Cermin

Mengapa kau tak lagi hadir di dalam mimpiku?

Tanyamu,

di dalam harapku.

 

Advertisements

Lagi

trying to hold

Aku kembali bermimpi tentangmu

Setelah sekian lama

Mimpi ini terasa seperti di dunia nyata

Saat aku meminta bantuanmu

Kata kenapa tidak terucap darimu

Kau menyimpulkan

Tanpa bertanya ada apa padaku

Mungkin mimpi ini ingin aku segera sadar

Bahwa kau memang begitu

 

Bukan Kalian

Girl

It’s never about you

Boy

It’s not even about you

Don’t act like my whole world only think about how cruel you are

About how hurt I am

Cause I am done with it

If I say about something that close to our problem

It’s not because of you

Just the Universe make me see everything that happened to me in clearly way

To make me feel better

So I can share that there’s way to feel better

Not to make you feel not better

Well

Only if you feel not better

As you think about me who didn’t understand what actually happened behind me

You don’t know me, either

Pintu

Processed with VSCO with b1 preset

Aku takut untuk mengetuk

Kau mungkin sedang asik sendiri di dalam sana

Mungkin juga bersama seseorang dalam khayalanmu

Seperti aku yang berdiri di luar sini dan mengkhayalkanmu

Aku takut mengetuk dan kau malah membukanya

Sebab kau membuka hanya untuk memastikan

Menatapku sebelum kembali menutup pintumu dengan jengkel

Jadi aku hanya di sini, berdiam diri

Tetapi, apakah ini benar-benar pintumu atau ini adalah pintuku?

Bagaimana kalau sebenarnya ini adalah milikku dan kau sedang menunggu di luar sana

atau ini hanya khayalku

sebab aku memang berdiri di luar sini dan menunggumu.

 

Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi Review

Saya selalu suka membaca puisi, saking indahnya membuat saya terkadang melupakan apa arti sebenarnya dari puisi tersebut. Rangkaian kata indahnya menghipnotis saya untuk terus membacanya, membayangkan hangat yang kadang saya rasakan menjadi sensasi tersendiri saat membaca sebuah puisi.

Seseorang yang memiliki nama belakang sama dengan saya, M. Aan Mansyur, membuat saya betah berlama-lama membaca puisi-puisinya. Saya akan memilih tempat yang hening dan damai untuk membaca rangkaian kata yang diucapkannya pada siapa pun, berbeda dengan novel yang dengan begitu mudahnya akan saya baca, kapan saja dan dimana saja.

Namun puisi kali ini berubah menjadi wujud yang lain, setahun yang lalu saya begitu ingin menangisi kecerdasan saya yang tidak menabung dan membiarkan buku-buku apalagi yang baru hadir begitu saja tanpa saya beli.

Aan Mansyur begitu pandai merangkai puisi, lebih hebat lagi dalam membuat novel yang membuat saya seakan-akan didongengi, itulah yang saya rasakan saat membaca Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi karya yang ia terbitkan setahun yang lalu.

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi membuat saya bertanya-tanya akan nyata dan tidak nyata, saya seakan-akan melihat bagian kehidupan dari seorang Aan Mansyur, namun membaca kisah seorang tokoh fiksi dalam waktu bersamaan.

Saya mendapati diri saya setuju dengan hampir semua pemikiran Jiwa, tokoh dalam Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, sejak awal bab. Ketika ia mengatakan bahwa, “Semua orang pernah disakiti, dan salah satu kebahagiaan langka dalam hidup ini adalah melihat orang yang menyakiti kita menyadari kesalahannya.”

Kalimat itu seperti memberitahu kita bahwa kau bisa melakukan pembalasan dendam yang manis tanpa harus melakukan pembalasan dendam itu sendiri.

Mungkin kalian akan bosan membaca tulisan saya ini, sungguh, saya pun bingung ingin menuliskan apalagi. Apa yang saya sukai dari Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi adalah saya seakan mampu untuk melihat dan merasakan apa yang dilihat dan dirasakan oleh Jiwa, Aan Mansyur mampu untuk melakukan hal-hal seperti itu.

Oh, seorang teman saya bertanya apa maksud dari Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi. Saya bisa simpulkan, Bung, ini tentang Lelaki yang berkawan dengan sepi dan ingin membahagiakan kesedihan dalam dirinya, itu sebabnya ia menjadi lelaki terakhir yang menangis di bumi.

Catatan-catatan kaki dari Nanti membuat saya merasa seakan-akan Nanti berada di sebelah saya, mengatakan langsung pemikirannya tentang apa yang Jiwa tuliskan. Saya merasa miris dan entah apa namanya, tetapi mengetahui bahwa Jiwa telah meninggal dan apa yang akan terjadi andai ia masih bernapas, membuat saya menyadari bahwa kita memang hanya bisa berencana.

Dan, tidak, saya tidak segera berlari meraih ponsel saya dan menghubungi dia.

Dan lagi, saya membaca novel ini sambil mendengarkan Home to You yang dinyanyikan oleh Maudy Ayunda, mendengarkannya sambil membaca novel ini memang akan membuat kalian semakin rindu. Lagu tentang rindu dan novel tentang kenangan.

Selamat menikmati Sabtu yang basah!

(ditulis nyaris satu tahun yang lalu, saya sedang mencoba merapikan folder dan menemukan tulisan ini. Saya ingat, buku dan lagu dalam tulisan ini punya cerita yang tak bisa saya pisahkan dari kamu. jika saja kamu iseng lagi membuka blog saya atau folder-folder di laptop saya dan membaca tulisan-tulisan lama saya, percaya sama saya, itu adalah saya yang dulu. itu adalah salah satu  proses saya menjadi saya yang sekarang, proses sebelum saya  dipantaskan semesta untuk menemui kamu. bayangkan andai otak saya masih dangkal namun merasa paling  benar, kamu mungkin tidak akan mau melirik saya, pun sebaliknya. anggap saja ini catatan-catatan kecil saya untuk kamu, jika kamu menyadari dia diatas adalah dari masa lalu. tetapi, siapa saya berharap kamu akan membaca ini)

Kata Tak Terdengar

“Sebentar lagi bintang akan muncul.”

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, aku mengerti apa maksudnya. Tetapi aku tidak berani mengatakan yang sedang bergejolak di dada dan kepalaku, yang ingin segera lolos secara bersamaan dari mata dan bibirku.

Jadi, aku hanya tertawa dan menatap kedua matanya. Sekilas saja. Karena sekilas saja telah sanggup menarik pasokan oksigen yang aku butuhkan, yang tak pernah tak kunikmati.

“Tentu saja Continue reading Kata Tak Terdengar