Saat Sekarang

1503150142804

“Kau lebih suka memandang matahari?”

Ia melirikku, sudut bibirnya tertarik seakan pertanyaanku hal tertolol yang pernah ia dengar, kemudiaan kedua matanya kembali menatap ke arah matahari yang baru saja hadir dan bergerak dengan malas-malasan. Aku menatapnya yang sedang menatap matahari seakan benda itu tak akan ada  lagi disana keesokan harinya, seakan ia  tak pernah melihat benda itu sebelumnya.

“Aku lebih suka kau berhenti memandangku.” Ia menghidu aroma cokelat dalam mug yang digenggamya, “pipiku  jadi hangat.”

Ia  meminum cokelatnya, menghindar menatap kedua mataku, sialnya jantungku tetap tak berhenti berlari maraton hanya karena senyumannya. Dua kali sial karena cahaya matahari yang bergerak malas-malasan itu menyentuh permukaan kulitnya yang belum tersentuh apapun itu yang selalu ia gunakan pada wajahnya sehingga aku lebih suka berkawan  dengan macet  saat akan menjemputnya setiap kali kami akan pergi. Wajahnya terlihat lembut, sial, aku tak tahu kenapa harus menggunakan kata lembut untuk mendeskripsikannya.

“Kau tidak berniat mengotori bantal itu,  kan? Aku kasihan kau akan membuat orang berdosa karena menggerutuimu.” Ia menyeringai dan baru ketika kedua matanya beralih dari menatapku, cokelat dalam mugku nyaris mewarnai bantal putih yang sejak  tadi kupangku. Aku memperbaiki posisi dudukku dan bersandar, ini memalukan, tetapi jantungku nyatanya lemah dengan tawanya bersama sinar matahari yang menyentuh kulitnya.

“Kau tahu apa yang aku sukai?” tanyaku. Iris cokelatnya terlihat jelas akibat  sinar matahari, menoleh sejenak ke kanan sebelum kembali memandangku dan menggeleng.

“Apa?”

“Sekarang.”

“Sekarang?”

Aku mengangguk. Kupikir mengatakannya akan membuatku sedikit lebih membaik, sialnya, senyuman  itu semakin lebar. Senyum malu-malu yang diterpa cahaya matahari yang entah malas entah malu untuk bergerak naik dan harus kuakui, aku menyukai saat sekarang ini.

TAMAT

Terinspirasi dari foto teman saya  @holynaldy, dimana teman saya, Ramadhan dan Naya,  yang menjadi modelnya. iye, ini alay.

Advertisements

Akhirnya Pergi

pada akhirnya kamu memilih pergi

tanpa menjanjikan akan pulang

dan aku tidak akan menangis

mungkin  akan

tetapi akan kucari cara agar bukan pergimu penyebabnya

seperti  sore ini

setelah tiga belas alasan akhirnya wanita itu memilih pergi

beda denganmu dia tak akan pernah kembali

dalam serial itu orang-orang yang menyayanginya merasa hilang

merasa hampa

aku tidak akan mengatakan aku hampa

pada akhirnya kamu pergi

dan tidak menjanjikan pulang

dan aku berterima kasih untuk itu

jangan beri aku janji

berikan kepada-Nya saja

minta aku  kepada-Nya

seperti aku selalu meminta dirimu.

Is It Still?

i remember our so early morning

it still warm as that time

it still makes my heart dancing

but baby

is it still the same you?

the girl you have tell a lie

***

h a h a. ini ngga tahu kenapa pengen aja sok-sokan bikin poem pakai bing. dan hari ini ngepost dua kali krna kemarin ku sudah terlalu lelah dan pengen aja rajin-rajin nulis. padahal ada yang harus ditulis tapi ngga ditulis-tulis haha:(

Bohong

Kali ini tak kulihat sinar di kedua matamu. Ia hanya dalam dan tak sadar. Misterius dan mencekam. Tak lagi magis yang menyenangkan, tidak lagi mengundangku untuk menyelam dengan perasaan yang menyenangkan.

Kedua matamu kini bagai palung laut.

“Kau berbohong.”

Kau benar, jawaban itu lebih dari cukup untuk membuatku tak berani  mendekatimu. Apalagi menyentuhmu.

 

7 Jam Sebelum Kematianku

janeandpaulus

(pic: janepaludanus.tumblr.com)

Kau pasti telah menemukan diriku dalam keadaan tidur lelap, tidur yang tak akan ada bangunnya. Tenanglah, semua ini memang telah ditentukan. Bahkan sebelum Adam dan Hawa turun ke dunia.

Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu. Seperti:

  1. Terima kasih
  2. Aku mencintaimu
  3. Sangat mencintaimu
  4. Kau bebas menonton film-film kesukaanmu tanpa harus terganggu oleh telepon atau pesan-pesanku
  5. Kau bebas pergi atau telponan dua puluh empat jam penuh dengan siapa saja
  6. S I A P A S A J A
  7. Kau tak perlu lagi terpaksa berkata YA pada setiap keinginanku yang seharusnya secara otomatis terjawab TIDAK darimu
  8. Aku mencintaimu
  9. Aku tahu kau tak benar-benar mencintaiku

Jika kau bertanya bagaimana aku bisa tertidur begitu saja padahal sejam sebelumnya teleponku –yang akan kulakukan nanti dan aku sudah memastikan- tetap mengganggumu dan kau tetap mengangkatnya dan aku masih sempat menyelesaikan semangkuk sup yang kusiapkan untuk kalian semua yang saat ini sedang sibuk mengurusi tubuhku yang tak akan berbau busuk karena aku sudah memandikan diriku dengan bunga-bunga serta –akulupa apa namanya saat membeli- yang digunakan untuk memandikan mayat.

Aku sudah buang air besar jadi kupastikan tak akan ada lagi kotoran di dalam tubuhku. Aku juga sudah menentukan kepada siapa saja barang-barangku yang tak bisa kubawa ke alam baka itu berhak.

Kau pasti ingin bertanya mengapa dari semua hanya surat ini yang kuberikan padamu. Kau memiliki sesuatu yang semua orang ingin miliki, sayangku. Surat ini hanya simbolisasi semata. Pun, yang kuberikan padamu sudah kau habiskan.

Waktu.

Waktuku di dunia ini, juga adalah milikmu. Bayangkan, kau memiliki waktu selain milikmu di dunia ini. Tapi, waktuku telah habis. Itu saja. Sampai jumpa.

Yang Mencintaimu

Seperti Keran Air

Amazing-Arctic-Bathroom-Wastafel-Bathtub-Design-05

“Kau terlalu berlebihan, apa masalahmu besarnya?”

Kau.

Tentu saja, tak kubiarkan kedua belah bibirku terbuka hanya untuk menjawabnya. Kutuliskan judul-judul buku yang akan kukembalikan, tersenyum pada penjaga perpus dan berlalu menuju rak-rak buku. Meminjam lagi.

Manusia itu masih mengikuti, aku memeluk tiga buah buku dan ia berdiri menghalangiku. Aku memilih berbalik dan berjalan melalui arah lain, masih ada buku yang ingin ku cari. Sengaja kuambil banyak, agar satu hariku bisa kuhabiskan secara lebih baik untuk memikirkan hal-hal lain. Seperti apa yang terjadi andai saja Nyai Manggis tidak mati meninggalkan Sungu Lembu, andai yang aneh memang.

Tetapi akan lebih aneh jika aku harus berandai mengenai manusia tadi berbicara kepadaku, oh, masih sampai sekarang.

“Aku seperti Casper yang transparan, kau mungkin lebih tertarik andai Casper benar-benar ada.”

Aku bahkan lebih tertarik dengan ketiadaan daripada keberadaan yang ada dirimu.

Hanya melangkah menuju tempat peminjaman, lalu setelah itu aku bisa pulang dan tak perlu menggunakan waktuku dimana ada dia bersamanya.

“Kau tahu kan, aku. . .”

Telingaku menjadi awas seketika, tetapi aku tetap berjalan dan memberikan senyum kepada penjaga perpustakaan. Aku tahu ia kali ini tak akan berani berbicara, sementara penjaga perpustakaan memasang telinga dan mencuri lihat kepadaku dan dirinya.

Kenapa? Tak berani bicara, kan?

Ternyata tidak sulit. Ini lebih baik dibanding harus kudengar segala dusta darinya. Aku terselamatkan dari kebodohan dan dia terselamatkan dari dosa berkat dustanya.

Aku melangkah meninggalkannya, sialnya, ini tetap menyakitkan ternyata.

Air mataku mengalir begitu saja seperti keran air yang tetap mengeluarkan air meski sudah ditutup.

 

Pendampingmu Kelak

tumblr_ntygbxbnmp1s3pnu1o9_540

Aku ingat nyaris tiga bulan yang lalu

Kau mengatakan padaku

Betapa kau adalah lelaki paling bahagia

Karena memilikiku

Yang tak pernah berubah

Kau selalu takut aku akan lepas dari pelukmu

Sayangku

Sore ini kau mengaminkan yang selalu ada dalam doaku

Bahwa aku menjadi calon pendampingmu

Walau kau tak melihatnya

Semesta melihatnya sayangku

Senyumku kala kau mengamini

Walau kau tak mendengarnya

Semesta mendengarnya sayangku

Detik sebelum kau mengaminkannya

Telah aku aminkan perkataanmu

Bahwa aku adalah calon pendampingmu

Pendamping, Istrimu kelak