Nafi

aku tidak menginginkan kenangan yang dulu

aku menginginkan kita berdua membuat lebih banyak lagi kenangan

aku tidak rindu kau yang dulu

juga hal-hal yang dulu kita lakukan

aku rindu kau sekarang

aku ingin mengobrolkan segala hal bersamamu

entah kecil entah besar

aku tidak mau kau pergi

jantan lah!

tepati segala janjimu

terinspirasi dari lagu Fiersa Besari berjudul Nadir

Is It Still?

i remember our so early morning

it still warm as that time

it still makes my heart dancing

but baby

is it still the same you?

the girl you have tell a lie

***

h a h a. ini ngga tahu kenapa pengen aja sok-sokan bikin poem pakai bing. dan hari ini ngepost dua kali krna kemarin ku sudah terlalu lelah dan pengen aja rajin-rajin nulis. padahal ada yang harus ditulis tapi ngga ditulis-tulis haha:(

Bohong

Kali ini tak kulihat sinar di kedua matamu. Ia hanya dalam dan tak sadar. Misterius dan mencekam. Tak lagi magis yang menyenangkan, tidak lagi mengundangku untuk menyelam dengan perasaan yang menyenangkan.

Kedua matamu kini bagai palung laut.

“Kau berbohong.”

Kau benar, jawaban itu lebih dari cukup untuk membuatku tak berani  mendekatimu. Apalagi menyentuhmu.

 

Seringai

tumblr_m4p37thrzZ1r9ol4o

(pic via tumblr)

Jika bisa kubahasakan dan kubukukan, akan coba kupahami bahasa yang diujarkan kedua matamu melalui tatapan itu. Tatapanmu pada langit luas yang seakan tak memiliki batas bersentuhan dengan lautan. Tatapanmu setiap kali kedua sudut bibirmu tersenyum kecil kepadaku, menatapku bagai benda antah berantah di imajinasimu yang kini hadir tepat dihadapanmu.

Tetapi, aku tak mengerti bahasa yang diucapkan oleh kedua matamu.

Aku pun tak mengerti sirat yang dipancarkan bibirmu yang melengkung dengan dua sudut ke atas itu.

Inginkah kau menuliskannya pada salah satu lembar hari yang kita miliki? Hari ini, jika bisa.

Sekali lagi, kau hanya berbicara dengan kedua matamu. Satu sudut bibirmu jauh lebih tinggi dibanding sudut lainnya. Apa bumbu dari seringai itu yang terasa seperti kegelianmu padaku?

7 Jam Sebelum Kematianku

janeandpaulus

(pic: janepaludanus.tumblr.com)

Kau pasti telah menemukan diriku dalam keadaan tidur lelap, tidur yang tak akan ada bangunnya. Tenanglah, semua ini memang telah ditentukan. Bahkan sebelum Adam dan Hawa turun ke dunia.

Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu. Seperti:

  1. Terima kasih
  2. Aku mencintaimu
  3. Sangat mencintaimu
  4. Kau bebas menonton film-film kesukaanmu tanpa harus terganggu oleh telepon atau pesan-pesanku
  5. Kau bebas pergi atau telponan dua puluh empat jam penuh dengan siapa saja
  6. S I A P A S A J A
  7. Kau tak perlu lagi terpaksa berkata YA pada setiap keinginanku yang seharusnya secara otomatis terjawab TIDAK darimu
  8. Aku mencintaimu
  9. Aku tahu kau tak benar-benar mencintaiku

Jika kau bertanya bagaimana aku bisa tertidur begitu saja padahal sejam sebelumnya teleponku –yang akan kulakukan nanti dan aku sudah memastikan- tetap mengganggumu dan kau tetap mengangkatnya dan aku masih sempat menyelesaikan semangkuk sup yang kusiapkan untuk kalian semua yang saat ini sedang sibuk mengurusi tubuhku yang tak akan berbau busuk karena aku sudah memandikan diriku dengan bunga-bunga serta –akulupa apa namanya saat membeli- yang digunakan untuk memandikan mayat.

