Ketika Saya Tidak Bisa Tidur

Saya sudah menonton My Mister hingga episode… 7? 8? Haha, tiba-tiba saja saya lupa dan tidak berniat untuk mencari tahu, saya akan ingat begitu melihat adegan pertama episode yang saya tonton. Sekarang pukul 23:42 WITA atau 11:42 PM dan saya tidak bisa tidur, mungkin karena kopi yang saya minum sore ini, mungkin karena saya sangat ingin menulis sesuatu atau bercerita sesuatu atau mengatakan sesuatu dan saya perlu menunggu kuota malam saya, saya tidak yakin ada manusia yang akan dengan sepenuh hati mendengarkan saya pada dini hari selain orang tua, itupun mereka mungkin akan mengira saya mengigau, kelelahan, atau stres karena hanya berada di rumah dan tidak kemana-mana.

Saya menikmati waktu saya membersihkan, memasak, belajar, bermain bersama keponakan saya –yang sedihnya sudah kembali ke makassar tadi pagi- yang sangat berisik, menonton, atau membaca. Tetapi, hari ini saya merasa aneh. Mungkin, karena saya telah menjadwalkan bahwa saya tidak boleh menonton drama secara berlebihan sebab saya takut laptop saya akan kelelahan tetapi pagi tadi saya malas melanjutkan bacaan saya dan lebih memilih menonton drama. My Mister atau My Ahjussi hingga episode ini memperlihatkan saya sesuatu yang berbeda. Rasanya jiwa saya tergelitik dan memikirkan akan bagaimana saya di usia tua seperti kedua orang tua saya nanti?

Apakah saya masih menyusahkan mereka dengan tidak tahu malu sebab merasa hanya saya yang menjadi tanggungan mereka dan bukan orang lain? Bagaimana saya akan tua nanti? Bagaimana saya dalam pekerjaan dan pertemanan saya? Apakah saya akan menikah? Jika iya apakah saya akan selingkuh atau pasangan saya yang akan selingkuh? Jika tidak apakah saya akan mendapatkan cap perawan tua atau perempuan yang sudah bermain dengan banyak laki-laki?

Saya tidak tahu, saya belum melewatinya.

Tetapi dari semua itu, apakah saya akan bahagia? Ya. Ya. Ya.

Bahagia.

Bersyukur saja dan semua akan baik-baik saja, tetapi, apakah semudah itu? Apakah semudah itu untuk bahagia di antara semua kekacauan di dunia ini yang tanpa kita sadari juga mempengaruhi hidup kita?

Sekarang sudah menit ke 54, enam menit lagi menuju tanggal enam dan Only Hope yang dinyanyikan Mandy Moore masih mengalun menemani saya. Jika saya tidur dan terbangun pukul tiga pagi tentu saja hal itu akan sangat menyenangkan. Waktu teristimewa sekalipun setiap saat saya selalu didengarkan, dari keluh kesah hingga sumpah serapah saya. Tentu, mulut saya akan dijewer atau ditampar jika orang lain yang mendengarkan. Tetapi, tidak ada manusia yang mendengarkan dan itu membuat saya takut akan hukuman apa yang akan saya dapatkan.

dan tulisan ini di-posting pukul 4:03 WITA atau AM, sembari mendengarkan Grown Up dari Sondia yang merupakan OST My Mister.

Advertisements

Sebuah Tanggapan dari Pembaca yang Tidak Mengetahui Apa-Apa: Ketika Pulang, Laut Bercerita

Seberapa dalam saya bisa menjelaskan segala hal yang saya rasakan yang bercampur baur ketika membaca Pulang dan Laut bercerita karya Leila S. Chudori? Mereka sama-sama menggambarkan kondisi betapa sulitnya perjuangan yang dilakukan para pemuda dahulu, “hanya” untuk berdisuksi dan berdebat mengenai ideologi atau sekedar buku di masa Orde Baru. Sementara kini semua kebebasan itu bisa saya dapatkan, mulai dari membaca buku hingga kebebesan semua mulut manusia untuk mengungkapkan isi pemikiran mereka kepada siapa saja dan merasa hal tersebut adalah hal benar dan tepat.

