Maybe I’m here, but maybe I’m somewhere else right now.

The true is you don’t even know that is totally really true.

 

Advertisements

Jawaban Tak Utuh

Satu pertanyaan yang jawabannya akan selalu kulanjutkan hanya di dalam kepalaku, percakapan yang seharusnya didengarkan oleh si penanya tetapi hanya aku dan Allah yang tahu.

Are you OK?”

Aku menoleh dan hanya tersenyum simpul, menatap seakan berpikir sejenak sebelum menjawab. “Yup, I’m fine,” kemudian aku akan menyambung kalimat tersebut di dalam hati sembari tetap menatap di kedua matamu.

Aku baik-baik saja, baik-baik saja dengan kehidupan sementara di Bumi ini yang membuatku menangis tiada henti seakan Allah sengaja mengatur semesta untuk memporak-porandakan semua hal yang ada di sekitarku, juga diriku. Aku baik-baik saja sebab ada banyak yang lebih tidak baik dibanding diriku, dan yang jauh lebih penting ini hanyalah sementara.

Kau mengangguk, melanjutkan melakukan hal lain sambil sesekali melempar pertanyaan lain kepadaku. Tentu saja kujawab dengan tidak sepotong-potong, hanya jangan tanyakan apakah aku baik-baik saja.

Sebab, kau tidak akan mendapatkan jawaban yang utuh dariku.

Saat Sekarang

1503150142804

“Kau lebih suka memandang matahari?”

Ia melirikku, sudut bibirnya tertarik seakan pertanyaanku hal tertolol yang pernah ia dengar, kemudiaan kedua matanya kembali menatap ke arah matahari yang baru saja hadir dan bergerak dengan malas-malasan. Aku menatapnya yang sedang menatap matahari seakan benda itu tak akan ada  lagi disana keesokan harinya, seakan ia  tak pernah melihat benda itu sebelumnya.

“Aku lebih suka kau berhenti memandangku.” Ia menghidu aroma cokelat dalam mug yang digenggamya, “pipiku  jadi hangat.”

Ia  meminum cokelatnya, menghindar menatap kedua mataku, sialnya jantungku tetap tak berhenti berlari maraton hanya karena senyumannya. Dua kali sial karena cahaya matahari yang bergerak malas-malasan itu menyentuh permukaan kulitnya yang belum tersentuh apapun itu yang selalu ia gunakan pada wajahnya sehingga aku lebih suka berkawan  dengan macet  saat akan menjemputnya setiap kali kami akan pergi. Wajahnya terlihat lembut, sial, aku tak tahu kenapa harus menggunakan kata lembut untuk mendeskripsikannya.

“Kau tidak berniat mengotori bantal itu,  kan? Aku kasihan kau akan membuat orang berdosa karena menggerutuimu.” Ia menyeringai dan baru ketika kedua matanya beralih dari menatapku, cokelat dalam mugku nyaris mewarnai bantal putih yang sejak  tadi kupangku. Aku memperbaiki posisi dudukku dan bersandar, ini memalukan, tetapi jantungku nyatanya lemah dengan tawanya bersama sinar matahari yang menyentuh kulitnya.

“Kau tahu apa yang aku sukai?” tanyaku. Iris cokelatnya terlihat jelas akibat  sinar matahari, menoleh sejenak ke kanan sebelum kembali memandangku dan menggeleng.

“Apa?”

“Sekarang.”

“Sekarang?”

Aku mengangguk. Kupikir mengatakannya akan membuatku sedikit lebih membaik, sialnya, senyuman  itu semakin lebar. Senyum malu-malu yang diterpa cahaya matahari yang entah malas entah malu untuk bergerak naik dan harus kuakui, aku menyukai saat sekarang ini.

TAMAT

Terinspirasi dari foto teman saya  @holynaldy, dimana teman saya, Ramadhan dan Naya,  yang menjadi modelnya. iye, ini alay.

butuh waktu

kenapa aku harus memuja langit?

aku ingin memuja bumi saja

bumi bisa kupijaki

langit tidak

keyboard sialan

ia biarkan aku  mengumpat tentangnya

atau ia hanya ingin aku untuk belajar lebih memahaminya saja?

hah! lihat berapa kali aku harus mengulang?

tetapi, tunggu.

kurasa aku mulai mengerti

hanya butuh waktu

9 Hirup Napas

Hirup pertama, mungkin kau baru saja menoleh

Hirup kedua, kau baru saja meraih ponselmu

Hirup ketiga, kau memperhatikan namaku di layar ponselmu

Hirup keempat, kau tersenyum menyadari itu adalah  aku

Hirup kelima, kau segera menggeser jemarimu

Berkata halo kepadaku

Namun hingga hirup kesembilan

Perempaun cerewet diseberang  sana yang menjawab

nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini, silahkan tinggalkan pesan suara dengan mengetik bintang nomor tujuan, biaya  tiga ratus tiga  puluh rupiah per menit.

Setiap sembilan hirup napasku, selalu, selalu.

Kuhapal tanpa kuminta.

***

mengetik pake keyboard eksternal Ya  Allah sabarkan aing:”)) hahaha (ceritanya  sedang mengetes-ngetes tapii mennghabiskan  kesabaran ummm)

 

 

 

 

it’s not about the afraid about being alone

it’s about how i need you

but baby you forget something

i am already alone before you come

go!

go if that’s what you really want

the only reason i am still holding your hand is…

…not because i am afraid to be lonely

it because i love you, that’s why i need you

but baby if you want to go

then, just go.

inspired by Martin Garrix x Dua Lipa song Scared To Be Lonely