Aku sudah buang air besar jadi kupastikan tak akan ada lagi kotoran di dalam tubuhku. Aku juga sudah menentukan kepada siapa saja barang-barangku yang tak bisa kubawa ke alam baka itu berhak.

Kau pasti ingin bertanya mengapa dari semua hanya surat ini yang kuberikan padamu. Kau memiliki sesuatu yang semua orang ingin miliki, sayangku. Surat ini hanya simbolisasi semata. Pun, yang kuberikan padamu sudah kau habiskan.

Waktu.

Waktuku di dunia ini, juga adalah milikmu. Bayangkan, kau memiliki waktu selain milikmu di dunia ini. Tapi, waktuku telah habis. Itu saja. Sampai jumpa.

Yang Mencintaimu

Rindu Yang Manja

“Tapi, kan, kita baru bertemu hari ini,” bibir kecilnya kembali mengerucut, “ini bahkan belum sampai dua belas jam.”

Kedua mata itu memang kejam, ia menggunakannya sebagai jurus pamungkas untuk menenggalamkanku hingga tak mampu kembali kepada daratan sekedar bertegur sejenak bersama oksigen.

“Aku tidak mau pulang.”

Aku juga tak ingin, sayang. “Kita harus pulang, orang tuamu akan cemas.”

Manik mata itu menatapku seakan aku anak kecil yang tak mau mendengar perintah ibunya. “Mereka mengenalmu dan mereka tidak akan khawatir.”

Hendak ku iyakan keinginannya, semuanya. Apapun itu. Tetapi tugas ini memanggil dan aku tak mungkin menggunakan hal ini sebagai alasan ketidak bertanggungjawabanku.

“Aku pulang.”

Dia akan segera berdiri dan berlari menghampiriku, pikirku, sayangnya tidak di penglihatanku. Ia masih di sana, duduk dengan menatap kedua ujung sepatunya. Segera ku langkahkan kedua kakiku kembali padanya, berlari sebelum duduk dengan tenang disampingnya.

“Kau salah jalan.”

Aku tidak mengerti, aku memang harus ke parkiran dulu sebelum menjemput ibuku. “Tempatmu pulang itu,” ia menggenggam tanganku dan mengarahkannya pada bagian yang didalamnya memberi getaran yang sama pada diriku.

“Tadi, kau bilang mau pulang, kan?”

T A M A T

trust me, i am as confused as you

 

Kan Kembali

kan-kembali

“Kau akan pergi lagi.”

Bibirnya mengerucut kecil, memandangku sekilas sebelum mengalihkannya kepada karpet di bawah kakinya. Kurasa itu lebih menarik dibanding menatap kedua mataku, yang selalu ia bilang mampu menenggelamkannya.

Ia sedang tak ingin berenang, apalagi menyelam, kurasa.

“Aku akan kembali, percayalah.” Kugenggam erat kedua tangannya, tersenyum menenangkan meski gemuruh di balik tulang-tulangku tak berhenti bertalu. Tak semudah yang terlihat untuk mampu melawannya.

Kau pikir aku tenang begitu saja meninggalkan bidadari ini selama beberapa bulan, sekalipun ini untuk kepentingan negara, walau kami akan bertemu lagi?

Ia kembali mengalihkan pandangannya begitu ku tangkap kedua matanya menciptakan sendiri samuderanya, tempat paling indah dan terdamai untuk tenggelam. Kusentuh kedua matanya, menghilangkan lautan tersebut sebelum jatuh berjatuhan menjadi butiran kristal.

“Kemanapun aku pergi, percayalah, aku akan selalu kembali padamu. Kau adalah rumahku.”

Ia menatapku, ia menatapku dan kini aku tenggelam. Kedua kakiku dan seluruh tubuhku bahkan otakku dengan nakalnya tak ingin kemana-mana, ingin disini saja. Tetapi, aku harus pergi.

“Aku akan kembali, pulang kepadamu. Selalu.”

T A M A T

yesterday was my birthday i just want to start the day and going to sleep with mine but the provider just being so annoying and i can’t asking for more so yeah here i am writing this rather than reading for my essai. but well, its good to writing again even these days i am just writing some poem in my notes. well, maybe he would not read this sooner but i miss him, yeah.