Saya tidak tahu harus memulai dari mana, bahwa hal-hal yang mereka perjuangkan teraih sekaligus tidak teraih, tetapi saya tahu bahwa tidak seharusnya ada darah dalam perjuangan tersebut. Tidak harus ada pergi yang tidak kembali pulang dan cerita yang hanya bisa disampaikan oleh alam. Pulang dengan Dimas Suryo, anaknya Lintang Utara, serta Segara Alam yang mencuri hati dan segala konflik batin dan rezim yang merasa benar tanpa mengetahui benar tidaknya segala hal yang mereka kira. Laut Bercerita oleh Biru Laut kemudian berpindah kepada adiknya Asmara Jati, betapa sebuah keinginan bernama perubahan bisa dilakukan siapa saja dan betapa tanpa kita sadari pengkhianat yang sebenarnya tidak akan menampakkan diri sebagai pengkhianat.

Pulang dan Laut Bercerita memberikan gambaran betapa kesabaran Ibu dalam mendidik anak dan keahliannya di dapur menjadi kasih sayang yang membentuk anak-anaknya. Dimas Suryo dan Biru Laut adalah dua laki-laki yang pandai di dapur, sama-sama menggeluti dunia Sastra –satu di UI dan satu lagi di UGM-, dan juga begitu mencintai dan menghargai perempuan di sekitarnya, baik ibu, saudara, maupun kekasih mereka.

Saya merasa kerdil kepada tokoh-tokoh dalam Pulang dan Laut Bercerita yang peka dan merasakan keresahan dan menyerap semua yang ada dan mampu menentukan di mana mereka ingin berada. Sementara saya dengan kondisi yang jauh lebih canggih daripada mereka hanya mampu asal bicara.

Banyak kalimat yang menyentil dari tokoh-tokoh dalam kedua novel tersebut, tetapi Kasih Kinanti dengan tepat menggambarkan kondisi sekarang ini dimana “Kamu harus bisa membedakan mana yang bermulut besar, omong besar, dan mereka yang memang serius ingin memperbaiki negeri ini.” Continue reading Sebuah Tanggapan dari Pembaca yang Tidak Mengetahui Apa-Apa: Ketika Pulang, Laut Bercerita

Jauh

seharusnya ini saya tuliskan di dalam hati dan kepala saya saja, tuliskan di kertas acak atau di memo atau menceritakannya dalam ingatan teman saya melalui mata dan telinga mereka. tetapi tidak, saya tidak melakukan itu. saya butuh sesuatu yang lain.

bagaimana seharusnya kita mendefinisikan jauh?

jauh…

jauh.

seberapa jauh sebenarnya jauh itu? Continue reading Jauh

Sebuah Tanggapan dari Pembaca Yang Tidak Mengetahui Apa-Apa: Yang Fana Adalah Waktu

Yang Fana Adalah Waktu

Sapardi Djoko Damono

 

Merupakan novel ketiga sekaligus terakhir pada Trilogi Hujan Bulan Juni, merupakan bagian terakhir dari babak penyatuan cinta antara Sarwono dan Pingkan. Saya seharusnya kembali membaca Hujan Bulan Juni, kembali mengingat apa-apa saja yang mengawali kisah-kasih antara dua orang yang begitu menyatu tersebut. Pingkan Melipat Jarak yang saat saya baca dahulu membuat saya perlu meloncat-loncat pada dimensi berbeda, membuat saya menyelam hingga begitu dalam pada pemikiran setiap tokoh hingga tidak mengerti lagi cara untuk kembali pada permukaan; cicak, dinding, jarum jam.

