semua orang pernah disakiti, dan salah satu kebahagiaan langka dalam hidup ini adalah melihat orang yang menyakiti kita menyadari kesalahannya.”

Kalimat itu seperti memberitahu kita bahwa kau bisa melakukan pembalasan dendam yang manis tanpa harus melakukan pembalasan dendam itu sendiri.

Mungkin kalian akan bosan membaca tulisan saya ini, sungguh, saya pun bingung ingin menuliskan apalagi. Apa yang saya sukai dari Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi adalah saya seakan mampu untuk melihat dan merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh Jiwa, Aan Mansyur mampu untuk melakukan hal-hal seperti itu.

Oh, seorang teman saya bertanya apa maksud dari Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Saya bisa simpulkan, Bung, ini tentang Lelaki yang berkawan dengan sepi dan ingin membahagiakan kesedihan dalam dirinya, itu sebabnya ia menjadi lelaki terakhir yang menangis di bumi.

Catatan-catatan kaki dari Nanti membuat saya merasa seakan-akan Nanti berada di sebelah saya, mengatakan langsung pemikirannya tentang apa yang Jiwa tuliskan. Saya merasa miris dan entah apa namanya, tetapi mengetahui bahwa Jiwa telah meninggal dan apa yang akan terjadi andai ia masih bernapas, membuat saya menyadari bahwa kita memang hanya bisa berencana.

Dan, tidak, saya tidak segera berlari meraih ponsel saya dan menghubungi dia.

Dan lagi, saya membaca novel ini sambil mendengarkan Home to You yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda, mendengarkannya sambil membaca novel ini memang akan membuat kalian semakin rindu. Lagu tentang rindu dan novel tentang kenangan.

Selamat menikmati Sabtu yang basah!

(ditulis nyaris satu tahun yang lalu, saya sedang mencoba merapikan folder dan menemukan tulisan ini. Saya ingat, buku dan lagu dalam tulisan ini punya cerita yang tak bisa saya pisahkan dari kamu. jika saja kamu iseng lagi membuka blog saya atau folder-folder di laptop saya dan membaca tulisan-tulisan lama saya, percaya sama saya, itu adalah saya yang dulu. itu adalah salah satu  proses saya menjadi saya yang sekarang, proses sebelum saya  dipantaskan semesta untuk menemui kamu. bayangkan andai otak saya masih dangkal namun merasa paling  benar, kamu mungkin tidak akan mau melirik saya, pun sebaliknya. anggap saja ini catatan-catatan kecil saya untuk kamu, jika kamu menyadari dia diatas adalah dari masa lalu. tetapi, siapa saya berharap kamu akan membaca ini)

Muak

Ini bukan cerpen, ini bukan apapun itu. Saya hanya ingin menguraikan sesuatu, bahwa beberapa hal membuat saya muak. Saya muak dengan banyak bicara, saya muak dengan mengumbar sana dan sini. Saya bahkan muak melihat semua postingan foto teman-teman saya di Instagram, entah kenapa.

Saya tahu, harusnya saya tidak merasa menjadi orang yang paling hebat. Tapi, saya tidak paham atas segala… saya tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Saya tetap ingin terkoneksi dengan dunia tanpa harus benar-benar memperhatikan. Kalau bisa, saya ingin ke dunia di mana Squidword -benarkan saya jika salah menuliskan nama- hanya sendirian.

S-E-N-D-I-R-I-A-N.

Saya bahkan tidak tahu kenapa saya harus mengetikkan ini. Tetapi, ini adalah curahan dimana saya percaya tidak akan ada yang melihat. Kecuali sedang iseng. Ia, saya memang se-tidak-jelas ini. Saya muak dan lebih muak lagi karena tetap melakukan apa yang membuat saya muak dan masih merasa keren -oke, saya ingin muntah- seakan saya butuh pujian. HAHAH.

