Mulut Bullshit

1

Aku selalu memikirkan tentang sakit hati dan tangisan setiap kali tahun berganti. Aku selalu membayangkan kejadian apa yang akan terjadi. Apa yang akan membuat sakit hatiku. Hingga apa yang membuatku menangis.

Samar dalam ingatanku dalam sebuah film pendek berepisode, sang pemeran pria berkata, “Hubungan dua orang itu ngga gampang.”Aku percaya itu, tidak hanya melihat orang tuaku atau pasangan-pasangan lain di sekitarku. Aku pun merasakannya sendiri. Continue reading Mulut Bullshit

Advertisements

Ku Hanya Lelah

Kuhanya lelah membodohkan diri dengan memberikan ilusi pada diriku sendiri

sekalipun telah ku tahu kau tak akan hadir

aku masih berharap kau kan hadir

tetapi pesan darimu

yang sejak tadi kuharap muncul

sekalipun ku tahu tak akan ada karena kau masih menjadi fakir kuota

ternyata hadir

ilusiku yang jadi nyata dalam harap cemasku

aku lelah

dan aku hanya merindukanmu

Ia Ingin

Ia ingin menjadi gadis pemalu agresif yang mengatakan pada dunia bahwa ia menunggu sekalipun ia tahu kekasihnya tak akan tahu karena kekasihnya adalah fakir kuota dan dirinya sendiri adalah si fakit pulsa.

Tetapi ia menikmati menunggu itu ditengah kegelisahannya akan batrei laptop yang bisa saja bocor dan rumah yang bisa saja kebanjiran, apalagi dengan hujan yang kini berhenti namun bisa saja menjadi deras kembali.

Ia ingin pulang tetapi di satu sisi ingin menunggu dan berharap bahwa ia akan datang, sekalipun ia tahu kekasihnya tak akan datang. Oh, ia tahu para paman-paman di sana telah resah melihat ekspresi wajahnya.

Ah, ia ingin menjadi gadis polos yang mengatakan pada dunia bahwa ia sedang galau karena merindu yang teramat dekat. Karena ia belum biasa dengan kebiasaan baru ini. Mengapa hatinya lagi-lagi tak mau bekerja sama dengan logika, mengapa ia tak mau mengerti bahwa kekasihnya tahu bahwa ia adalah yang terpenting baginya dan ia tahu dirinya adalah yang terpenting bagi kekasihnya. Seperti yang dipikir Raia tentang River, yang dipikir Raia tapi tetap saja ia sama gundahnya seperti aku sekarang ini.

Kenapa pula kopi ini terasa seperti saus bolognese yang ia lupa bagaimana penulisannya.

Menunggumu

waiting-in-the-rain

Ku ingin mengutuk padamnya listrik

Mematikan lampu melemahkan jaringan

Tak mampu kusentuh dirimu yang tak terlalu jauh

Tak mampu kudengar suaramu

Kau fakir kuota dan aku fakir pulsa

Kurasa telingaku bermasalah

Begitu kuraih jaringan malah kau tak yang mendapatkannya

Kukira kau akan ke sini dan memintaku menunggumu

Paman Muda pemilik kafe kembali bertanya akan kehadiranmu

Wajah kusutku membuatnya mempertanyakan kualitas wifi kafenya

Sedang aku mempertanyakan keberadaanmu

Kemana kiranya engkau

Sekarang hujan dan aku baru ingat rumah yang kutinggalkan bisa saja tergenang air

Aku terjebak di sini bersama hujan dan suara Aril

Yang mempertanyakan

Berapa lama aku harus menunggumu?

Dan hujan kembali deras

Dan aku tak tahu engkau di mana

Atau aku tahu, tapi berpura-pura tak tahu.

Resah

resah

Aku memilih mati dibanding harus merasakan perasaan macam ini

Resah yang tak jelas

Kekanak-kanakan dan aku benci itu

Aku benci menjadi sesuatu yang kurasa bukan aku

Aku benci menjadi manja seperti ini

Ingin diperhatikan setiap saat namun disatu sisi merasa itu berlebihan

Ah, aku memang gadis mengerikan

Aku tidak ingin kehilangan

Aku takut bahwa dugaanku kembali salah

Aku takut jika bukan dia

Karena kurasa

Aku melihat aku yang tak ada pada diriku

Ada dalam dirinya