And I’m thingking ‘bout how people

Fall in love with mysterious way

Maybe just the touch of hand

Well, me, I fall in love with you every single day

Adalah kutipan dari Thinking Out Loud, lagu ke 11 pada album X milik Ed Sheeran yang dikutip oleh Eyang Sapardi sebelum mulai mengisahkan Sarwono dan Pingkan di dalam Yang Fana Adalah Waktu. Ketika melihat kutipan tersebut, saya merasa terkejut. Sementara seharusnya tidak sebab sudah seringkali penulis mengutip lagu, puisi, dan kalimat orang-orang besar ke dalam novel mereka. Mungkin saja, saya menganggap Thinking Out Loud tidak berada pada dimensi yang sama dengan Sarwono dan Pingkan. Seperti dua hal yang berbeda dimensi yang disatukan yang dengan anehnya menyatu dan membuatnya terasa normal dan bukannya sebuah anomali.

Yang Fana Adalah Waktu yang terdiri kurang lebih 140 halaman menjadikan saya semakin menyelami intisari –hah?- jiwa dari Pingkan dan Sarwono. Kadang-kadang saya merasa mereka berdua adalah satu yang tidak berbeda. Berbeda ketika saya menyelam dalam Pingkan Melipat Jarak, Yang Fana Adalah Waktu membuat saya masuk dari keadaan nyata menuju jiwa yang diselimuti oleh kulit dan ditopang oleh tulang dan otot. Saya merasa jelas melihat yang nyata dan menyelami bagaimana nyata melihat segala yang tidak nyata menjadi nyata. Sarwono mampu melakukannya. Mampu membawa kedalam wilayah yang tepi nyata dan tidak nyata menjadi begitu tipis dan kabur, tetapi Pingkan tetap ada di sana untuk memperlihatkanmu.

Ketika mereka melompat dari satu awan ke awan yang lain, saya pada akhirnya bahagia dan menikmati Thinking Out Loud sebagai penutup yang pas yang sesuai dengan cerita ini. Babak selanjutnya yang terjadi pada mereka biarlah mereka yang mengalami, bagi Pingkan ia bisa menentukan dimana Babak ceritanya bersama Sarwono selesai dan begitu seterusnya dan terjadi selamanya. Betapa tabahnya hujan pada bulan Juni yang hadir menemani saya membaca kisah yang dibawakan oleh Eyang Sapardi sebagai dalang dan Ed Sheeran dengan suaranya yang merdu mengirinya. Saya membaca sekaligus mendengarkan dan saya mendengarkan sekaligus membaca.

*mohon maaf apabila saya tidak mencantumkan foto dan keterangan lain mengenai buku ini, silahkan anda cari. saya mungkin akan mulai belajar menuliskan tanggapan saya, apabila saya tidak terlalu sibuk dan malas disaat yang bersamaan*

Aku Mau

tightrope

Well, it’s all an adventure
That comes with a breathtaking view
Walking the tightrope
…with you.
Michelle Williams – Tightrope
Aku merasa ini waktunya
Tepat ketika aku menyadari bahwa kau memegang tanganku
Mulutmu tidak mengeluarkan busa
Busa hadir dan menghilang begitu saja
Mulutmu dan dirimu tidak begitu
Aku mau
Kulihat kau tidak peduli manusia lain
Kau tidak juga pura-pura tidak peduli
Pura-pura sementara nyatanya kau hanya ingin terlihat keren
Aku mau
Semesta memang menuliskan diriku dan dirimu
Jika diujung sana ada jurang
Aku percaya kau akan memegangku
Sebab, aku juga akan memegang tanganmu
Aku mau
terinspirasi dari Tightrope
oleh Michelle Williams

Pintu

Processed with VSCO with b1 preset

Aku takut untuk mengetuk

Kau mungkin sedang asik sendiri di dalam sana

Mungkin juga bersama seseorang dalam khayalanmu

Seperti aku yang berdiri di luar sini dan mengkhayalkanmu

Aku takut mengetuk dan kau malah membukanya

Sebab kau membuka hanya untuk memastikan

Menatapku sebelum kembali menutup pintumu dengan jengkel

Jadi aku hanya di sini, berdiam diri

Tetapi, apakah ini benar-benar pintumu atau ini adalah pintuku?

Bagaimana kalau sebenarnya ini adalah milikku dan kau sedang menunggu di luar sana

atau ini hanya khayalku

sebab aku memang berdiri di luar sini dan menunggumu.