Saya iri pada mereka yang aktif tapi mampu menyembunyikan pribadinya. Saya benci pada diri saya yang suka mengumbar dan pada saat saya mengharapkan pujian, seakan saya membutuhkan itu untuk membuat saya terlihat ada. Tetapi, saya lebih muak lagi pada mereka yang diam dan beraninya hanya di belakang punggung saja. Seakan mereka adalah orang paling baik yang tidak tega untuk mengeluarkan amarah mereka, nyatanya mereka hanya munafik. Dan saya lebih muak lagi pada diri saya sendiri yang merasa lebih baik pada mereka, merasa tidak tahu.

Merasa kerdil.

Lagi, berani-beraninya orang kerdil seperti saya mengkerdilkan orang lain!

Yang Tak KuKatakan Padamu

diary

Aku tidak akan mengatakannya di sini

Aku hanya semakin menyadari

Bahwa kamu tidak mengenaliku

Seluruh tubuhku bahkan tidak mengerti

Mereka bahkan mengkhianatiku

Debar jantungku

Binar mataku

Juga sumringah bibirku

Semuanya berkhianat

Dan kamu. . .

Seakan tidak ada apa-apa

Karena memang

apa-apaku tidak lah berarti bagimu

Yang lain-lain, cukup aku lah saja yang tahu

Karena aku sendiri tidak mengerti

Harus berbuat apa

Walau ku tahu

Aku seakan-akan tidak mau bergerak

Cukup lah

Aku takut berbicara banyak

Hingga kau tahu bagaimana aku

Yang bahkan tak lebih berarti dari debu-debu yang ada di sekitarmu

Pendampingmu Kelak

tumblr_ntygbxbnmp1s3pnu1o9_540

Aku ingat nyaris tiga bulan yang lalu

Kau mengatakan padaku

Betapa kau adalah lelaki paling bahagia

Karena memilikiku

Yang tak pernah berubah

Kau selalu takut aku akan lepas dari pelukmu

Sayangku

Sore ini kau mengaminkan yang selalu ada dalam doaku

Bahwa aku menjadi calon pendampingmu

Walau kau tak melihatnya

Semesta melihatnya sayangku

Senyumku kala kau mengamini

Walau kau tak mendengarnya

Semesta mendengarnya sayangku

Detik sebelum kau mengaminkannya

Telah aku aminkan perkataanmu

Bahwa aku adalah calon pendampingmu

Pendamping, Istrimu kelak

 

Paradoks

paradokss

Hari ini aku kembali membaca sebuah novel berjudul Klandestin, salah satu babnya berjudul Paradoksal. Pada bab itu, Nala Anarki mencium Nirbita Arunika yang begitu kuat dikatakannya bahwa ia tidak mencintainya. Sekalipun ia berusaha melindungi wanita itu dari malapetaka yang berusaha mengejarnya.

Aku mempertanyakan diriku sendiri hari ini. Betapa paradoksnya aku, dengan perasaan, pikiran, serta perbuatan yang bertentangan. Kukatakan aku tidak menyukainya, tetapi tanganku tergelitik untuk melihat sosial medianya. Kukatakan aku tidak mencintainya, tetapi sering kali rasa peduliku terasa berlebih padanya. Kukatakan aku telah mengikhlaskannya, tetapi masih amat sangat kukenali wajahnya. Kukatakan aku tidak lagi memikirkannya dan mengharapkannya, nyata aku membutuhkan dirinya.

Dalam diamku.

Apa yang salah dengan diriku?

Mendengar Nama Kartini

Setiap tanggal 21 April serta beberapa hari sebelum dan sesudahnya, perempuan menjadi topik yang paling hangat. Sebagai bahan diskusi pada berbagai forum, tokoh utama dalam film yang bertema kehebatan perempuan, headline news di berbagai media, atau pun dirayakan dengan peragaan busana tradisional khusus untuk perempuan-perempuan kecil yang masih berseragam rok merah.

Hal itu dikarenakan 21 April merupakan hari lahir salah satu pahlawan perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini. Bagi saya sendiri, Kartini merupakan perempuan pertama yang saya tahu menjadi pahlawan Indonesia selain Continue reading Mendengar Nama Kartini